Seduhan Kopi Flores Bajawa dan Sepotong ‘Surga’ di Ende

Seduhan Kopi Flores Bajawa dan Sepotong 'Surga' di Ende

 

SYAHDAN tim ekspedisi Portugis langsung jatuh cinta dengan kemolekan Pulau Flores, begitu mendarat pada 1512. Mereka menyebutnya Cabo de Flores, Pulau Bunga. Keindahan pantai, bukit, dan wangi cendana membuat mereka enggan beranjak dari pulau berbingkai pantai itu, yang kini secara administratif masuk Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Perahu-perahu nelayan dan karang-karang pelindung beragam biota laut menjadi pemandangan khas pesisir Flores. Bentang bukit menghijau di sepanjang jalan berkelok menambah langsung tersaji begitu mendarat di Pelabuhan Ende, salah satu titik masuk Flores.
Saatnya jalan-jalan di Ende dan sekitarnya.
Di sebelah barat Kota Ende, ada satu kecamatan bernama Nangaroro. Sepanjang Ende-Nangaroro, ada beberapa spot wisata eksotis yang wajib dikunjungi.
Pantai Batu Biru
Terletak di Kecamatan Nangapanda, Kabupaten Ende, adalah Pantai Batu Biru yang disebut juga Pantai Penggajawa. Sesuai dengan namanya, di sepanjang pesisir pantai ini terdapat bebatuan halus berwarna biru kehijauan yang senada dengan warna laut. Pantai ini dinaungi tebing kapur, pengunjung bisa melihat pemandangan Pantai Batu Biru dari atasnya. Dilihat dari jauh, batuan tersebut seakan-akan diiringi oleh tarian ombak yang menghantamnya. Di seberang laut, terlihat jelas daratan Ende yang terletak sekitar 15 km dari bibir pantai. Untuk mengunjungi pantai ini, tidak dipungut biaya apapun alias gratis. Pengunjung dapat menggunakan jasa transportasi yang tersedia dari Kota Ende, ataupun membawa kendaraan sendiri dan memarkirnya di wilayah sekitar pantai.
Jarak dari Kota Ende menuju Pantai Batu Biru sekitar 26 km, atau 45 menit perjalanan menyusuri jalan jurusan Ende-Bajawa. Di sekitar pantai, tidak banyak terdapat restoran maupun penginapan, sehingga suasananya terasa alami dan jauh dari hiruk pikuk perkotaan.
Tanjung Nangaroro
Sedikit lebih jauh ke arah barat, berjarak sekitar 18 km dari Pantai Batu Biru, terletak sebuah tanjung di Kecamatan Nangaroro. Ada vila dengan sentuhan desain tropis dan kedai kopi yang menghadap langsung ke hamparan bukit, hutan, dan pantai di Nangaroro. Kedai yang terdapat di tanjung menyediakan seduhan kopi asli Flores Bajawa, yang dipanggang dan digiling sendiri. Harganya Rp5.000,00 satu cangkir!
Sembari menikmati indahnya pemandangan Nangaroro dan menyeruput kopi, pengunjung bisa bercengkerama dengan penduduk setempat yang biasa mampir di kedai ini.
Panteria Beach House
Dari Tanjung Nangaroro, pengunjung bisa menyusuri jalan sepanjang Nangaroro turun ke pantai yang hanya berjarak sekitar 3 km, atau 5 menit perjalanan menggunakan mobil. Hamparan pasir berwarna gading dan laut dengan derai ombak yang lembut akan menunggu di ujung jalanan Nangaroro yang sudah beraspal. Terdapat saung, tempat duduk kayu, dan ayunan di pinggir pantai yang bisa digunakan sembari berteduh setelah puas bermain air. Sesekali beberapa perahu nelayan melintas, dan pengunjung bisa membeli hasil tangkapan yang masih segar. Di dekat pantai, terdapat sebuah penginapan bernama Panteria Beach House. Penginapan ini berkonsep tradisional modern, yang didominasi dengan bahan kayu. Fasilitas di penginapan ini cukup lengkap layaknya hotel modern, tanpa melupakan sisi artistik yang autentik.
Dari penginapan, terlihat bentangan Laut Sawu di sebelah selatan, dan jalanan menanjak berbukit-bukit di sebelah utara. Pada sore hari, wisatawan dapat menikmati pemandangan matahari tenggelam lewat jendela kamar atau balkon yang terletak di lantai 2.
Selain destinasi di atas, masih banyak spot-spot keindahan di Flores, Pulau Bunga. Keindahan alam juga makin dilengkapi keramahan penduduknya. Jika Anda berkunjung ke sini, jangan ragu memulai bertegur sapa. Pun meski sudah melintas, panggillah dengan santun. “Nona manis, putarlah ke kiri, ke kiri, ke kiri…”
Istimewanya Kopi Flores yang Sudah Mendunia
Indonesia harus bangga di hari ini, karena kita memiliki kekayaan itu yang berasal dari Flores. Kopi Flores dikatakan anugerah luar biasa. Ada beberapa alasan yang menyertainya. “Khasiat dari kopi Flores luar biasa dibanding kopi yang lain. Keaslian biji kopinya dari faktor geografis alam sehingga menghasilkan kopi yang bagus. Karena tanpa pupuk pun jadi,” jelas Florianus Nandi yang juga guide lokal di Flores.
Awalnya, kopi di Flores berjenis robusta. Pada tahun 1911 dibawa oleh Belanda. Lalu jenisnya berganti. “Kemudian didatangkan kopi arabika dari Kolombia kalau tidak salah tahun 1927. Sekarang disebut bajawa,” jelas Flori. Ia menjelaskan bahwa umumnya kopi ada di daerah pegunungan. Banyak penghasil kopi ada di Waerebo Kabupaten Manggarai Tengah, Ndoso di Kabupaten Manggarai Barat, Lelak di Kabupaten Manggarai Tengah, Bajawa di Kabupaten Ngada hingga di Colol dari Kabupaten Manggarai Timur,” urai dia.
Kata Flori, kini ada kopi yang berjenis arabika dan robusta. Namun yang dominan sekarang adalah jenis arabika. Bertahun-tahun berlalu, ritel kedai kopi dunia melirik hasil dari bumi Flores. Adalah Starbucks yang telah memanen hasilnya. “Starbucks itu kepanjangan tangannya ada di setiap kampung-kampung di Pulau Flores. Dia menyeleksi saat panen,” kata dia. Flori menyebut panen kopi jenis arabika ada di bulan Juni-Agustus. Lalu kopi jenis robusta dipanen dari Agustus sampai September. “Untuk Starbucks mereka bekerjasama dengan petani kopi untuk meningkatkan perekonomian. Dan petani dapat penghasilan lebih karena tumpang sari dalam pertaniannya karena pengembangan perusahaan itu,” terang dia. Dan, Indonesia punya penghasil kopi yang sangat banyak mulai dari Aceh hingga Lampung, pegunungan di Jawa Barat hingga Banyuwangi, Bali, NTT, Sulawesi dan terakhir di Papua. Selamat Hari Kopi Sedunia! ‚ô¶¬†berbagai sumber

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.