Pasien Gangguan Jiwa di RSJ Naimata Lukis Wajah Gubernur dan Wakil Gubernur NTT

Pasien Gangguan Jiwa di RSJ Naimata Lukis Wajah Gubernur dan Wakil Gubernur NTT

Stefanus Tahu, salah satu pasien Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Naimata melukis wajah Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi NTT, Viktor B. Laiskodat dan Josef Nae Soi. Lukisan itu diperlihatkan kepada media ini, Senin 4 Maret 2019 di sela-sela kegiatan rehabilitas mental di rumah sakit tersebut.
Bagi Stefanus, Viktor B. Laiskodat dan Josef Nae Soi merupakan sosok yang luar biasa, sehingga dirinya mengabadikan wajah keduanya dalam lukisannya. “Saya aktif melukis dari tahun 2000. Sudah ratusan lukisan yang saya lukis. Saya sakit juga tetap lukis. Saya merasa senang karena di sini (RSJ Naimata), bakat saya bisa tersalurkan. Saya tanpa bantuan rumah sakit memang saya tidak bisa menyalurkan bakat. Rumah sakit menyediakan kanvas, cat, dan sebagainya. Saya di rumah hanya duduk-duduk sa,” ungkap Stefanus yang menderita Psikosis Akut ini.
Bersama pihak RS Jiwa Naimata, lukisan-lukisan tersebut rencananya akan dijual. Hasil jualan lukisan tersebut akan dimanfaatkan untuk menompang ekonomi keluarga Stefanus. “Saya berharap pemerintah memperhatikan kami yang di rumah sakit ini dengan memberikan bantuan seperti kanvas, cat, dan sebagainya untuk kembangkan potensi kami,” ungkapnya.
Di rehabilitas mental tersebut, selain Stefanus, ada juga Sadiah Handayani, penderita bipolar yang mahir merangkai bunga flanel. “Kebetulan saya bisa membuat bunga flanel. Jadi dengan cara ini saya mencoba untuk bangkit dari keterpurukan saya sebagai orang dengan ganguan mental. Hasil kerajinan tangan saya sudah pernah saya jual ke Ikatan Bidan NTT juga untuk Poltekkes. Lumayan untuk membantu kebutuhan di rumah,” katanya.
Selain mahir merangkai bunga, Handayani juga mampu membuat Puding Art untuk hadiah-hadiah pada saat acara ulang tahun, pernikahan, dan sebagainya.
Senada dengan Stefanus, Ia merasa sangat bersyukur sebab RS Jiwa Naimata menyediakan wadah bagi penderita gangguan jiwa untuk mengembangkan bakat dan potensi mereka.
“Ini merupakan pengalaman pertama saya. Kesannya, saya kasih bintang 5 untuk RS Jiwa Naimata. Dengan kegiatan ini, saya harapkan agar pasien-pasien yang sudah mulai normal dapat diberdayakan,” tutur Handayani. “Saya juga harapkan agar pemerintah, misalnya oleh dinas sosial terus memperhatikan ODGJ yang ada di luar sana yang masih berada di jalan-jalan. Sehingga mereka tidak mengganggu atau diganggu juga oleh masyarakat, karena mereka juga punya potensi, hanya mereka dalam kondisi sakit,” lanjutnya.

Rehabilitasi Mental di RS Jiwa Naimata
Terpisah, Direktur RS Jiwa Naimata, dr. Dickson A. Legoh, SpKJ menuturkan bahwa pasien ODGJ yang sudah sangat stabil biasanya dilatih untuk mengembangkan bakat dan potensi yang mereka miliki. Pelatihan dan pegembangan potensi tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan rasa percaya diri para pasien.
“Di samping itu hasil karya mereka dapat dijual sehingga membantu keuangan mereka. Dengan begitu ada reward positif untuk mereka, mereka lebih rajin lagi untuk berobat,” terang dr. Dickson.
Ia menjelaskan bahwa sebenarnya RSJ Naimata memiliki ruangan khusus untuk melatih pasien-pasien yang sudah stabil, namun masih dalam tahap pembenahan. Pihaknya juga ingin membuka koperasi agar hasil karya para pasien dapat dipasarkan di koperasi tersebut.
Terlepas dari itu, dr. Dickson berharap agar perhatian terhadap RSJ Naimata lebih ditingkatkan, baik itu soal fasilitas maupun soal kelembagaan.
“Untuk rumah sakit ini, mungkin kita harus bekerja keras, termasuk soal kelembagaannya juga karena kelembagaan kita masih diurus. Kalau kelembagaan sudah, mungkin dibantu juga untuk fasilitas dan kerja sama dengan BPJS,” katanya.
Diterangkan olehnya bahwa hingga saat ini RSJ Naimata masih kekurangan 2 tenaga dokter. Saat ini, pihaknya dalam proses merekrut dokter untuk mengisi kekurangan tersebut.
Sementara itu, Imakulata Bete, koordinator rehabilitasi mental di RS Jiwa Naimata menuturkan bahwa sebelum kegiatan rehabilitasi mental dilakukan, pihaknya terlebih dahulu mencari tahu bakat atau potensi yang dimiliki pasien. Bakat dan potensi ini yang akan dikembangkan oleh RS melalui sejumlah kegiatan.
“Dari hasil identifikasi, kita temukan ada yang suka melukis, merangkai bunga, menenun, dan sebagainya. Kemudian kita mengadakan bahan, seperti cat, kanvas, kain, dan sebagainya untuk mendukung mereka,” katanya. “Untuk sementara ini kita menggunakan uang dari saku sendiri,” katanya ketika disinggung soal pembiayaan bahan-bahan rehabilitasi mental tersebut.
Imakulata juga menjelaskan bahwa dengan cara seperti ini, pihaknya berupaya untuk membantu pemulihan pasien, meningkatkan rasa percaya diri mereka, mengurangi stigma di masyarakat dan juga mengurangi beban keluarga. Hasil kreasi para pasien akan dijual, sehingga diharapkan dapat membantu kondisi keuangan pasien. Dengan begitu, pasien juga memiliki sumber penghasilannya tersendiri.
“Kita berharap pemerintah melihat ODGJ sebagai masalah yang urgen, karena masih banyak pasien yang berkeliaran di jalan. Kami percaya bahwa mereka juga punya bakat dan potensi yang dapat diberdayakan. Ketika mereka sudah diatur dengan baik, kebutuhan mereka untuk rehabilitasi mental dipenuhi, maka mereka akan semakin sehat,” jelasnya.
Adriana, salah satu tenaga kesehatan di RSJ Naimata berharap agar kegiatan rehabilitasi mental ini lebih dikembangkan lagi. “Mungkin akan lebih bagus kalau ada tenaga khusus yang direkrut oleh RS Jiwa Naimata untuk melatih pasien. Atau bisa juga pegawai di sini yang dilatih agar mempunyai skill khusus demi melatih pasien mengembangkan diri. Karena memang ada banyak hal yang dapat dilakukan melalui rehabilitasi mental, misalnya pertukangan, pertanian, menenun, melukis, dan sebagainya,” tutur Adriana.
Adrian mengaku bahwa memang hingga saat ini ada perhatian dari pemerintah, melalui Dinas Kesehatan Provinsi terhadap RS Jiwa Naimata, namun masih sangat terbatas. Untuk itu, pihaknya mengharapkan agar perhatian ini terus ditingkatkan dari waktu ke waktu. “Ini adalah rumah sakit jiwa satu-satunya di NTT, sehingga pasien tentunya datang dengan harapan yang besar,” katanya. ‚ô¶¬†medikastar.com

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.