NTT “Nasib” Tak Tentu

NTT “Nasib” Tak Tentu

NIAT Vicktor Bungtilu Laiskodat atau VBL menjadi salah satu menteri Presiden Jokowi – Ma’aruf Amin gagal karena gejolak politik nasional. Sudah dipastikan bahwa rencana Partai Nasdem yang seharusnya menempatkan VBL sebagai Menteri Kehutanan digagalkan partai lain. Itu sebabnya VBL kembali ke Kupang pada 21 Oktober 2019 setelah negosiasi tak membuahkan hasil.
Awalnya VBL menggebu-gebu, hati riang ria bakal menjadi menteri, namun kandas tatkala negosiasi politik dengan partai lain gagal.
Itu sebabnya, kita bernasib tak tentu. Kelas seperti VBL yang sudah malang melintang di perpolitikan nasional digagalkan menjadi menteri. Tuhan belum kabulkan doa VBL dan partainya ‘memperjuangkan’ salah satu kadernya yang kebetulan berasal dari NTT menjadi menteri.
Senin 21 Oktober 2019, VBL sudah kembali ke Kupang. Kita orang NTT mengharapkan VBL tidak lagi berbagi cinta, Jakarta dan NTT. Saatnya VBL fokus membangun NTT agar stigma NTT disebut dengan nasib tak tentu lenyap dari pikiran manusia Indonesia. Sudah setahun bersama Jos Nae Soi menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur, tetapi NTT masih begitubegitu saja. Semula menggebugebu, tetapi kini meredup.
Apakah memasuki tahun kedua ini, taglain yang sudah tersebar luas terus menggebu atau meredup? Kita menanti setelah kedatangan kedua VBL pada Seni 21 Oktober 2019 yang kembali disambut oleh kerabat di Bandara El Tari tidak sekadar seremonial semu tetapi haris dijadikan cambuk yang mengamuk untuk seorang VBL mengunjuk gigi taringnya. Ini tantangan bagi VBL agar semua janji dilunasi menuju NTT sejahtera.
Masih ada hari untuk Viktor dan Jos Nae Soi mengimbarkan bendera setinggi-tingginya, sehingga semua orang NTT menyaksikan bendera berlogo Viktor Laiskodat dan Jos Nae Soi. Sedemikian banyak tantangan yang harus dilawan oleh seorang Viktor Laiskodat, sehingga tidak dicap seorang Viktor Laiskodat yang berasal dari Suku Helong Pulau Semau hanya membangun Semau. Saat ini lebih dari 6 LSM berkarya mengambdi di Pulau Semau, sekarang pula di bulan Oktober 2019 ada festival budaya. Ini karena ada orang semau yang sangat berpengaruh yaitu VBL.
VBL ditantang, apakah setelah 21 Oktober 2019 akan kibarkan semangat membangun NTT atau hanya membangun Semau? Kita bersama menanti dan melihat kiprahnya. Gebrakan awal seorang VBL sudah terbaca dimana sejumlah koleganya ditempatkan disejumlah perusahaan daerah walau SDM orang yang VBL tempatinya tidak sesuai kemampuan dan disiplin ilmu. Juga halnya di birokrasi VBL menempatkan sejumlah ‘orangnya’. Saya belum mau sebut di sini karena VBL masih punya banyak waktu, empat tahun. Sebab memasuki tahun ketiga, seperti biasa pejabat kurang focus di program tetapi lebih fokus bagimana supaya menjadi gubernur lagi di periode berikut.
Setahun sudah terlihat apa yang sudah diperbuat VBL dan Jos Nae Saoi. Kasus Komodo gagal total, VBL tidak mampu melawan kebijakan yang lebih di atas. Program merelokasi warga Komodo pun gagal total, persoalan sampah di kota Kupang juga gagal total. VBL sempat ‘rau’ sampah dengan tangan sendiri di samping Makorem Kupang, dan berjanji akan ambil alih kelolah sampah jika Walikota Kupang tak mampu kelolah sampah. Semua tak terwujud. Ini sebuah catatan kepemimpinannya sampai 21 Oktober 2019.
Kita tahu bahwa NTT pernah terpilih sebagai propinsi pertama di Indonesia yang menjadi percontohan upaya penurunan tingkat pengangguran terbuka di Indonesia pada bulan Mei 2019 oleh Indonesia Development Forum atau IDF.
Sudahkan ada tinjaklanjut?
IDF merupakan konferensi internasional yang diselenggarakan oleh Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas) dengan dukungan pemerintah Australia melalui Knowledge Sector Initiative (KSI). NTT dipilih dalam proyek ini karena berhasil menurunkan tingkat pengangguran terbuka secara konsisten sepanjang tahun 2017 hingga 2018.
Bagaimana ke depan, VBL menyikapi pembangunan sektor unggulan seperti pertanian, infrastruktur dan sumber daya manusia?VBL dan Jos Nae Soi saatnya serius perbaiki iklim investasi untuk penciptaan lapangan kerja, Mengembangkan usaha mikro, kecil dan menengah yang berdaya saing globa, membina para pelaku usaha sosial,mengembangkan telenta dan pasar lokal. NTT masih bergejolak dengan istilah nasib tidak tentu, karena pengambil kebijak di daerah ini, masih belum fokus. ♦

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.