Polres Rote Ndao Ungkap Kasus Pembunuhan Marince Ndun

Polres Rote Ndao Ungkap Kasus Pembunuhan Marince Ndun

DALAM waktu kurang lebih 42 hari setelah kematian Marince Ndun (49), jajaran Polres Rote Ndao berhasil mengungkap kasus pembunuhan berencana terhadap warga Dusun Faisue, Desa Oebela, Kecamatan Rote Barat Laut (RBL) tersebut.
Kapolres Rote Ndao AKBP Bambang Hari Wibowo kepada wartawan dalam Press Release di Mapolres setempat, Senin 8 Oktober 2019 petang, menjelaskan, berdasarkan olah tempat kejadian perkara (TKP), penyelidikan, dan keterangan sejumlah saksi dalam pemeriksaan, penyidik telah menemukan cukup bukti bahwa tiga orang tersangka, yakni EL (55), BH (53), dan MLA (55), merupakan pihak-pihak yang bertanggung jawab terhadap kematian korban Marince Ndun.
Menurut Bambang, berdasarakan informasi dan petunjuk yang diperoleh dalam proses penyelidikan, penembakan terhadap korban didahului dengan perencanaan yang matang oleh para tersangka dan hal tersebut terkonfirmasi dengan pengakuan para tersangka saat menjalani pemeriksaan.
Motif dari pembunuhan tersebut, kata Kapolres Bambang, adalah cinta lama bersemi kembali (CLBK), di mana tersangka BH dan MLA merupakan pasangan kekasih yang tidak jadi menikah puluhan tahun silam, ingin merajut kembali kisah cinta mereka. Agar hubungan mereka bisa berjalan lancar sesuai rencana, maka BH dan MLA akhirnya menggunakan jasa EL (eksekutor) selaku pembunuh bayaran untuk menghabisi korban Marince Ndun dengan imbalan Rp 18 juta. Kronologis singkatnya, terang Kapolres, Pada 20 Agustus sekitar pukul 15.00 Wita, MLA bertemu BH di rumah milik saksi SA di Desa Oebela dan menyuruh BH menelepon EL untuk melaksanakan rencana penembakan tersebut. Sekitar pukul 17.00 Wita, BH menelepon EL yang baru pulang menyadap nira (iris tuak), dan EL mengatakan akan atur waktu malam itu untuk beraksi. Kemudian, sekitar pukul 20.30 Wita EL menelepon BH menyampaikan bahwa misi sudah selesai dilaksanakan dan korban sudah meninggal.

Hukuman Maksimal
Dijelaskan Bambang, terhadap perbuatan tiga tersangka tersebut, penyidik menerapkan pasal berlapis, yakni primair Pasal 340 KUHP terkait pembunuhan berencana, subsidair Pasal 338 KUHP, lebih subsidair Pasal 354 Ayat (2) KUHP, juncto Pasal 55 Ayat (1) ke-1 dan ke-2 KUHP dengan ancaman hukuman pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama 20 tahun penjara. Sementara barang bukti (BB) yang disita dalam kasus tersebut, di antaranya satu pucuk senjata api rakitan laras panjang milik eksekutor EL yang diduga digunakan menghabisi korban, satu baju kaos oblong lengan pendek berwarna merah bermotif bunga dan satu celana panjang kain berwarna merah-putih bermotif garis-garis yang terdapat bercak darah milik korban, satu unit hand phone Nokia warna merah model RM-1133 beserta kartu sim Telkomsel, satu unit hand phone Samsung type-J7 beserta kartu sim Telkomsel, satu unit hand phone Nokia Maxtron beserta kartu sim Telkomsel, serta sejumlah barang bukti lainnya. ♦ ido

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.