“O,,, Bank NTT”

“O,,, Bank NTT”

BANK NTT, milik rakyat NTT sedang menanti pimpinan baru, direktur utama dan direktur umum. Empat nama hasil RUPS luar biasa sudah di kirim ke Otoritas Jasa Keuangan atau OJK, yaitu Bily Tjoanda, Izakh Eduard untuk Direktur Utama. Tjoanda adalah salah satu direksi Bank Artha Graha, sedangkan Izakh Eduard dari Bank NTT. Calon Direktur Umum adalah Lazarus Orapau yang kini menjabat Kepala Divisi Umum sudah lebih dari lima tahun dan Renald Kandijo juga dari Bank Artha Graha.
Yang kita kritisi mengapa keempat calon Dirut dan Dirum harus dua orang dari Bank NTT itu sendiri dan dua lainnya dari Bank Artha Graha? Apa dan siapa itu Bank Artha Graha? Bank ini merupakan hasil merger antara Bank Interpacific dan Bank Artha Graha pada 2005. Bank Interpacific adalah bank yang berdiri pada 1973, awalnya adalah Lembaga Keuangan Bukan Bank yang digagas oleh beberapa bank dalam dan luar negeri. Pada 1990 dilakukan IPO dan berubah menjadi Bank Interpacific. 8 tahun kemudian berstatus Tbk. 1999 pembatalan pencatatan saham di Bursa Efek Surabaya. Dan pada 2005, bank ini merger bersama Bank Artha Graha yang telah berdiri pada 1967.
Siapa pemilik Bank Artha Graha? Dari Google di peroleh penjelasan, pemilik Bank Artha Graha adalaTomy Winata yang dikenal dengan nama  inisial TW, adalah seorang pengusaha Indonesia yang merupakan pemilik Grup Artha Graha atau Artha Graha Network termasuk di dalamnya Bank Artah Graha. Bank Artha Graha sudah berkelas nasional bahkan internasional dengan asset ratusan triliunan rupiah. Vicktor Bung Tilu Laiskodat sejak lama bergabung di grup perusahaan milik TW ini.
Perlu dipahami, ketika seorang VBL nama inisial dari Vicktor Bung Tilu Laiskodat ikut campur langsung menata manajemen Bank NTT sangatla pas. Tujuannya adalah agar Bank NTT lebih maju, lebih untung dalam operasional. Sindiran VBL terhadap manajemen Bank NTT yang tidak maju-maju merupakan alasan dan kekuatiran seorang Gubernur selaku pemegang saham utama.
Dalam sebuah dialog kecil dengan saya, sasaran Gubernur VBL bahwa tahun 2019 ini, Bank NTT harus maraup laba Rp 500 miliar.
VBL juga menghendaki mulai dari Komisaris sampai ke pegawai biasa jangan boros. Selama ini, katanya VBL dari Komisaris sampai ke level bawa, gajinya besar-besar. Ini, pemborosan sehingga harus efsien disesuai dengan kinerja dan kondisi keuangan bank. Orang yang mengelolah Bank NTT harus berpikir maju, harus maraup laba yang besar. Jangan sekadar kas daerah, karena mulai dari Pemda Propinsi dan Kabupaten wajib hukumnya simpan uang di Bank NTT.
Dengan demikian rakyat NTT harus ikut membesarkan Bank NTT dengan cara mendukung visi dan misi VBL agar Bank NTT bangkit dan bisa mensejahterakan rakyat NTT melalui bergai produk yang produktif. Kita mengharapkan gebrakan VBL seluruh komisaris dan sampai dengan kantor cabang di daerah bisa lebih maju. Untuk kelas NTT, Bank Artha Graha hanya memilik satu kantor dibandang Bank NTT yang memiliki lebih dari 300 kantor cabang di daerah dengan aseet yang baru mencapai 12 atau 13 triliun, sedangkan Bank Artha Graha meiliki asset di atas 25 triliun.
Pengamat perbankan mendukung langkah VBL melakukan perombakan majajemen dan para komisaris di tubuh Bank NTT.
Diharapkan komisaris harus berimbang dengan kemampuan dan professional orang dalam. Jika Direktur Utamanya dari Bank Artha Graha, diharapkan Direktur Umumnya dari dalam Bank NTT itu sendiri, sehingga terjadi perimbangan, kinerjanya tidak terganggu. Semoga. ♦

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.