Rencana Bangun Musolah di Kantor BPN Kota Kupang dikecam

Rencana Bangun Musolah di Kantor BPN Kota Kupang dikecam

♦ Dana proyek mushola semua swadaya

 

RENCANA Kepala BPN NTT bangun Masjid mewah dan megah atau yang dikenal musola dikecam sejumlah aktivis. Semua rencana dibangun di lingkungan Kantor BPN, namun karena dikecam sejumlah Pemuda GMIT NTT pembangunannya di alihkan lokasinya di lingkungan Kantor BPN Kota Kupang yang bertetangga langsung dengan Kantor Kanwil Badan Pertanahan dan Tata Ruang NTT.
Tokoh mudah GMIT NTT mengkritisi dengan pertanyaan,” Logiskah bangun semua masjid di lingkungan Kantor BPN NTT atau BPN Kota Kupang yang selama ini sudah disediakan ruangan khusus untuk sesame kita yang muslim. Berapa banyak sih, jumlah teman-teman kita yang muskim di kantor itu. Kita, di NTT mayoritas beragama Kristen. Jadi kita minta supaya pejabat harus bijak, menyikapi persoalan sosial seperti ini. Jika masih dipaksakan bangun, kita akan kerahkan anak muda untuk mendemo. Saya mengharapkan Kepala BPN Kota Kupang yang bernama Pak Thomas supaya pertimbangkan baik-baik, jangan menciptakan persoalan sosial baru. Jika ada kawan-kawan yang ingin sholat, sudah tersedia ruangan khusus yang sudah ada selama bertahun-tahun, sejak kantor dibangun.”
Herman Boki yang juga Ketua KNPI NTT bersoloroh,” Apakah benar, mereka maksudnya pejabat bisa memutuskan sebuah kebjikan yang kontroversi. Ini masalah sensitive. Ya saya akan kirim ade-ade kesana, melihat situasi.” Seru kedua pemuda ini menjawab EXPO NTT.
Kepala BPN dan Tata Ruang NTT Slamet yang ditelepon EXPO NTT pekan lalu tidak menjawab, walau bernada dering. Sementara Kepala BPN Kota Kupang Thomas More diteleon Rabu 27 Februari 2019 menjelaskan, rencana pembangunan Mushola adalah aturan dari Menpan RB.” Saya lupa nomor berapa. Karena kami instansi vertical setiap kantor wajib bangun Musola agar pengunjung yang datang urus sertifikat tanah, jika pas jam sholat bisa sholat. Juga dibangun tolilet dan sarana yang dibutuhkan umum, juga untuk yang cacat,” jelasnya.
Seharusnya, kata Thomas dibangun sejak 2010. Dana untuk pembangunan adalah swadaya, dari sumbangan dan donatur. “Tapi sampai sekarang belum ada,” jelas Thomas yang enggan menyebut nama pantia dan para penyumbang. Juga tidak menjelaskan mengapa tidak dibangun di Kanwil yang kebetulan bertetangga. ♦ wjr

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.