Setya Novanto, Deritamu Kini

Setya Novanto, Deritamu Kini

NAMA Setya Novanto diperbincangkan, diwartakan secara meluas media cetak dan elektronik sejagat. Setya Novanto atau Setnov juga dibuly, kata lain dicaci maki di media sosial. Selama tahun 2017, nama ini akrab di telinga masyarakat. Puncak berbindangan nama ini ketika Rabu 15 November 2017, dimulai eksekusi. Rabu kelabu bagi Setya Novanto dan keluarganya.
Rabu 15 November 2017, pada pagi hari, Setnov memimpin sidang DPR RI. Aktivitas terhormat dan termulia. Setelah itu, Setnov ikut rapat pimpimpinan. Dan setelah itu,entah kemana. Rabu malam, penyidik KPK mendatangi rumah mewahnya di bilangan Kebayaroran Baru Jakarta untuk menggeledah, ya, sekalian menjemput paksa. Tetapi Setnov tidak berada di rumahnya.
Saya memahami, scenario yang dilakoni KPK. Mengapa datang ke rumah Stnov dan Setnov tidak ada. Rakyat tahu bahwa KPK kerap melakukan OTT atau operasi tangkap tangan. Rakyat tahu behwa dalam hal tangkap menangkap, KPK jago. Hanya, mengapa drama Rabu 15 November 2017 dibuat tegang dan penasaran. Rabu 15 November 2017, merupakan hari penghakiman buat Setnov dan keluarganya.
Rabu 15 November 2017 malam, masyarakat Indonesia dikagetkan dengan warta, Setnov mengalami kecelakaan mobil, menabrak tiang listrik. Setnov di ramat di salah satu rumah sakit di Permata Hijau Jakarta Selatan. Dramanya sangat menggetarkan. Rakyat Indonesia was-was, jangan sampai Setya Novanto meninggal dalam kasus kecelakaan ini. Ternyata, hanya cedera ringan. Tetapi, pengacaranya menjelaskan, Setnov sakit berat, kepala cedera, dan mengalami luka parah. Saya mau tegaskan, Setnov dan pengacara sangat licik memainkan drama. Hanya cedera ringan dibilang ke masyarakat sakit berat. Karena peralatan di RS Permata Hijau tidak lengkap, maka Setnov di pindahkan ke RSCM Jakarta Pusat, tak jauh dari gedung KPK. Setnov harus mendapat malau, ketika tim dokter dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan dokter RSCM memulangkan Setnov karena tidak ada alasan untuk dirawat. Dan penghakiman 17 November 2017 malam dilanjutkan.
Setnov dibawa ke gedung KPK. Untuk, diperiksa awal sekalian dikenakan rompy oranya. Ya, Setnov sukses mendapatkan rompy yang sangat mahal pada Jumat 17 November 2017 malam. Jumat kelabu bagi Setnov, karena, mulai mala mini, Setnov tidak lagi tidur di ranjang empuk ber-AC seperti di rumah mewah miliknya senilai Rp 200 Milir. Jika nilai rumahnya semahal ini, kamar tidur pasti sangat mewah. Saya sendiri tak dapat membayangkan, jika tidur di kamar tidur Setya Novanto yang sangat wah itu.
Sejak 17 November 2017, Setnov tak lagi, saya harus menyatakan tidak lagi mengenakan busana kebesaran sebagai seorang Ketua DPR RI, merangkap Ketua Umum Partai Golkar dan tampil wibawa di depan sidang DPR RI atau di tengah masyarakat saat bertugas sebagai Ketua Umum Partai Golkar. Ramalan saya, terhitung 17 November 2017, semua kemewahan fasilitas takkan dinikmati Setnov.
Setnov memulai rutinitasnya berbincang dengan pengacara dari kamar yang tidak mewah dan bolak-balik kamar tahanan ke KPK untuk diperiksa penyidik KPK. Tetapi, saya dan masyarakat Indonesia masih juga belum tenang, was-was, jangan-jangan Setnov bebas lagi, karena PN Jakarta Selatan telah menetapkan jadwal sidang praperadilan pada 30 November 2017. Jika sidang praperadilan di menangkan Setnov, maka dipastikan bebas.
Pantas saja melalalui rencana hitam, kemunikan bersama tim pengacara, Setnov menulis surat ke pimpinan DPR RI, Selasa 21 November 2017. Surat ditulis Setnov meminta MKD di DPR RI tidak memecatnya dari jabatan sebagai Ketua DPR RI. Artinya, Setnov akan berjuang keras agar tetap menjadi Ketua DPR RI, agar tetap menjadi Ketua Umum Partai Golkar. Setnov tidak sudi kemegahan, kemewahan dan kehormatan lepas dari kehidupannya.
Kuncinya ada pada KPK. Jika berkas perkara Setnov dilimpahkan sebelum 30 November 2017, maka harapan dan ambisi Setnov kembali duduk di tahta akan pupus dan harus menghadapi kenyataan, kehidupannya akan berubah dari kemewahan ke kehidupan yang penuh derita. Derita sampai akhir hayatnya.
Drama soal Setnov masih panjang, dan, drama ini akan berakhir, ketika upaya hukum sampai pada tingkat kasasi. Kalai kasasi pada MA dimenangkan Setnov, maka dipastikan Setnov bebas menikmati kemewahan dunia ini.
Ketika menulis catatan ini, saya merenung, ternyata kemewahan yang didapat dengan cara tidak halal, maka akan sia-sia tak bermanfaat. “Doeloe” Setnov dipuja puji masyarakat, khusus di Daerah Pemilihan II Timor dan Sumba. Maklum Setnov seperti sinterklas, memberi banyak hal untuk masyarakat. Semua kalangan, termasuk orang miskin papah, anak yatim piatu. Dan ini dilakukan Setnov dan timnya pada Selasa 14 November 2017. Hari itu Setnov berbagai kepada orang kecil di Kupang, sejumlah panti asuhan Sonaf Maneka, berlanjut ke Kabupaten Kupang. Ini dalam rangka syukur hari ulang tahunya.
Hari Selasa 14 November 2017, kedatangan Setnov ke Kupang pagi hari disambut Gubernur NTT Frans Lebu Raya. Pagi itu, kedua pejabat membuat sejarah. Mengapa, karena kedua berbincang khusuk tanpa didengar orang lain. Enta apa yang diperbincangkan, tetapi perbincangan kedua tokoh ini dipersoalkan pengacara ternama ibukota asal Maumere, Petrus Selentinus. Selentinus mendesak aparat penegak hukum untuk mengusut kasus bisik-bisik Setnov dan Frans Lebu Raya. Bisikan itu, kata Petrus tidak lazim dan berpersoalan karena saat itu Setnov sudah berstatus tersangka oleh KPK. Kisahnya jadi panjang dan bersambung,entah sampai kapan.Sampai mau menjemputkah?
Kita lupakan sejenak kisah menyeramkan tentang Setnov. Saya terkenang akan rompy oranye. Menganakan rompy oranye memang sakti. Dalam kisah derita Yesus sampai wafat di Kayu Salib, Yesus yang didera sangat kejam oleh serdadu sambil memikul salib ke Goltha, Yesus mengenakan juba ungu. Saya sendiri belum paham, mengapa para calon penderita KPK harus mengenakan rompy oranya. Ya, Hanya rompi ini yang mampu menyudutkan Setnov di dua jabatan sekaligus, Ketum Golkar dan Ketua DPR RI. Akankah Rompi oranye menjadi “Akhir Politik Setya Novanto”? Entahla. Setnov sedang mendapat sanksi sosial atau penghukuman publik. Dalam banyak kasus terutama yang terkait dengan dugaan penyalahgunaan wewenang dan korupsi, di luar asas praduga tak bersalah, sanksi sosial yang diterima kerap kali lebih berat ketimbang sanksi hukum yang formal.
Hal itulah yang kini sedang menerpa Setya Novanto meski boleh jadi ia bersikap tak peduli atau bahkan tegas atas reaksi publik. Sedang berusaha keras bersama tim pengacara agar bebas dan tidak tergantung pada salib derita. Berkaca dari kasus sebelumnya tentang bagaimana ia melacak jejak para perundungnya di media sosial dan melaporkannya kepada polisi. Tak dapat dihitung bahkan jutaan, yang mencaci maki Setnov lewat media sosial.
Sebuah komunitas diskusi virtual sejak 7 tahun lalu dalam cibiran, publik mulai menghukum Setyo Novanto sebelum intitusi hukum mana pun melakukannya.
Terlepas, Setnov bersalah atau tidak, publik Tanah Air, Setya Novanto telah melakukan perbuatan tercela dan sangat tak layak sebagai seorang politisi yang sekaligus Ketua DPR RI. Publik sudah bosan, marah, dan antipati terhadap Setya Novanto sehingga tak segan menjadikan peristiwa yang menimpanya sebagai bahan lelucon hingga mencela dan menghukum Setya Novanto pun dilakukan. Sampai-sampai tiang listrik mejadi bahan pembicaraan dan cercaan publik di media sosial. Ya, kini saatnya masyarakat mengawasi prosesi hukum untuk Setnov.
Harta kekayaan, jabatan maupun kemewahan lainnya menjadi tidak berarti. Rumah Setya Novanto yang sangat mewah senilai Rp 200 Miliar menjadi tidak berarti. Jas mahal yang dipakai Setnov pada setia acara kenegaraan, atau acara resmi menjadi tak berguna. Yang dikenakan Setnov saat ini adalah rompy berwarna oranye. Menurut saya ini rompy sangat mahal, karena tidak semua orang bisa mendapatkan.
Kamar tidur mewah dilengkapi fasilitas mewah di rumah mewah Setnov yang dilegkapi 10 CCTV atau kamera pengintai tak bermanfaat dan nilainya sama dengan barang rongsokan. Tangga berjalan atau lift di rumahnya tak bermanfaat, karena Setnov harus berjalan kaki naik tangga di KPK dalam berpakaian rompy oranya. Ketika Setnov omong tidak ada lagi tepuk tangan sorak sorai tetapi berubah menjadi teriakan bernada cemoohan karena perbuatannya mencuri atau korup uang Negara dalam jumla sangat besar yang merugikan keuangan Negara senilai Rp 2,5 Triliun dalam proyek e-KTP. Setnov, sebagaimana diwartakan mendapat uang haram itu senilai Rp 500 Miliar. Perjuangan yang dikendalikan setan hanya dinikmati sesaat. Karena pada akhirnya malekat memenangkan pertarungan ini. ♦

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.