Terlalu murah 500 dolar AS masuk ke TNK

Terlalu murah 500 dolar AS masuk ke TNK

KEPALA Dinas Pariwisata Nusa Tenggara Timur Marius Jelamu mengatakan biaya tarif masuk ke kawasan wisata Taman Nasional Komodo (TNK) di Manggarai Barat, Pulau Flores yang ditetapkan sebesar 500 dolar AS per wisman, sebenarnya masih terlalu murah.
“500 dolar AS bagi setiap wisman itu tergolong sangat murah, karena mereka tidak saja mengujungi Pulau Komodo untuk melihat dari dekat binatang purba raksasa Komodo (varanus komodoensis), tetapi juga obyek wisata lain yang ada dalam kawasan TNK,” kata Marius kepada Antara di Kupang, Jumat 7 Desember 2018.
Dia mengemukakan hal itu berkaitan dengan kontroversi seputar rencana Pemerintah NTT menaikkan biaya masuk ke TNK sebesar 500 dolar AS bagi wisman, 100 dolar AS bagi wisnu dan 50.000 dolar AS untuk setiap kapal wisata yang berlabuh dalam kawasan TNK.
Selama ini, biaya masuk ke TNK untuk wisman ditetapkan sebesar Rp250.000/orang, pengunjung umum untuk Rayon III ditetapkan Rp150.000 dan Rp5.000 untuk wisatawan nusantara (wisnu), sedang penetapan tarif masuk untuk Rayon II adalah Rp250.000 per wisman dan Rp20.000 per wisnu. Sementara penetapan tarif masuk untuk Rayon I sebesar Rp200.000 per wisman, dan Rp10.000 per wisatawan nusantara. “Jadi menurut saya, 500 dolar AS itu masih sangat murah, karena wisatawan asing diberi kesempatan untuk mengunjungi obyek wisata lainnya dalam kawasan TNK, seperti Pulau Rinca, Pulau Padar, Pantai Pink, wisata bawah laut, Pulau Kenawa serta Manta Poin untuk menonton keelokan ikan pari,” demikian Marius Jelamu.

Wisatwan enggan ke Komodo
Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur tidak khawatir terhadap kemungkinan menurunnya arus kunjungan wisatawan ke Taman Nasional Komodo (TNK) ketika rencana kenaikan tarif masuk diberlakukan. “Kami tidak terlalu khawatir dengan menurunnya arus kunjungan wisatawan ke TNK setelah pemerintah memberlakukan tarif masuk ke TNK,” kata Kepala Dinas Pariwisata Provinsi NTT Marius Jelamu kepada Antara di Kupang, Kamis 6 Desember 2018.
Ia mengatakan hal itu menanggapi pertanyaan seputar kemungkinan berkurangnya arus kunjungan wisatawan ke Taman Nasional Komodo di Kabupaten Manggarai Barat, Pulau Flores, akibat kenaikan tarif yang direncanakan Pemerintah Provinsi NTT. Nilai tarif masuk yang dipatok sebesar 500 dolar AS atau setara Rp7,2 juta untuk wisatawan mancanegara dan 100 dolar AS atau setara Rp1,4 juta untuk turis domestik.
Selain itu, pungutan terhadap setiap kapal pesiar yang masuk ke kawasan TNK, dikenakan 50.000 dolar AS per kapal. Marius mengaku pemerintah NTT tidak khawatir terhadap menurunnya jumlah kunjungan wisatawan karena TNK merupakan warisan dunia yang dipilih UNESCO sejak tahun 1980-an dan juga telah dinobatkan menjadi satu dari tujuh keajaiban dunia (New7 Wonders).
Artinya, keistimewaan satwa purba Komodo (varanus komodoensis) yang tidak dimiliki belahan dunia manapun ini tetap akan menarik perhatian masyarakat dunia. “Karena satwa Komodo ini istimewa, langka dan sangat unik maka wajar jika tarif masuk ke sana mahal,” katanya.
Menurutnya, para wisatawan mancanegara yang memahami secara lebih detil tentang keberadaan satwa Komodo akan bisa menerima rencana kenaikan tarif tersebut. “Kalau wisatawan berkelas dan berkualitas, justeru memandang bahwa tarif ini tidak berarti apa-apa jika dibandingkan dengan apa yang diperoleh ketika berkunjung ke sana,” ujarnya.
Ia mengatakan, pemerintah provinsi menginginkan agar TNK menjadi destinasi wisata yang eksklusif karena di dalamnya terdapat ribuan satwa purba Komodo dengan nilai jual yang tinggi untuk berbagai aspek. “Prinsipnya kalau ingin murah meriah yah jangan masuk TNK, tapi kalau mau melihat keajaiban dunia maka harus berkorban dengan biaya masuk yang telah ditetapkan itu,” katanya.
Marius membandingkan tarif masuk yang realitif mahal untuk menikmati destinasi wisata buatan di berbagai negara lain yang hanya mengandalkan keindahan seni arsitektur. Ia mencontohkan seperti tarif masuk ke Stadiun Anfiel di Liverpool yang dijadikan destinasi wisata olah raga mencapai lebih dari 50 pounsterling/orang ditambah lagi dengan biaya mendokumentasikan gambar di dalamnya. “Dibandingkan dengan tarif TNK saat masih jauh lebih murah padahal merupakan destinasi wisata kelas dunia sehingga wajar kalau tarifnya dinaikkan,” katanya.

Kagumi Komodo
Sejumlah wisatawan mancanegara (wisman) menyatakan kekagumannya terhadap keindahan alam di kawasan wisata Taman Nasional (TN) Komodo di wilayah Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Maria, wisatawan dari Texas, Amerika Serikat, yang ditemui Antara di Pulau Padar yang masuk dalam kawasan wisata Taman Nasional Komodo (TNK), Kamis 29 November 2018, mengaku bahwa dirinya baru pertama kali mengunjungi kawasan wisata di NTT itu. “Ini pertama kali kami berada di NTT, khususnya berlibur ke sini. Ini indah sekali dan sulit ditemukan di daerah lain,” katanya.
Dirinya mengunjungi TNK bersama dengan pasangannya bernama Martin yang juga berasal dari Amerika Serikat. Maria mengaku dirinya bersama pasangannya tiba di Labuan Bajo, Ibu kota Manggarai Barat pada Rabu (28/11) dan akan berada di Labuan Bajo selama lima hari. “Kami menyewa sebuah speed boat dan hari ini kami berkunjung ke pulau Padar, kemudian kami juga akan melihat Komodo di Pulau Komodo,” ujar dia.
Selama lima hari di Labuan Bajo, ia mengaku akan menyusuri semua kawasan wisata di daerah itu, termasuk jika ada kesempatan akan berwisata ke daerah lain di NTT. Sementara itu, Andreas wisatawan asal Jerman yang ditemui Antara di Pulau Komodo mengaku bersyukur karena bisa melihat secara langsung Komodo (The Dragon) yang sering dibicarakan oleh sejumlah media massa.
Bahkan, kata dia, ia tertarik berkunjung ke Pulau Komodo karena ada promosi yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia di negaranya. “Saya bersyukur bisa melihatnya karena tadi dengar cerita katanya ada yang tak melihatnya secara langsung. Saya dan keluarga saya sempat mengabadikan momen berharga ini.” ujarnya. Bagi dia keindahan alam di TNK tak ada duanya. Oleh karena itu, kata dia, jika ada kesempatan lagi, dia akan kembali lagi ke NTT untuk menikmati keindahan alam lainnya.

Tak Disukai Pasar
Pengamat ekonomi Dr James Adam menilai rencana Pemerintah NTT menaikkan tarif masuk ke Taman Nasional Komodo (TNK) sebesar 500 dolar AS/orang dan 50.000 dolar AS untuk setiap kapal yang berlabuh, terlalu tinggi dan tidak disukai pasar (marketable).
“Hemat saya, kenaikan tarif masuk ke TNK itu terlalu tinggi, dan tidak marketable sebab tidak seimbang dengan kondisi riil yang ada di TNK saat ini,” kata James Adam kepada Antara di Kupang, Kamis 29 November 2018.
Hal ini disampaikan James selaku anggota International Fund for Agricultural Development (IFAD) untuk program pemberdayaan ekonomi, menanggapi rencana Pemerintah NTT menaikan tarif masuk TNK. Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Marius Jelamu mengatakan, pemerintah berencana menerapkan tiket masuk ke kawasan Taman Nasional Komodo (TNK) sebesar 500 dolar AS bagi setiap pengunjung. Selain pengunjung, kapal yang berlabuh di perairan TNK juga direncanakan akan dikenakan biaya sebesar 50.000 dolar AS.
Menurut Marius, sesuai dengan kebijakan Gubernur NTT dengan menempatkan sektor pariwisata sebagai penggerak utama pembangunan ekonomi NTT, maka salah satu langkah yang ditempuh yakni perhatian terhadap kawasan TNK. “Jadi salah satu upaya yakni turut mengelola TNK, kemudian membenahi biaya masuk ke kawasan TNK. Sesuai apa yang disampaikan bapak gubernur, bahwa biaya masuk itu bisa 500 dolar AS setiap pengunjung,” kata Marius.
James Adam mengatakan, rencana Pemda NTT untuk menaikan tarif bagi pengunjung yang masuk ke TNK juga kapal yang berlabuh di kawasan TNI adalah satu gebrakan positif, tentu berkaitan dengan kontribusi terhadap penerimaan daerah. Artinya, tambah James Adam, pemda dapat saja menetapkan tarif dengan jumlah nominal yang tinggi atau rendah, namun harus dengan kajian yang tepat. “Prinsipnya adalah tarif tersebut harus rasional dan marketable, sebab soal tarif akan berpengaruh terhadap wisatawan atau pengunjung TNK,” demikian James Adam.

Kewenangan Pusat
Kepala Balai Taman Nasional Komodo (TNK) Budhy Kurniawan menegaskan pengelolaan taman nasional Komodo di Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur merupakan wewenangnya pemerintah pusat. “Kami sebagai unit organisasi pengelolaan TNK hanya berada pada tataran operasional. Kami hanya sebagai pelaksana, bukan pengambil kebijakan. Penentu kebijakan ada di pemerintah pusat,” kata Budhy Kurniawan kepada Antara di Kupang, Kamis 29 November 2018.
Dia mengemukakan hal itu, menjawab pertanyaan melalui pesan singkat terkait keinginan Pemerintah Provinsi NTT untuk terlibat dalam pengelolaan Taman Nasional Komodo di ujung barat Pulau Flores, NTT itu. Artinya, lanjut dia, bisa tidaknya TNK itu dikelola oleh pemerintah daerah, harus melalui proses yang difasilitasi oleh pemerintah pusat. “Jadi saya kira sebagaimana mekanisme yang ada, berupa ruang kerja sama sesuai dengan dasar aturan yang ada,” katanya menambahkan.
Kepala Dinas Pariwisata NTT Marius Djelamu secara terpisah mengatakan Gubernur NTT menginginkan agar Taman Nasional Komodo bisa memberi kontribusi PAD bagi daerah NTT. “Karena itu beliau menginginkan agar Pemprov NTT, pemerintah pusat, dan Pemkab Mabar mengambil bagian dalam pengelolaan agar bisa membawa dampak ekonomi bagi masyarakat NTT,” katanya.
Menurut dia, saat ini sedang berproses, bahkan sudah melakukan rapat internal di tingkat provinsi, kemudian akan melakukan koordinasi lanjutan dengan pemerintah pusat. “Kami mantapkan dulu secara internal, kemudian baru dikoordinasikan dengan pemerintah pusat,” katanya dan menambahkan secara informal, Gubernur NTT telah membicarakan hal itu dengan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, serta ada kerja sama antara provinsi, kabupaten, dan pemerintah pusat.

Menjaga Kelestarian Komodo
Anggota DPRD Nusa Tenggara Timur dari F-PKB Yohanes Rumat mendukung rencana pemerintahan Gubernur Viktor Laiskodat yang akan menaikkan tarif masuk ke Taman Nasional Komodo (TNK), sebagai salah satu cara untuk menjaga kelestarian satwa Komodo. “Saya sepakat dengan rencana kenaikan tarif masuk ke TNK. Rencana ini semata-mata untuk menjaga kelestarian habitat satwa Komodo itu sendiri,” kata Yohanes Rumat kepada Antara di Kupang, Kamis 29 November 2018.
Ia mengatakan hal itu menanggapi recana pemerintahan Gubernur NTT Viktor Laiskodat yang akan menerapkan tiket masuk ke kawasan Taman Nasional Komodo (TNK) sebesar 500 dolar AS bagi setiap pengunjung. Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat sebelumnya menegaskan pemerintahannya akan ikut mengelolah kawasan wisata Komodo agar objek wisata itu bisa memberikan keuntungan bagi pemerintah daerah. Salah satu rencana pengelolaan tersebut yakni dengan menaikkan tarif masuk maupun tarif kapal yang berlabuh di perairan TNK akan dikenakan biaya sebesar 50.000 dolar AS.
Yohanes menilai rencana kenaikan tarif itu tidak hanya mempertimbangkan untung dan rugi pengelolaan objek wisata tersebut, melainkan sebagai salah satu cara untuk mempertahankan kelestarian Komodo sebagai satu-satunya binatang purba raksasa di dunia saat ini.
Ia mencontohkan, jumlah kunjungan saat ini sebanyak 100 orang akan sama dengan kunjungan satu orang pada waktunya. “Sementara dampak terhadap satwa Komodo antara yang 100 orang akan jauh berbeda dengan hanya satu orang saja,” kata Wakil Ketua Asita NTT itu. Ia mengatakan masih banyak pandangan publik yang menilai bahwa objek wisata TNK sama dengan kebun-kebun binatang pada umumnya di Indonesia.
Padahal, lanjutnya, TNK ini berbeda dengan lainnya karena merupakan binatang langka dan hanya ada satu-satunya di dunia sehingga ditetapkan menjadi salah satu dari tujuh keajaiban dunia (New7 Wonders). Ia mengatakan recana kenaikan tarif masuk ke TNK itu pasti menimbulkan pro dan kontra dalam masyarakat, namun pada prinsipnya apa yang dilakukan pemerintah demi menjaga kelestarian satwa purba raksasa itu. “Tentu kita tidak mau jika Komodo hanya tinggal kenangan, sehingga bagaimana pun harus dipikirkan jangka panjangnya mengenai dampak keberlangsungan hidup satwa purba tersebut,” katanya. ♦ kupang.antaranewsntt.com

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.