Ratna Sarumpaet

Ratna Sarumpaet

NAMA prempuan ini menjadi buah rakyat seantero negeri. Omong nama Sarum Paet bukan karena dia cantik, tetapi karena hati busuk, ucapannya bau dan wajahnya yang buruk. Tetapi yang diperbicangkan buruk RS (Ratna Sarumpaet) sepanjang zaman bukan kebaikan tetapi di usianya yang sudah 70 tahun bukan karya indah, untuk dikenang masyarakat sedunia, tetapi RS sangat sukses mengkaul kekalkan dirinya sebagai wanita pembohong se dunia.
RS bukan pembohong kelas teri atau orang kecil tukang curi, tetapi yang dibohong itu, orang yang sangat dikenal di dunia ini, yaitu Prabowo Subianto, yang sedang calon presiden dan akan ikut Pilpres 17 April 2019, Amin Rais mantan Ketua MPR, bergelar professor,mantan Ketua Muhamadya, dan sejumla professor, jenderal dan semua cendekiawan di Indonesia ini. Saya sangat kagum drama yang diskenariokan RS dan lakonnya dirinya sendiri. Saya tidak perlu menulis banyak hal karena semua rakyat sudah tahu. RS memang mencatat rekor sangat tinggi di Indonesia tercatat dalam sejarah, seorang RS pernah menipu para elit dan para petinggi negeri ini.
RS mengaku orang elit? Tetapi saya, sampai menulis catatan ini, belum pernah membaca riwayat hidupnya. Apakah RS bergelar atau tidak sekolah aku belum tahu, atau, ah, biarkan saja. Pantas saja manusia seperti RS sama dengan saya yang tidak sekolah. Tetapi saya beralasan karena saya dari udik, nama Woko Waka yang tidak dikenal di Flores sana. Pantas saja setiap kali omong di public melalui media yang diucapkan hanya ujaran kebencian kepada pemerinah. RS mesti tau bah sebuah Negara, seperti Indonesia ada istilah yang namanya demokrasi. Semua paham, kata “demokrasi” berasal dari dua kata, yaitu demos yang berarti rakyat, dan kratos/cratein yang berarti pemerintahan, sehingga dapat diartikan sebagai pemerintahan rakyat, atau yang lebih kita kenal sebagai pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat.
Kalau orang kampung saja tau apa itu demokrasi, berarti ada yang mengatur sebuah Negara da nada pula rakyat. Dalam berdemokrasi bukan sesuka hati. Pemerintah pasti tahu tata etika dalam Negara bagaimana memimpin rakyat, demikian halnya rakyat mesti paham apa yang dilakukan pemimpinnya demi kesejehteraan bersama. Dalam hidup yang hanya sementar ini, semua manusia ber-Tuhan harus mempunyai etika, tatakrama, harus taan pada pemerintah yang mengatur negeri, demikian pula rakyat. Saya kira hidup ini sudah baku, biasa dan sudah dijalani sejak 73 tahun lalu.
Di Indonesia, demokrasi saat ini sudah berada pada titik nadir atau titik paling rendah. Sebab, demokrasi yang berjalan saat ini menghasilkan sistem yang korup, berbuat atau berkata suka-suka. Tempat Ibadah seperti di Jambi disegel seorang perempuan berseragam dina dan berjilbab. Memuakan, tetapi ini fakta dan benar-benar terjadi. Dalam catatan saya edisi lalu, yang melukan seperti ini, apa lagi di Negara yang lambang negaranya Pancasila dan UUD 1945, isinya sangat jelas. Tetapi mengapa diabaikan? Kejarian ini di September 2018. RS juga melakukan tindahan kejahatan pembohongan di 21 September 2018 dan baru membongkar kedoknya sendiri pada 3 Oktober 2018 bertepatan dengan bulan doa Rosario bagi yang beragama katolik. Perbuatan RS sangat memalukan dan memilukan senatero negeri. Tetapi RS terus kibarkan benderanya, mengaku sebagai warga Negara Indonesia, tetapi tidak mengikuti system dan aturan dasar Negara. Ini bagaimana ya. Segera proses hukum, agar dipenjara agar jera. Tak pandang usia sudah tua 70 tahun, atau nenek tua tetapi harus dipenjara. Bukan dengan cara kompromi, karena RS berkawan dengan kaum koruptor kelas kakap, elit nasonal dan kekuatan diri. Ini tidak boleh terjadi, walau RS sedang menjalani hukuman dari Sang Pencipta Langit dan Bumi serta isinya. Tuhan memang adil dan Maha Bijaksana. Manusia penjahat seperti RS membuka aib atau keburukannya sendiri. Rakyat sedang menanti hukuman atas diri RS, jangan sampai tenggelam atau lupa atau bahkan sengaja melupakan? Harus awasi terus.Siapa yang mengawas, RAKYAT INDONESIA.
Kinerja Partai politik saat ini juga, sudah semakin kehilangan kepekaan moral dan sosial. Sebab, parpol masih membiarkan mantan koruptor mencalonkan diri sebagai calon legislatif (caleg) pada Pemilu Serentak 17 April 2019. Inikah yang dinamakan Negara berdemokrasi?
Kedua, manusia itu punya nurani. Mesti sadar bahwa dalam diri sudah ternoda, mencuri uang atau barang yang bukan miliknya. Sudah berbuat jahat, masih juga mau caleg. Membaiayai hidup ini, hanya dengan caleg kah?
Aneh, tetapi ini nyata dan ada di Indonesia.
O, ya. Sebelum saya lupa, bahwa bencara terjadi beruntuk sejak Agutus sampai dengan Oktober 2018. Kita manusia yang waras, beriman kepada Tuhan seharusnya menaruh simpati, prihatin kepada sesame kita yang terkena bencara sangat berat seperti di Palu dan Donggala dan Lombok yang ditimpah bencana gempa bumi. Semua luluhlantak tak tersisa.Dua mendalam bagi Indoensia, Pemerintah dan Rakyat. Tetapi saya yang juga manusia Indonesia sangat prihatin. Ada elit yang berpendidikan melalui S3, professor sibuk mengurusi satu orang penjahat. Ini manusia tidak waras dan bersifat binatang. Manusia yang tidak menghayati isi Pancasila dan UUD 1945. Manusia seperti ini, harus dikutuk dan dipastikan Tuhan akan mengutuknya. Saya mencatat ini, di hari Kamis, 4 Oktober 2018. Tuhan bersamamu. ♦

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.