Pemkab Segera Relokasi Mata Air Lela Gunakan Dana Tanggap Darurat

Pemkab Segera Relokasi Mata Air Lela Gunakan Dana Tanggap Darurat

BUPATI Rote Ndao, Paulina Haning Bullu, SE Wakil Bupati Rote Ndao Stefanus Saek, SE, M.Si Sekertaris Daerah Kabupaten Rote Ndao, Drs. Jonas M. Selly, MM dan Asisten administrasi pemerintahan umum sekretariat daerah kabupaten Rote Ndao, Ir. Untung Harjito, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana daerah (BPBD) Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT), Deskiel Haning dan sejumlah kepala OPD terkait.
Selasa, 24 Juli 2020 meninjau mata air lela di Dusun Poamata Desa Lidabesi kecamatan Rote Tengah.
Kunjungan tersebut untuk melihat langsung akibat dari bencana banjir yang menimpa wilayah itu, awal Maret 2020, yang mengakibatkan lahan sawah milik 24 warga Pesawah rusak dan gagal panen.
Bupati Rote Ndao Paulina Haning Bullu dalam kesempatan itu berdialog dengan 24 pesawah itu mengatakan Pemerintah Kabupaten akan segera mengelar Rapat untuk menggunakan dana tangap darurat demi membantu masyarakat, namun tentunya melalui mekanisme sesuai hitungan teknis dari Bencana Alam kerusakan infrastruktur mencapai Rp. 65 Juta.
Dalam kesempatan itu pula, Bupati dan wakil Bupati memberikan bingkisan sembako kepada 24 pesawah sebagai bentuk kepedulian pemerintah untuk meringankan beban akibat gagal panen.
Ketua kelompok persawahan Lualela Polce Pello mengatakan, terdapat 24 bidang sawah yang tertimbul material yang dibawa banjir bulan maret 2020 lalu.
Dari 24 bidang sawah itu, kondisi terparah pada dua bidang. Dua bidang sawah itu, tidak bisa mengandalkan tenaga manusia untuk memindahkan timbunan lumpur yang sudah membukit di dalam sawah.
Sawah tersebut milik 24 warga yang berdomisili di Desa Lidamanu, Desa Lidabesi dan Desa Maubesi.
Camat Rote Tengah Marthen Muskanan mengatakan pemerintah kecamatan atas nama masyarakat mengucapkan terima kasih kepada Bupati dan wakil Bupati yang turun langsung memantau kondisi masyarakat yang ditimpa bencana hendaknya dengan bantuan normalisasi oleh dinas teknis masyarakat akan kembali bertani.
Sebelumnya di beritakan EXPO NTT, Tertimbun lumpur, 6 hektare Sawah Lualela Terancam Gagal Panen.
Hujan dengan intensitas cukup tinggi yang mengguyur Kabupaten Rote Ndao dalam dua hari berturut-turut, Kamis dan Jumat 5-6 Maret 2020, mengakibatkan rusaknya beberapa infrastruktur. Kerusakan terparah terjadi di kompleks persawahan Lualela, di desa Lidamanu Kecamatan Rote Tengah.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Rote Ndao, Diksel Haning, mengatakan hal tersebut saat dikonfirmasi media di Kantornya, Senin 9 Maret 2020.
Dikatakanya, selain Kecamatan Rote Tengah, Kecamatan Lobalain, dan Rote Barat Daya juga terdampak. Sementara Kecamatan lainnya belum dilaporkan terkait kerusakan yang dialami.
“Ya, kami telah meninjau lokasi Lualela setelah mendapat informasi dari warga. Kondisinya cukup parah dibanding tempat lain. Kecamatan lain belum ada laporan kerusakan”, jawab Diksel.
Hal senada diungkapkan Camat Rote Tengah, Marthen Muskanan yang dikonfirmasi secara terpisah pertelepon. Diakuinya, terdapat kerusakan pada saluran irigasi, bahkan lahan sawah tertimbun material yang dibawa banjir.
“Ada saluran irigasi yang patah. Sekitar puluhan meter. Sawah juga tertimbun material berupa lumpur, batu dan kayu, sehingga terancam gagal panel”, demikian Marthen di balik telepon.
Menanggapi kerusakan yang berdampak pada hasil produksi, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Rote Ndao, Salmun Haning, mengatakan, pihaknya siap mengganti kerugian dengan cara mengembalikan bibit yang telah digunakan. Bibit itu kata dia, akan diserahkan langsung kepada pemilik sawah yang terdampak.
“Kami akan mengganti bibit padi yang telah digunakan petani. Luas lahan sawah yang terdampak adalah 6 hektare”, demikian Salmun melalui pesan Whatsapp.
Sementara itu, ketua kelompok persawahan Lualela Polce Pello mengatakan, terdapat 24 bidang sawah yang tertimbul material yang dibawa banjir. Dari 24 bidang sawah itu, kondisi terparah pada dua bidang. Dua bidang sawah itu kata dia, (Polce) tidak bisa mengandalkan tenaga manusia untuk memindahkan timbunan lumpur yang sudah membukit di dalam sawah.
“Sebanyak 24 bidang sawah yang rusak akibat tertutup lumpur, kayu juga batu. Paling parah 2 bidang yang dimiliki oleh Ranoh A. Tulle dan Jekriel Sinlae”, kata Polce Pello yang dikonfirmasi awak media pertelepon
Sedangkan 22 pemilik sawah lainnya adalah Adihan Tallo, Rehin Ledoh, Debi Polin, Robert Makandolu, Robinson Toelle, Jostaf Kiuk, Timotius Helianak, Deni O. Pello, Polce Pello, Victor Fangidae, Jelpianus Pello, Fredik Muskanan, Rinto Amalo, Esau Amalo, Jeskial Tulle, Mesak Fangidae, Oktofianus Fangidae, Joni Dellu, Melfen Mata’u, Yolan Tulle dan Yosi Dethan.
Pesawah tersebut tersebar di tiga desa, yaitu, Desa Lidamanu, Desa Lidabesi dan Desa Maubesi. Dan total kerugian yang dialami oleh pesawah/petani adalah kurang lebih belasan ton padi, jika dihitung berdasarkan hasil produksi rata-rata lada lahan seluas 6 hektare.
Dan untuk melihat lebih dekat kerusakan akibat gerusan air hujan yang terjadi beberapa waktu lalu, Senin 9 Maret 2020 Bupati Rote Ndao, Paulina Haning-Bullu telah meninjau beberapa titik terdampak kerusakan. Diantaranya, ruas jalan di Dusun Baubafan, Desa Lidabesi Kecamatan Rote Tengah dan Desa Oematamboli di Kecamatan Lobalain. Di Baubafan, ditemukan kondisi jalan yang sudah terputus, sehingga menurut Bupati yang didampingi Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Dominggus Modok mengatakan akan ditanggulangi melalui dana tanggap darurat.
Untuk diketahui, beberapa sarana infrastruktur lainnya yang juga mengalami kerusakan adalah Jembatan Lela di Desa Lidamanu Kecamatan Rote Tengah, ruas jalan usaha tani, di dusun Tuanatuk, Desa Tuanatuk Kecamatan Lobalain dan Tembok Penahan Tanah (TPT) di dusun Lidamanu, desa Lentera Kecamatan Rote Barat Daya. ♦ ADVETORIAL KERJASAMA PEMKAB ROTE NDAO DAN EXPO NTT

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.