“Proyek Covid-19”

“Proyek Covid-19”

 

BERITA media, televisi, koran dan media sosial tentang Cirus Co rona atau yang sudah sangat popular Covid-19 sungguh tidak menyenangkan hati setiap kita rakyat awam. Saban hari soal virus corona terus bertambah, bertambah dan terus bertambah. Jumlah korban yang posisitif tidak pernah dalam jumlah kecil, tetapi riabuan dan ratusan ribu saban hari.
Rumah-rumah sakit-rumah sakit tak mampu lagi menampung, tempat tidur untuk pasien positif Covid-19 sudah tak tersedia. Berita terkini misalnya, di daerah Tangerang 1000 pasien positif virus corona. Kita yang membaca dan menonton berita seperti jadi ngeri. Lho kapan berakhir virus corona ini. Yang menyerangkan virus. Virus apapun pasti bisa dikalahkan manusia. Sekiranya manusia sadar, tidak bodoh dan bebal pasti virus jahanam ini sudah berlalu, sekiranya manusia yang pintar dan atau cerdas ikuti anjuran pemerintah, agar selalu memakai masker jika berada di tengah orang, jaga jarak, tidak kumpul-kumpul dan selalu cuci tangan dengan sabaun. Saran lain, jaga imunisasi tubuh dengan berolahraga rutin dan konsumsi vitamin C buah-buahan dan lain sebaginya. Sudah jatuh korban, tetapi manusia masih juga bandel.
Di sejumlah tempat, petugas menerapkan sangsi push up, sangsi uang Rp 250.000, dan bahkan sangsi manusia yang tidak menggunakan masker ditaru dalam peti mata. Berita ini tersebar luas lewat berita televisi, media sosial dan berita dari mulut kemulur. Mengapa manusia tidak jerah?
Mengapa manusia awam tidak punya watak ‘kasian’ kepada para petugas medis, polisi maupun TNI yang sudah berkorban.
Konon manusia mati karena takdir. Apa itu takdir? Sekiranya manusia mau berusaha dan mentaati aturan pasti kematian bisa ditunda. Para petugas medis, polisi maupun tentara adalah ciptaan Tuhan, perpanjangan tangan Tuhan. Tetapi dasar manusia berdosa melawan perintah Tuhan. Jika manusia tidak segera sadar, maka sampai dunia ini kiamatpun virus corona akan tetap beredar di planet bumi ini.
Kita membaca berbagai refrensi, manusia modern’ (Homo sapiens) sudah hidup sejak sekitar 200.000 tahun lalu. Nenek moyak manusia, Homo habilis diperkirakan mulai ada pada 2,8 juta tahun yang lalu. Calon nenek moyang manusia mulai ‘terpisah’ dari pohon filogenetik rumpun primata sekitar 3,6 juta tahun yang lalu. Dinosaurus telah ada sejak dahulu kala hingga punah 65 juta tahun yang lalu. Coronavirus telah ada sekitar 80 – 400 juta tahun yang lalu. Mereka sudah ada dari jaman dulu, terus énté tanya sampé kapan coronavirus akan berada di muka bumi? Gile lo ndro, yang bener aje… mereka tetap ada hingga kini sebagai bukti ketangguhan evolusi biologis mereka.
Perlu diluruskan bahwa coronavirus mengacu kepada keluarga besar virus patogen yang gemar menginfeksi sistem pernafasan. Nama Biologinya (nama taksonomi) adalah coronaviridae. Jadi, anggotanya ada banyak. Seperti iklan tango, ada ratusan. Masing-masing dengan karakteristik dan virulensinya masing-masing. Saya percaya aanggotanya ada 200an jenis, walaupun baru beberapa puluh saja yang dapat diidentifikasi. Salah satu dari anggota coronavirus ini adalah yang bikin onar dengan cara menyebarkan penyakit COVID-19 ini.
Pertanyaan yang tepat seharusnya adalah, “Sampai kapankah pandemi COVID-19 ini akan berakhir?”. Menurut definisi WHO, pandemi adalah suatu wabah penyakit yang menyebar lintas regional (meliputi area geografis yang luas). Nah, jadi sampai kapan pandemi COVID-19 ini berakhir? Tidak akan benar-benar berakhir, yang ada adalah berada dalam kondisi terkontrol. Sama seperti cacar yang mewabah pada tahun 400 SM dan juga pada abad 17 – 18 di sebagian besar daratan Eropa, sampai Edward Jenner menemukan vaksin, wabah cacar ini sudah mulai bisa dikendalikan sampai pada tahun 1980 dinyatakan hilang oleh WHO. Faktanya? Masih ada saja yang terkena cacar, walaupun sangat jarang. Ya, anda bisa bayangkan, berapa lama cacar menghantui manusia ketika itu.
Bagaimanapun, saya berkeyakinan bahwa pandemi COVID-19 ini tidak akan berlangsung selama itu, walaupun tetap akan lama juga. Dalam suatu wabah, ada yang namanya fase puncak, sederhananya seperti gambar di bawah. Kadang bisa juga memiliki beberapa puncak.Namun sampai kapan ya, belum juga bisa terjawab termasuk para ahli media di WHO.
Kehadiran Covid-19 juga dijadikan sarana kampanye para calon bupati, walikota maupun gubernur yang saat ini sedang berlangsung di tanah air. Covid-19 sesuai lamaran para ahli nujum akan berakhir Februari atau Maret 2021. Kita berdoa agar ramalan ini menjadi nyata. ♦

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.