Selasa dan Jumat, ASN NTT Wajib Gunakan Sarung Tenun Ikat

Selasa dan Jumat, ASN NTT Wajib Gunakan Sarung Tenun Ikat

BERDASARKAN surat edaran Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) yang beredar luas di media sosial mewajibkan Aparatur Sipil Negara (ASN) Pemerintah Provinsi NTT untuk mengenakan sarung tenun ikat motif daerah setiap Selasa dan Jumat. Dalam surat edaran itu disebutkan BO.165/III/2019 tentang penggunaan pakaian sarung tenun ikat motif daerah NTT bagi ASN lingkup Pemprov NTT menyebutkan penggunaan motif daerah asal NTT bertujuan untuk penggunaan pakaian sarung tenun ikat motif daerah NTT melestarikan nilai-nilai budaya, mendorong promosi pariwisata dan pertumbuhan ekonomi melalui industri kerajinan masyarakat di Nusa Tenggara Timur.
Selain itu, pakaian tenun ikat motif NTT digunakan Pegawai ASN di Lingkungan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur pada hari Selasa dan Jumat. Pakaian Dinas Harian (PDH) tenun ikat motif NTT yang selama ini digunakan pada setiap Kamis dan Jumat setelah berolahraga, digunakan hanya pada hari Kamis. Pakaian Olahraga hanya digunakan pada saat kegiatan olahraga dan kerja bakti.
Sedangkan dalam surat BOE 065/11/2019 Maret 2019 tentang tata berpakaian sarung tenun ikat motif NTT yakni pakaian sarung tenun okat motif dapat menggunakan atribut lengkap daerah Nusa Tenggara Timur (tanpa senjata tajam).
Pakaian sarung tenun ikat motif NTT, wanita terdiri dari sebuah kemeja polos berkerah atau tanpa kerah, pada bagian bawah dapat menggunakan celana panjang berwarna hitam di dalam sarung tenun ikat motif daerah NTT.
Kedua surat tersebut ditandatangani Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat.
Kepala Biro Humas Setda NTT, Marius Jelamu mengaku belum menerima surat tersebut, tetapi memang sudah lama Gubernur NTT berkeinginan agar 2 kali seminggu gunakan pakai kain tenun ikat dari seluruh kabupaten di NTT.
Semangat yang mau disampaikan kepada publik, menurut dia, guna menghargai karya imaginatif ekspresi kecerdasan nenek moyang yang secara turun temurun tenun ikat.
“Dengan ini kami juga menginginkan income bagi ibu-ibu di seluruh NTT yang sudah menenunnya. Kami ingin memuliakan identitas kultural masyarakat,” katanya. ♦ nttterkini.com

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.