“Squat Jump“

“Squat Jump“

MANUSIA NTT khususnya ASN sudah menghafal istilah “Squat Jump“ sejenis olah raga yang menguat dan menyehatkan tubuh ini. Tetapi, tidak atas sadar diri melalukan jenis olah raga ini, karena squat jump merupakan siksaan atau peringatan seorang pemimpin kepada staf yang lalai dalam menjalankan tugas rutin.
Pada 24 Oktober 2019, Gubernur NTT Viktor Laiskodat memerintahkan Kepala Biro Pemerintahan Setda NTT bersama sejumlah stafnya squat jump sepuluh kali. Di tahun 2020, tepat 7 Januari 2020, Gubernur Viktor Laiskodat perintahkan dua kepala divisi Bank NTT squat jamp sampai 10 kali, juga karena melalukan kesalahan karena tidak cermat tandatangani berkas pelantikan dalam berkas berita acara.
Kebijakan Gubernur NTT melakukan tindakan terhadap staf yang melakukan kesalahan dalam administrasi atau alpa dalam tugas menurut hemat saya, wajar-wajar saja. Yang setuju dan tidak setuju adalah hal yang lumrah. Aparatur Sipil Negara atau ASN yang digaji Negara harus disiplin supaya jangan dicap ‘makan gaji buta’.
Semua kita mesti disiplin dalam menjalankan tugas ini, setialah pada pangilan dan cermat dalam menjalankan tugas agar tidak ditindak seperti yang kita saksikan. Di tahun 2019 tahun pertama Gubernur Viktor Laiskodat dan Wagub Josep Nae Soi sudah melakukan sejumlah gerakan untuk menyentuh kita semua orang NTT agar disiplin dalam segala hal. Jangan lalai. Masih di tahun 2019, Gubernur NTT menindak sedikitnya 145 ASN yang datang terlambat ikut apel dan dikenakan rompi oranye. Tetapi ada ASN yang merasa lucu dengan aktivitas ini. Bahkan ada sejumlah wanita yang sudah mengenakan baju oranye selfi ria sambil tertawa cengengesan. Bukan malu dan memperbaiki diri agar lebih baik ke depan. ASN seperti ini, justru memalukan diri karena diviralkan di media sosial. Sama halnya kali ini, 7 Januari 2020 ketika melantik Direktur Umum Bank NTT. Dua staf harus squat jump atas perintah gubernur. Apakah akan ada aksi serupa di waktu-waktu mendatang?
Masih ditahun 2019, Gubernur Viktor Laiskodat sudah melalukan gerakan dalam rangka memotivasi rakyat NTT agar disiplin seperti pada Januari 2019 Gubernur Viktor Laiskodat ‘ra’u’ sendiri sampah di samping Makorem NTT, atlit yang tidak disiplin saat apel, juga kena marah, siswa SMA di Semau kampung halaman Gubernur juga disuruh squat jump, walau beda acara.
Masih dalam rangka motivasi, Gubernur NTT itu, juga memarahi staf atau pekerja di Hotel Sotis yang jorok tak bersih, di area Lippo juga gubernur angkat sampah dan memarahi staf Lipo yang kurang disiplin, memarahi Bupati Sumba Barat Daya dalam kasus Sekda setempat dan terakhir kebijakan Gubernur NTT menutup Pulau Komodo agar wisatawan tidak datang supaya lestari komodonya. Program kontraversial ini, sampai saat ini belum dilakukan karena kebijakan Pemerintah Pusat.
Kita harus ingat bahwa pada 24 Oktober 2019, Gubernur Viktor Laiskodat mengumumkan bahwa dirinya adalah “ professor penjahat “dan sedang studi meraih gelar“ doktor kebaikan”. Semua gerakan dan tindakan seorang Gubernur Viktor Laiskodat sebagai kepala daerah mesti kita cermati dan laksanakan sebaik-baiknya.
Kita mengharapkan agar ASN disiplin supaya tidak lagi mengenakan rompi dengan tulisan “Saya Tidak Disiplin”. Jika ini masih terjadi, maka ASN yang melalukan untuk kali kedua tentu saja tidak punya harga diri, tidak menghormati atasan.
Mereka kurang disiplin dalam bentuk terlambat masuk kantor, pulang awal, dan tidak masuk kantor tanpa berita selama ini terkesan menjadi rutinitas dan biasa-biasa saja yang seharusnya dilarang. ♦

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.