“Tiga Mak-mak kampanye hitam”

“Tiga Mak-mak kampanye hitam”
HATI seorang ibu, selembut dan seputih kapas. Selalu berkata dalam bahasa “Kasih” bukan bahasa perpecahan. Kelembutan seorang ibu menawarkan hati “ayah” yang galak dan temperamen. Seorang ibu akan mengorbankan kebahagiaan dirinya sendiri untuk kebahagiaan anaknya atau orang lain. Ini kata fakta bukan kiasan belaka. Ibu yang selalu mendahulukan kebahagiaan orang lain dan tidak dipengaruhi oleh siapapun yang membayarnya dengan mahal.
Hati ini teriris bagai ditikam sembilu menyaksikan tiga orang ibu yang mengenakan hijab di Karawang, Jawa Barat. Tiga ibu-ibu yang mereka, saya menyebut penjahat kemanusiaan melakukan kampanye hitam atau hoaks atau berita bohong terhadap Joko Widodo-Ma’ruf Amin. Ketiga ibu yang oleh mereka disebut ‘mak-mak’ ini akhirnya ditangkap polisi pada Minggu 24 Februari 2019 tengah malam sekitar pukul 23.30. Ketiga ibu disinyalir melanggar Pasal 14 ayat (1) UU Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana tentang menyebarkan berita bohong. Hukumannya sangat lama, menurut saya, enam tahun.
Ketiganya berasal dari kelompok bernama Partai Emak-emak Pendukung Prabowo-Sandi (Pepes). Hal ini dibenarkan sendiri oleh juru bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Ferdinand Hutahaean kepada CNN Indonesia. Berbahagiakah ketiga ibu atas perbuatan kotor ini? Menurut saya sangat tidak bahagia. Dibayangkan ke depan ketiga ibu ini, harus mendekam dibalik terali besi. Jika demikian, sejak ditahan polisi, ketiga ibu ini, tidak bebas berbicara, tidak leluasa berkeliling sambil menyebarkan hoaks dan menghina orang baik seperti Jokowi dan Ma’ruf.
Ketiga ibu ini harus kehilangan hak dan kebebasa. Sukacita, bahagia berubah menjadi derita. Tidak lagi melayani suami, candaria bersama anak atau tetangga. Inilah upah tindakan jahat yang dibayar sekelompok orang agar melakukan tindakan takperuji dengan memfitnah orang yang sangat baik seperti Jokowi- Ma’ruf.
Kampanye hitam atau berita hoaks memang sengaja diproduksi sekian banyak oleh pasangan-Prabowo-Sandi dan timnya. Ini yang saya dengar, saya lihat dan saya baca melalui media. Saya sendiri jadi bosan, jenuh melihat tingkah laku buruk dan jahat. Kemana saja Sandy.. dalam safari politiknya selalu menanyakan terutama kepada kaum ibu soal harga barang, soal harga cabe dan lain-lain. Di satu sisi, manusia Indonesia saat ini biasa-biasa saja.
Tidak ada warta luar biasa ada manusia yang mati karena tidak mampu belanja Sembilan bahan pokok. Normal-normal saja, tetapi demi meraih kekuasan kampanye hitam sengaja di produksi sebanyak mungkin. Toh, ketiga mereka memimpin, tak mungkin membantu sepeserpun bagi ibu-ibu yang mengeluh soal tinggi harga Sembilan bahan pokok. Ingin bahwa hidup hanya sekali dan hanya sementara.Yang lama dana abadi hanya Sang Pencipta. Dan tolong dicatat bahwa siapapun presiden terpilih, hari Minggu tetap tanggal merah.
Bukan karena ketiga ibu yang sebarkan kampanye hitam mampu merubah hari Minggu jadi hari kerja. Saya harus tegaskan tidak, tidak dan tidak. Jangan hanya karena menerima bayaran rupiah beberapa lembar untuk belanja sayur yang mahal harus ditebus dengan tinggal dalam bui sekian tahun. Malunya sampai mati dan tak bisa ditebus atas kesalaman yang telah diperbuat.
Saya prihatin, dengan contoh ketiga ibu di Karawang Jawa Barat ini. Semoga ibu-ibu lain se-Nusantara tidak mengikuti jejak ketiga ibu, yang berwatak kasar dan busuk.
Aksi ibu-ibu ini direkam dan diedarkan oleh pengguna Twitter dengan nama akun @citrawida5. Video itu diduga dibuat pada 13 Februari 2019. Pada video itu terlihat alamat rumah Perumahan Gading Elok 1, Blok 014 nomor 12A, RT 004 RW 029, Karawang. Dalam video itu ibu-ibu door-to-door mempengaruhi warga agar tidak memilih paslon nomor urut 01 karena alasan yang mengada-ada.
Inilah kalimat ketiga ibu yang diperbincangkan dalam bahasa Sunda,”Moal aya deui sora azan. Moal aya deui nu make tiung. Awewe jeung awewe meunang kawin; lalaki jeung lalaki meunang kawin. “Kata-kata ibu-ibu dalam video yang direkam. Artinya: [jika Jokowi-Ma’ruf yang menang Pilpres 2019] tidak akan ada lagi suara azan, tidak akan ada lagi yang pakai kerudung. Perempuan dan perempuan bisa menikah; laki-laki dan laki-laki bisa menikah).
Perlu ditegaskan, pernyataan-pernyataan ini tak pernah keluar dari mulut Jokowi atau Ma’ruf, juga oleh semua tim sukses mereka di Tim Kampanye Nasional (TKN). Kita mengharapkan pengadilan negeri memvonis ketiga ibu ini dengan hukuman sesuai perbuatannya. Tuhan, tidak pernah tidur. ♦

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.