Rumah Situs Bung Karno Disegel Keluarga Ambuwaru

Rumah Situs Bung Karno Disegel Keluarga Ambuwaru

RUMAH tempat pengasingan tokoh Proklamator dan Pendiri Bangsa Indonesia, Ir. Soekarno yang terletak di Jl Perwira Ende, pagi ini Kamis 31 Mei 2018 disegel keluarga H. Abdullah Amburawu yang merupakan pemilik sesungguhnya rumah tersebut.
Dasar penyegelan rumah yang saat ini sudah menjadi Rumah Situs Pengasingan Bung Karno itu karena pihak keluarga merasa sudah banyak penyimpangan yang terjadi dalam sejarah tentang rumah pengasingan tersebut.
Yeyen Ambuwaru, salah seorang cucu H. Abdullah Ambuwaru mengatakan banyaknya perubahan yang terjadi dalam Rumah Situs Bung Karno itu membuat pihak keluarga merasa kecewa karena sesuatu yang dinamakan’situs’ berarti sebuah tempat yang memiliki nilai sejarah sehingga tidak boleh di rubah keasliannya.
“Namanya saja situs. Itu berarti tempat itu memiliki nilai histori yang tinggi sehingga dengan cara apa pun tidak boleh dirubah bentuk atau isinya” kata Yeyen Ambuwaru.
Yeyen menambahkan disamping telah banyak perubahan yang terjadi, pihak keluarga juga ingin meluruskan sejarah yang sesungguhnya agar tidak terjadi salah kaprah dalam penuturan sejarah tentang keberadaan Bung Karno saat tinggal di rumah tersebut. “Sejarah harus diluruskan karena selama ini telah menyimpang dari sesungguhnya. Hal ini terjadi karena selama ini keluarga Ambuwaru tidak pernah diundang untuk terlibat dalam penuturan sejarah tentang keberadaan Rumah Situs tersebut” tutur Yeyen. Yeyen menyesalkan pihak lurah maupun camat yang sebetulnya lebih tahu tentang sejarah asal usul rumah situs itu pun tidak pernah melakukan pendekatan kepada keluarga Ambuwaru untuk menceritakan sejarah tentang rumah itu yang sesungguhnya.
Seharusnya lurah dan camat yang lebih tahu tentang Ambuwaru sebagai pemilik rumah itu sehingga mendekati perayaan seperti ini Pemda Ende sudah melakukan pendekatan kepada keluarga tetapi kami tidak pernah dilibatkan. Diundang saja tidak. Kami tidak gila hormat, tapi kami mau sejarah harus ditempatkan pada posisi yang benar” ujarnya. Yeyen juga menepis adanya penuturan sejarah yang mengatakan bahwa rumah tersebut dikontrak Bung Karno saat pembuangannya ke Ende.
“Kita harus luruskan sejarah jika rumah itu milik kakek yang diserahkan kepada Bung Karno untuk tinggal ketika ada di Ende tetapi koq dibilang rumah itu dikontrakan. Cerita sejarah seperti ini harus diluruskan” pungkas cucu H. Abdullah Ambuwaru ini.
Sementara itu assisten I Setda Ende, Kornelis Wara dan Assisten III Setda Ende, Johan Tote setelah mendapat laporan Camat Ende Utara terkait penyegelan tersebut seketika itu mendatangi pihak keluarga Ambuwaru. Dalam diskusi yang cukup alot di rumah keluarga Ambuwaru, tercapai kesepakatan yang berakhir dengan dibukakan kembali segel kain merah yang oleh keluarga Ambuwaru mengidentikkan dengan pesan Bung Karno yang adalah Jasmerah (Jangan Sekali – sekali Melupakan Sejarah, red). Namun kesepakatan dilakukan dengan 2 syarat penting yang harus dipenuhi Pemda Ende diantaranya pelurusan kembali cerita sejarah terkait keberadaan Rumah Situs Bung Karno harus sesuai dengan sejarah aslinya yang diceritakan keluarga Ambuwaru. Disini tercapai kesepakatan untuk pengembalian lagi Rumah Situs Bung Karno seperti keasliannya tanpa menambah yang tidak perlu. Dan kedua, pihak keluarga meminta untuk digantikannya penjaga Rumah Situs Bung Karno dimana sebagai penghargaan terhadap keluarga maka rumah itu harus dijaga oleh keturunan Ambuwaru sebagai pemilik rumah tersebut. “Kami sebagai pemilik rumah tetapi yang memegang kunci koq oranglain. Hargai pemilik rumah” kata Yuyun Ambuwaru adik Yeyen Ambuwaru.
Menanggapi permintaan keluarga Assisten I Setda Ende, Kornelis Wara meminta pihak keluarga membuatnya secara tertulis terkait sejarah dan keberadaan rumah tersebut agar pasca kegiatan Pilkada akan dibicarakan bersama bupati Ende. “Tolong pihak keluarga Ambuwaru menyampaikan permintaan ini dalam bentuk tulisan sehingga setelah Pilkada kita sama – sama bicarakan dengan pak bupati usai cuti Pilkada” tutur Kornelis. Hal senada juga diungkapkan Assisten III Setda Ende, John Tote yang meminta pihak keluarga Ambuwaru dapat menyikapi persoalan ini secara baik dengan tidak menghalangi kegiatan yang sedang berlangsung dan berharap untuk membiarkan kegiatan ini bisa berlangsung dengan baik.
“Kami harap pihak keluarga secara arif dan bijaksana melihat persoalan ini agar rangkaian kegiatan bisa dilaksanakan dulu. Semua persoalan yang diangkat keluarga akan kita diskusikan secara bersama – sama setelah seluruh rangkaian kegiatan usai” pungkas John Tote. (welano)

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.