Seorang Haji di Batam Bantu Patung Maria untuk Gereja Lapas Kupang

Seorang Haji di Batam Bantu Patung Maria untuk Gereja Lapas Kupang

♦ Menakar Toleransi dari Dalam Lapas Kupang; Patung Bunda Maria Fatima Disumbang Seorang Haji di Batam

 

MESKIPUN waktu baru menunjuk pukul 9.30 Wita, namun hawa panas mulai terasa. Betapa tidak sengatan panas itu langsung dibuang sang surya menembus di sela rindangan beberapa dahan pohon dalam taman itu.
Puluhan orang mulai berdatangan mengisi ruangan dan taman doa yang menjadi tempat sembayang (misa) para penghuni lapas warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Dewasa Kelas II A Kupang yang beragam Katolik.
Hari itu Senin, 13 Mei 2019 akan dilakukan seremoni pemberkatan sebuah patung besar berukuran seorang manusia dewasa. Patung itu adalah Patung Bunda Maria Fatima. Seremoni pemberkatan dilakukan dalam rangkaian perayaan misa kudus yang dihadiri warga binaan para penghuni Lapas itu dan sejumlah umat dari luar lapas.
Suasana terlihat santai. Saling tegur sapa warga binaan di lapas dan para warga luar lapas terlihat. Aksi saling cengkrama terlihat wajar. Namun demikian semua kegiatan itu tetap dalam pengawasan para petugas Lapas yang mengenakan seragam dinasnya yaitu berbaju biru langit dan bercelana biru tua.
Misa berlangsung meriah dipimpin imam konseleberan RD Yono PR, didampingi tiga imam konselebran lain yang satu di antaranya adalah RD Rudy Cung Lake PR. Misa semakin meriah karena diiringi lagu-lagu yang dinyanyikan oleh koor Maria Fatima Voice yang beranggontakan para penghuni lapas.
Dalam kotbahnya RD Rudy menyatakan bahwa kuasa ilahi Tuhan berkeja untuk semua orang. Dan oleh karena itulah, makin banyak orang yang mau berbagi berkat yang diperolah. “Dan hal itu tak mengenal agama dan suku. Kasih karunia Tuhan menembus batas dan sekat ras,” katanya.
Sebagai buktinya, patung Bunda Maria Fatima yang ada di tengah taman doa dalam Lapas Kelas II A Kupang itu adalah pemberian dari seorang Muslim yang haji. “Toleransi nyata inilah yang menjadikan bangsa khususnya daerah ini terus menjadi daerah yang patut menjadi contoh toleransinya,” katanya.
“Benar, Patung Bunda Maria Fatimah itu dikasi oleh seorang Muslim yang adalah Haji. Pak Haji itu saat ini berdomisili di Batam,” kata seorang penghuni Lapas Kelas II A Kupang Vincentius Melur.
Bukan itu saja, kata napi kasus korupsi itu, Pak Haji bahkan telah mengajak sekelompok umat Muslim asal Kabupaten Alor yang ada di Batam, ikut memberi sumbangan untuk pembuatan taman doa Maria Fatima di Lapas Kelas II A Kupang itu. “Sayangnya pak Haji itu berpesan agar namanya tidak disebut termasuk ke media massa. Pak Haji hanya meminta doa dari semua yang datang berdoa di taman itu,” kata Vincentius.
Sementara itu Pelaksana Tugas Kepala Lapas Kelas II A Kupang, Demetrius A D Goku mengaku jika Lapas Kelas II A Kupang menjadi contoh toleransi Lapas di Indonesia. Bukan hanya itu, Lapas Kelas II A Kupang juga menjadi contoh wajah lapas yang sesungguhnya. Pandangan banyak orang tentang lapas sebagai penjara dengan segala kekejaman sudah harus dihilangkan. “Dan ini yang sedang kita lakukan di Lapas Kupang,” katanya.
Menurut dia rancangan membuat kapela (rumah ibadah) bagi warga binaan Katolik beserta taman doa bernuansa Fatimah dengan Patung Bunda Maria Fatima sudah dirintis sejak 2018 silam. Bahkan menurut dia, menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly sudah meresmikan Kapela itu pada 8 April 2018 silam. “Nah taman doanya baru kita berkat hari ini dengan melakukan pentahtahan Patung Bunda Maria Fatimah di taman doa ini,” katanya.
Dia mengaku sangat bersyukur dan berterima kasih atas donasi yang diberikan oleh para pihak untuk pembuatan taman doa Maria Fatimah di Lapas Kelas II A Kupang itu. “Ada yang dari Batam seorang Haji dan sekelompok umat Muslim di sana, menyumbangkan Patung Bunda Maria Fatima itu dengan ikhkas dan tulus. Kami sangat berterima kasih,” katanya saat didampingi KPLP dan staf Lapas lainnya. “Tempat ini akan menjadi tempat doa bagi para penghuni Lapas yang beragama katolik agar bisa menjadikan mereka (warga binaan) orang yang akan berbakti kepada negara dan gereja di saat keluar ke tengah masyarakat nanti,” katanya.
Setidaknya aksi nyata seorang Haji di Batam dan sekelompok umat Muslim asal NTT di sana yang telah mendonasikan sebuah patung Bunda Maria Fatima untuk ditempatkan di taman doa Lapas Kelas II A Kupang bisa menjadi contoh bagi aksi merawat toleransi di daerah dan negara ini. ♦ adi rianghepat

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.