Tentang objek wisata Flores yang memikat hati

Tentang objek wisata Flores yang memikat hati

♦ “Supaya Kita Orang Jangan Hanya Menganga”

Flores, termasuk Ngada, telah menjadi salah satu destinasi pariwisata favorit meski awalnya memang lebih banyak turis datang ke Labuan Bajo karena ada ikon berupa buaya purba; komodo. Dalam perkembangan, kita melihat demam wisata melata di sepanjang punggung Pulau Ular ini. Pulau Ular atau Nusa Nipa adalah nama kuno Flores-sebelum orang-orang Portugis memberi nama Flores. Keindahan lanskap pengunungan dan pantai, keceriaan manusia, budaya megalitikum yang hidup, seni musik dan tradisi, serta sikap terbuka telah membuat Flores menjadi bukan lagi sekadar Eastern From Bali tetapi Another World From Bali. Pada akhirnya kita harus mengakui bahwa Flores, termasuk Ngada, adalah dunia yang sama sekali lain dari Bali. Menyongsong senja di Bajawa saat kabut turun dengan berat uap air, Anda mungkin akan merasa berada di dunia mistis, seperti dalam film Into The Wild atau Lord Of The Rings. Flores, dunia lain itu, sekarang menjadi mimpi para turis pembelajar dan turis instagram.
Yang pertama, turis pembelajar berfokus pada kegiatan jalan-jalan sambil belajar budaya, merintis bisnis atau sekadar memperkaya pengetahuan untuk tujuan yang macam-macam. Yang kedua, turis instagram adalah para pemburu lanskap unik yang kemudian bisa dipublikasi dan demi menabiskan diri sebagai traveller sejati. Jalan-jalan tanpa eksis di beranda instagram adalah kefanaan. Tetapi, pada akhirnya, titik pokok persoalan bukan di situ. Persoalannya adalah apakah perkembangan pariwisata yang pesat di Flores, dan Ngada khususnya, telah membawa manfaat bagi masyarakat kebanyakan?.
Jangan-jangan orang kecil cuma menganga lihat dorang datang dengan celana umpan, nginap di hotel mahal. Lalu masuk ke kampung adat. Sementara, kita hanya bisa menari mirip orang gila yang menyambut dewa dhoro degha (dewa turun bermain). Intinya adalah timbulnya gagasan mengenai konsep turisme yang mampu membawa untung bagi para penghuni kampung adat, pemilik bukit-bukit dan pantai indah, hingga penenun dan masyarakat bawah. Untuk tiba pada konsep itu, kuncinya terletak pada pariwisata berbasis komunitas (PBK).
PBK berpusat pada tiga hal yakni; sumber daya, aktor, dan partisipasi. Mengembangkan pariwisata masal seperti Bali tidak terlalu cocok untuk Flores, dan Ngada khususnya. Pariwisata masal menciptakan tekanan penggunaan sumber daya yang sangat besar. Jenis Pariwisata ini membutuhkan ruang, tanah, air dalam jumlah banyak.
Sudah boros sumber daya, keuntungan justru tergenang dalam kantong pengusaha besar, efek tetes ke bawah-ke kantong masyarakat akar rumput-nyaris nihil.
Protes terhadap pembentukan Badan Otoritas Pariwisata (BOP) Labuan Bajo, adalah bukti nyata bagaimana efek ekonomi pariwisata justru direngkuh oleh masyarakat lokal dalam porsi yang amat terbatas dan secara terbalik menggelembung di kantong kapitalis besar. Selain itu, perkembangan pariwisata massal di Labuan Bajo, telah menciptakan masalah lingkungan seperti sampah, masalah tanah, dan perebutan ruang publik. Kisruh Pantai Pede adalah contohnya. Lebih buruk dari itu tekanan juga akhirnya dialami komodo yang menjadi ikonnya. Sungguh absurd. Sebaliknya, melalui PBK manfaat kegiatan pariwisata dapat langsung diterima masyarakat lokal. Dalam PBK, sumber daya adalah apa yang ada di sekitar komunitas tinggal.
Komunitas itu bisa kampung, desa, atau bahkan rukun tetangga. Bentuknya bisa berupa budaya, cara bertani, pesta adat, lanskap alam, kampung atau tradisi tertentu. Intinya, semua hal yang ada di tempat itu dan mampu diolah menjadi atraksi pariwisata. Aktornya adalah masyarakat setempat. Mereka berpartisipasi dalam mengelola kegiatan pariwisata, sarana pendukung seperti penginapan, rumah makan, dan transportasi seputar tempat wisata. PBK tidak tumbuh sendiri, tetapi didesain dan dikembangkan secara terencana.
Untuk memberikan keuntungan yang lebih merata, PBK harus dikembangkan dalam sebuah kluster kegiatan yang melibatkan beberapa komunitas dalam satu lokasi. Masing-masing komunitas memiliki penawaran bentuk kegiatan pariwisata yang berbeda supaya tidak saling bersaing tetapi justru saling melengkapi, juga pada akhirnya tidak membosankan dan dapat memperpanjang masa kunjungan wisatawan. Sebagai contoh, berkat dana desa, saat ini desa-desa di sekitar Borobudur berhasil mengembangkan kegiatan turisme yang beragam. Masing-masing desa memiliki atraksi berbeda. Misalnya, ada yang membangun taman mobil antik, mempertahankan pemandangan sawah, hingga ada yang berfokus pada kuliner atau madu.
Berbagai kegiatan ini dihubungkan dalam satu jaringan moda transportasi mobil VW kodok. Sebelum atau sesudah mengunjungi candi Borobudur, para wisatawan kemudian berkunjung ke desa-desa yang ada dan diantar dengan mobil VW kodok.

Bagaimana Ngada atau NTT?
Sampai sekarang atraksi seperti pemandian air panas Soa tidak memiliki mata rantai dengan atraksi obyek lain. Habis berendam, orang makan, berendam lagi dan terus pulang. Padahal wisata air panas bisa digabung dengan wisata berkuda atau naik oto terbuka menyelusuri padang, sawah, situs purbakala atau spot foto di sekitar Soa.
Selain itu, PBK memang membutuhkan regulasi yang membatasi zona tertentu dari pendirian dan operasi hotel besar. Asumsi dasarnya, kalau mau uang bisa jatuh ke kantong masyarakat, wisatawan harus sedapat mungkin tinggal dan menginap di rumah-rumah masyarakat. Sehingga, pada akhirnya, yang dibutuhkan bukan pembangunan hotel besar, tetapi justru melatih warga menyiapkan penginapan yang ramah, bersih, sehat dan aman.
Dengan cara ini, pariwisata benar-benar memiliki efek menetes bagi warga kampung dan masyarakat di sekitar obyek pariwisata. Bukan pemodal besar dari kota yang jauh.
Jangan sampai kita orang hanya menganga lihat turis berdatangan, lalu cuma dapat sampah. Salam hangat. ♦ rnoldus Wea/co-founder gerakan DHEGHA NUA

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.