Stella Na’u Diplomat Asal Bajawa Berdinas di Kedutaan Inggris

Stella Na'u Diplomat Asal Bajawa Berdinas di Kedutaan Inggris

SIAPAKAH Maria Stella Clarisa Na’u? Dari namanya orang NTT pasti paham. Ia yang kerap disapa dengan Stela Na’u adalah puteri sulung dari Marsel N. Nau asal Bajawa dan Mama Sumiyenta Nuwa asal Wudu Boawae Nageko NTT. Karya Stella memang gemiliang, tiada putus. Setelah menyelesaikan studinya di Parahyangan Bandung Jurusan Hubungan Internasional, Stella terjun ke dunia jurnalistik sebagai Wartawan Metro TV, juga di Voice of Amerika atau VOA. Sebagai jurnalis dan kini menetap di Lodon, Inggris, Stella kerap beraudiensi dengan pejabat-pejabat penting Indonesia yang berkunjung ke London termasuk Presiden Jokowi beberapa waktu lalu.
Dan ketika Gubernur NTT Vicktor Bungtilu Laiskodat, Wagub NTT Josef A Nae Soi sempat berdialog berbagai persoalan internasional.Stella memang piawai sesuai jurusan studinya Hubungan Internasional. Berikut catatan kecil sang ayah Marsel N. Nau,” Terlahir Maria Stella Clarisa Na’u, TKK, SD di St. Clara Surabaya, SMP Katholik AC II Surabaya, SMA Negeri IX Surabaya. Melanjutkan Study pada Universitas Katolik Parahyangan Bandung, Fakultas Sospol, Jurusan Hubungan Internasional (HI). Setelah tamat, Bekerja di METRO TV, sebagai Wartawan dan Reporter, Menjadi Pekerja di VOA Washintong DC, sambil mengikuti Short Course di sana… Kembali ke Indonesia, masih bekerja di METRO TV, setelah dua tahun pindah dan bekerja pada Rixton Political and Public Afair Consultan di Jakarta. di sela-sela bekerja, Stella mengikuti testing di Chevning Fondation salah satu lembaga asal Inggeris dan berhasil Lulus, mendapat Beasiswa Chevning untuk Study S2 Political Comunication n Public Afair pada GOLDSMITH UNIVERSITY OF LONDON. Kemudian Mengikuti Pemilihan Presiden PPI – UK, Merupakan satu-satunya wanita yang mengikuti pencalonan untuk tugas ini bersaing dengan empat calon lain yang kesemuanya pria, bahkan ada yang sedang mengambil S3. Stella akhirnya dipilih dan dipercaya oleh mayoritas Mahasiswa Indonesia di Inggeris Raya untuk mengemban tugas ini. Disamping Study, dia harus pandai-pandai bagi waktu karena PPI UK merupakan salah satu organisasi yang membantu KEDUBES RI di London untuk memfasilitasi para petinggi Indonesia jika bertugas ke Inggeris Raya.

Stela Nau
Kisah di kala itu, “Stela Nau merupakan jurnalis Metro TV yang selama dua tahun terakhir bertugas meliput Presiden dan Wakil Presiden RI. Sejak menjadi reporter di tahun 2012, Stela fokus menggeluti liputan seputar politik dan hukum. Stela juga pernah mendapatkan beasiswa menjadi jurnalis internasional di Voice of America, Washington DC, Amerika Serikat melalui program PPIA -VOA Broadcasting Felloship Program selama tahun 2015-2016. Setelah dipromosi sebagai Produser, Stela kini sibuk menggarap programnya sendiri bernama '360' yang mengangkat fakta-fakta sosial juga politik yang terjadi di tengah masyarakat. Selain bekerja, Stela juga sering menyempatkan waktu untuk berbagi ilmu jurnalistik di kalangan akademisi, pemerintah dan perusahaan.

Iman Seorang Stella
♦ Minggu pagi ini, saya sengaja memutuskan untuk ke gereja di sela-sela kesibukan kerja. Hubungan saya dengan gereja memang sudah tidak seintens saat saya masih kecil, namun kedekatan saya dengan Sang Pencipta terasa lebih bermakna disamping berdoa. Itu yang saya yakini ketika lima tahun lalu memutuskan diri menjadi seorang wartawan. Saya menemukan jiwa saya lebih haus untuk berbuat sesuatu yang berdampak, yang mampu membuat hidup orang lain lebih ringan. Lagi-lagi, itulah yang saya yakini. Terlepas dari semua kekurangan dan kelemahan saya, kaki ini mencoba bergerak kembali masuk ke gereja. Dalam hati berkata,”Ah rindu sekali. Bisa ke gereja sendiri tanpa merasa ini jadi sebuah hal yg wajib atau penyenang hati orang tua. Tapi benar-benar diri sendiri yang rindu setengah mati”
♦ Saat pastor memasuki ruang gereja, saya tersadar bahwa hari ini umat katolik memperingati Hari Raya Tritunggal Maha Kudus. Jadi ingat dulu beberapa kali teman saya pernah bertanya,
♦ “Agamamu aneh juga ya Stel. Kok Tritunggal. Tuhan kan cuma satu. Kok ada Allah Bapa, Allah Putra, Allah Roh Kudus. Apaan tuh”
♦ Kalau dulu ditanya seperti itu, saya cuma bisa tersenyum. Pertama, karena saya malas berdebat masalah keyakinan yang masing-masing juga belum tentu paham agamanya sendiri sendiri. Kedua, agamamu agamamu agamaku agamaku. Prinsip umat Muslim yang saya pakai bagi mereka yang seringkali menanyakan kulit dibandingkan isi. Hidup di Indonesia sebagai minoritas, saya memilih untuk tidak terlibat dalam perdebatan superficial semacam itu. Namun siang ini ada esensi yang berbeda. Khotbah Romo Da Gomez di Gereja Santa Theresia seolah menyadarkan saya bahwa saya tidak boleh diam ketika ada yang bertanya mengenai Tritunggal Maha Kudus. Romo Da Gomez, mengambil sebuah cerita dari kalangan umat Budha yang menurut saya sangat menarik dipakai sebagai kacamata dalam hidup kita. Ya kita, anak muda milenial. Begini ceritanya,
♦ Alkisah hidup seorang saudagar pengrajin sisir yang terbuat dari kayu sedang membuka lowongan kerja bagi warga kampung di daerahnya. Saudagar ini menerima begitu banyak lamaran yang masuk, bukan sekedar puluhan tapi ratusan. Seleksi demi seleksi dilakukan hingga akhirnya ada tiga kandidat terbaik yang terpilih untuk melaksanakan satu tugas terakhir. Tugas yang diharapkan mampu membantu sang saudagar untuk memperoleh pendapatan lebih. Ketiga kandidat ini diminta untuk menjual ratusan sisir kayu kepada sejumlah biksu di berbagai wihara. Tiga-tiganya pun pusing. Bagaimana seorang biksu yang notabene botak mau membeli sisir? Mereka mengolah otaknya semalaman. Kandidat A pun mencoba peruntungannya.
Saat kembali sang saudagar bertanya bagaimana hasil penjualannya. Kandidat A mengatakan dirinya dimarahi oleh para biksu di wihara karena dianggap sengaja menghina penampilan mereka. Namun saat kandidat A hendak pulang, ada seorang biksu muda yang berlari mengejar dari belakang untuk membeli sisir kayu tersebut untuk menggaruk kepala nya jika suatu waktu gatal. Beralih ke kandidat B, dirinya melihat peluang di sebuah wihara yang ramai dipadati oleh pengunjung. Berpegang pada instingnya, Kandidat B lantas menawarkan kepada para biksu setempat agar mau membeli sisir kayunya bukan untuk para biksu tapi sebagai fasilitas bagi umat yang hendak berdoa kepada Budha. Karena letak wihara yg cukup tinggi, banyak umat yang kemudian tiba di wihara dengan rambut berantakan akibat tertiup angin. Para biksu ini kemudian setuju dan membeli puluhan sisir kayu. Sementara Kandidat C, saat mendengar pemaparan Kandidat B, langsung menyatakan cerita yang tak jauh berbeda. Namun bedanya Kandidat C bercerita kepada saudagar, bahwa sisir kayu yang dijualnya jauh lebih banyak bahkan bisa ratusan. Hal ini lantaran ide kandidat C yang meminta para biksu menjadikan sisir kayu sebagai souvenir dimana pada gagang sisir dibubuhkan tanda tangan biksu yang dituakan atau dalam hal ini kepala wihara.
♦ Cerita singkat tersebut kalau hanya didengar sekali memang terasa biasa saja. Siapapun bisa punya ide seperti ketiga kandidat yang dipilih sang saudagar. Tapi pemahaman itu kita dapatkan, hanya kalau kita cuma tertarik pada kulit cerita, dibanding isi/esensi ceritanya. Tritunggal Maha Kudus yang saya pahami hari ini bukan sekedar tatanan lirtugis yang menunjukan bahwa jika Sang Pencipta mau, maka dia bisa menjadi siapa saja dan melakukan apa saja. Tetapi lebih kepada pandangan hidup yang diwariskan oleh Yesus, bahwa dalam hidup ini peran dan peluang kita pun bermacam-macam. Dalam menjalaninya, akan ada banyak tantangan. Mungkin tantangan tersebut seringkali tidak masuk akal, namun ada juga yang bisa diselesaikan. Peran, peluang dan tantangan seringkali datangnya berurutan. Tapi satu hal yang perlu diingat, ada hal yang bisa kita selesaikan dan ada hal yang tidak bisa bahkan untuk sekedar dipahami.” ♦ wjr/berbagai sumber

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.