Posisi PDIP Bagai “Telur Diujung Tanduk”

Posisi PDIP Bagai "Telur Diujung Tanduk"

PENGAMAT politik Lazarus Jehamat memprediksikan hanya empat pasangan calon Gubernur-Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur yang akan berlaga dalam ajang Pilkada 2018, dan posisi politik PDI Perjuangan saat ini bagai “Telur Diujung Tanduk”. “Mencermati fenomena politik yang ada saat ini, saya memprediksi hanya empat pasangan calon Gubernur-Wakil Gubernur NTT yang akan bertarung dalam ajang Pilkada 2018 mendatang,” kata dosen FISIP Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang itu Lazarus ketika dihubungi Antara di Kupang, Senin.
Sampai sejauh ini, sejumlah partai politik telah berhasil membangun koalisi untuk mengusung pasangan calon kepala daerah masing-masing, karena partai politik peserta pilkada yang ada, dinilai Komisi Pemilihan Umum (KPU) NTT tidak memenuhi syarat untuk mengajukan calonnya sendiri. Pasalnya, tidak ada satu pun partai politik yang meraih 13 kursi di DPRD Provinsi Nusa Tenggara Timur untuk mengajukan calonnya sendiri, sebagaimana yang diisyaratkan oleh KPU NTT sebagai penyelenggara Pilkada.
Sejauh ini, baru satu pasangan calon Gubernur-Wakil Gubernur NTT yang mendeklarasikan diri untuk maju dalam ajang Pemilu Gubernur (Pilgub) NTT 2018, yakni pasangan Esthon Foenay-Christian Rotok yang diusung Partai Gerindra dan Partai Amanat Nasional (PAN). Kemungkinan yang akan menyusul adalah pasangan Benny K Harman-Benny Litelnoni yang diusung Partai Demokrat dan Hanura serta pasangan Jacki Uly-Melkianus Lakalena yang diusung Partai NasDem dan Golongan Karya (Golkar).
Sedangkan, posisi politik PDI Perjuangan NTT dalam menghadapi Pilgub 2018 tampak masih adem-adem saja meski partai tersebut sudah menyiapkan sejumlah nama untuk maju sebagai bakal calon gubernur, seperti Kristo Blasin, Raymundus Fernandes, Daniel Tagudedo serta Ny Lucia Adinda Lebu Raya.
Meskipun demikian, PDI Perjuangan juga belum membangun koalisi politik dengan parpol lainnya, seperti Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), PKPI serta PKS untuk melangkah ke jenjang pilkada tersebut. “Apabila PDI Perjuangan tidak sigap melakukan lobi politik dengan partai koalisi maka dikhawatirkan partai yang dipimpin Gubernur NTT Frans Lebu Raya ini akan menjadi penonton dalam perhelatan pilkada NTT tahun 2018,” kata Lazarus.
Ia mengatakan PDI Perjuangan bisa ikut serta dalam Pilkada serentak tahun 2018 jika berhasil membangun koalisi politik dengan PKB, PKPI serta PKS. Lazarus melukiskan posisi politik PDI Perjuangan NTT saat ini seperti “Telur Diujung Tanduk” karena memiliki waktu yang tidak banyak untuk meyakinkan mitra koalisi serta hanya memiliki 10 kursi di DPRD NTT untuk membangun koalisi.
Kemungkinan terbesar yang bisa dilakukan PDI Perjuangan adalah membangun koalisi dengan PKPI dan PKS yang masing-masing memiliki dua kursi di DPRD NTT, sedang PKB yang memiliki lima kursi di DPRD NTT lebih memilih Marianus Sae (Bupati Ngada saat ini) sebagai kandidat Gubernur NTT dalam ajang Pilgub 2018 mendatang.
Lazarus memperkirakan, PDI Perjuangan kemungkinan besar akan mendorong Ny Lucia Adinda Lebu Raya sebagai calon Gubernur NTT dalam ajang Pilgub NTT 2018, meski yang bersangkutan bukan kader partai, tetapi karena faktor kedekatan dengan pemangku kepentingan di tubuh PDI Perjuangan. Ia mengatakan jika Ny Lucia Adinda Lebu Raya yang didorong untuk maju menjadi calon Gubernur NTT menggantikan posisi suaminya Frans Lebu Raya (Gubernur NTT saat ini) maka peluang untuk meraih kemenanganan menjadi sangat kecil. “Kinerja politik Ny Lucia Adinda Lebu Raya belum terlalu nampak di publik di NTT sehingga peluang untuk meraih kemenangan masih sangat jauh, kecuali PDI Perjuangan menjatuhkan pilihan kepada Daniel Tagudedo (mantan Dirut Bank NTT) sebagai kandidat gubernur,” ujarnya. Ia menilai dari sejumlah nama bakal calon gubernur yang disodorkan PDI Perjuangan, posisi Daniel Tagudedo jauh lebih unggul ketimbang Lucia Adinda Lebu Raya, Kristo Blasin maupun Raymundus Fernandes. ♦ antarantt.com

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.