Surat terbuka untuk Menteri Pendidikan

Surat terbuka untuk Menteri Pendidikan

Terus terang pernyataan sampean yang dimuat di Jawa Pos tanggal 4 Desember 2017 membuat saya sangat kecewa. Sekali lagi sangat kecewa, karena sangat merendahkan pendidikan orang2 NTT. Ketika saya masih memimpin koran Suara Indonesia di Malang 1982 – 1984, sebagai Redaktur Pelaksana, sampean beberapa kali datang ke kantor saya menitipkan tulisan sampean untuk dimuat. Sebagai penentu di koran itu saya ingin menjadikan para penulis baru di Malang memberi kesempatan untuk berkembang.
Sampean pun beberapa kali meminta kami dari Suara Indonesia mengajar jurnalistik di kampus sampean.
Seingat saya pada saat itu banyak dosen senior asal NTT mengajar juga di kampus2 di Malang seperti Dr Pigawahi dll. Rektor ITN Malang juga Prof. Dr Ir Abraham Lomi berasal dari NTT. Dr Willa Huki sebelum meninggal sempat mnidrikan sebuah Universitas di Malang.
Ketika Republik ini baru berdiri, sarjana kita hanya 90-an orang. Saat itu NTT telah memiliki 3 orang Professor dan beberapa dokter dan mester inderechten (Sarjana hukum). Dua professor itu, Prof. Dr W. Z Johannes menjadi rektor di UI dan Prof. Dr Ir H. Johannes Rektor UGM. Sedang Prof. J. L. Ch. Abinineno ikut mendirikan Sekolah Tinggi Theologia, Jakarta.
Di Palembang, dekan pertama FE Sriwijaya adalah Dr Sam Tanya. Bukan itu saja. Pemimpin Sekolah pendidikan Kepolisian di Mojokerto adalah Jonathan Rohi, dan Pendidikan AL pertama di Tegal dipimpin Mayor Laut Alexander Abineno.
Generasi berikut Prof Thobie Mutis dan Martin Thomas juga menjadi rektor pada Universitas2 tersohor di Jakarta. Belum beberapa profesor yang mengajar di Universitas2 lain seperti Prof. Likadja di Unhas Makassar, dan Prof. Nico Kana di Salatiga dll. Bahkan Prof Dr Willy Toisuta menjadi rektor di sana.
Coba, iseng2 Pak Menteri menghitung berapa ribu jumlah mahasiswa mereka yang sudah tersebar yang menjadi agen pembangunan di negeri ini.
Tentu dalam kedudukan tinggi sekarang, saya tak heran apabila sampean sudah lupa siapa penulis surat ini.

Salam hormat saya.
Peter A. Rohi, Rangkas Bitung

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.