Rektor UPG 1945 Buka Suara Terkait Aduan Dr. Lanny Koroh

Rektor UPG 1945 Buka Suara Terkait Aduan Dr. Lanny Koroh

REKTOR Universitas Persatuan Guru (UPG) 1945 NTT, David Selan angkat Bicara perihal statemen Dr. Lanny I. D. Koroh, baik kepada Komisi V DPRD Provinsi NTT melalui pernyataannya yang termuat pada media online, Indonesiakoran.com 4 Februari 2020, maupun yang diposting pada akun facebook milik pribadinya a.n. Lanny Koroh 3 Februari 2020.
Tanggapan Rektor UPG 1945 ini disampaikan kepada awak media di ruang kerjanya, Senin 10 Februari 2020.
“Selaku Rektor UPG 1945 NTT, saya sangat menyesal apa yang dikatakan Lanny Koroh pada akun facebook milik pribadinya tertanggal 3 Februari 2020 pukul 04.20 WITA dan Pengaduan kepada Komisi V DPRD Prov. NTT, atau yang termuat pada salah satu media online”
Bukan hanya itu, ada juga rekaman pembicaraan saya yang dimuat dalam group Whatsaapp NTT-1. Saya katakan bahwa apa yang dilakukan Lanny Koroh ini merupakan tindakan yang merugikan saya secara pribadi, maupun sebagai Rektor dan juga lembaga UPG 1945 menjadi ganjaran secara sosial.
Ini juga merupakan sala satu tindakan pidana pencemaran nama baik, ujar David Selan.
Tambahnya, pernyataan Dr. Lanny I. D. Koroh tersebut merupakan pernyataan yang tidak benar, dan memfitnah saya sebagai Rektor dan nama baik Lembaga Universitas Persatuan Guru 1945 NTT.
Pada kesempatan yang sama, Rektor Universitas Persatuan Guru 1945 NTT, David Selan juga menyampaikan beberapa fakta terkait keberadaan Lanny Koroh sebagai Dosen tetap di Universitas PGRI NTT, yang sekarang berubah status menjadi UPG 1945 NTT, sehingga publik mengetahui apa yang disampaikan oleh Lanny Koroh tersebut belum tentu benar.
Lanny I. D. Koroh awalnya sebagai Dosen tetap ber-NIDN di Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Asing Cakrawala Nusantara Kupang (STIBA-CNK). Beliau secara pribadi mengajukan permohonan pindah homobase dari PDPT STIBA-CNK beralih ke PDPT Universitas PGRI NTT.
Belum menjalankan Tri Dharma-nya sebagai dosen tetap di Universitas PGRI NTT sama sekali, dirinya mengajukan permohonan untuk melanjutkan studi Doktoral (S3) nya di Denpasar dengan status tugas belajar (2014) dari Universitas PGRI NTT kala itu.
“Bayangkan, walaupun belum menjalankan tri dharma sama sekali, Pihak Universitas PGRI NTT mengabulkan permohonan dirinya untuk melanjutkan studi Doktor”.
David Selan juga kemukan terkait pernyataan Lanny I. D Koroh, yang mengatakan bahwa dirinya selama menjadi dosen di Univ. PGRI NTT tidak pernah digaji/diupah, sebagaimana layaknya sebagai dosen tetap yayasan. Atas pernyataan itu dirinya sebagai rektor langsung menepis semua itu, sambil menunjukan bukti transfer gaji Lanny Koroh.
“lni murni merupakan pernyataan tidak benar dan merupakan pembohongan publik”. Tegas David Selan.
Untuk itu perlu saya sampaikan fakta yang sebenarnya, agar publik tau apa yang dikatakan Lanny Koroh semuanya tidak benar, kata David.
Setelah Lanny I.D Koroh pindah home base dan menjadi dosen tetap di Universitas PGRI NTT (2014), dirinya tidak pernah melaksanakan kewajibannya sebagai dosen, yaitu melakukan Tri Dharma perguruan Tinggi, sedangkan secara aturan setiap dosen tetap diwajibkan untuk dibebankan 12 SKS sebagai pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu 8 SKS untuk pendidikan dan pengajaran, 2 SKS untuk penelitian dan pengembangan dan 2 SKS untuk pengabdian Kepada Masyarakat.
Selain tidak melaksanakan kewajiban Tri Dharma sebagai dosen tetap di Universitas PGRI NTT, Lanny I.D Koroh juga tidak melaksanakan kewajiban absensi kehadiran, akan tetapi kami pihak universitas PGRI NTT selalu membayar Upahnya sejak tahun 2014 hingga tahun 2015 dan membantu biaya S3-Nya.
Lanny I. D. Koroh, saat mendapatkan rekomendasi Tugas belajar dari Rektor Universitas PGRI NTT, Status Lanny I. D. Koroh dalam Forlap Dikti masih berstatus dosen aktif, karena yang bersangkutan sendiri tidak melaporkan ke bagian akademik.
Berdasarkan atas persoalan tersebut, Rektor UPG 1945 NTT, David Selan selalu membuka ruang untuk menunggu itikad baik oleh Lanny Koroh untuk bersama menyelesaikan persoalan sebagai dosen tetap di lembaga yg dipimpinnya ini.
“Intinya kami selalu kooperatif melihat persoalan ini. Kami juga menunggu saja apa reaksi dan itikad baik dari saudara dan teman kami Dr. Lanny Koroh untuk datang selesaikan secara baik”
Sebaliknya kalau merasa dirinya dirugikan silakan menempuh jalur hukum. Perlu diingat, kami pun demikian sama dirugikan. Dan jelas apa yang sudah diadukan oleh Lanny Koroh kepada Komisi V DPRD NTT itu tidak benar.
Kami juga akan menempuh jalur hukum terkait penyebaran rekaman pembicaraan tanpa izin, dan UU ITE tentang pencemaran nama baik saya sebagai Rektor maupun lembaga UPG 1945, tegas David Selan. ♦ liputan4.com

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.