UNIPA Lakukan Tes Urin Mendadak Terhadap Dosen dan Pegawai

UNIPA Lakukan Tes Urin Mendadak Terhadap Dosen dan Pegawai

Universitas Nusa Nipa melakukan drug test atau tes narkoba terhadap dosen dan pegawai. Tes urin dengan metode rapid test tersebut sengaja dilakukan sebagai bentuk pertanggungjawaban publik menyusul tertangkapnya salah seorang dosen akibat kepemilikan ganja. “Hari ini menyikapi musibah yang menimpa salah dosen kami, sebagai langkah etika moral, perlu melakukan tindakan strategis untuk menunjukkan kepada publik bahwa lembaga ini melawan dengan keras tindakan melanggar UU 35 Tahun 2009 tentang Narkotika,” tegas Wakil Rektor I, Dr. Jonas K.G.D. Gobang, S.Fil, MA di Aula Nawacita pada Senin (24/09/2018).
Ditambahkannya, drug test rapid test urine tersebut untuk memastikan para dosen dan pegawai di UNIPA tidak menggunakan narkoba jenis apa pun. “Ini bukan hal baru. Setiap dosen pada awal mengajukan permohonan menjadi dosen pun wajib menunjukkan Surat Keterangan Bebas Narkoba,” terangnya. Bila ada dosen atau pegawai yang teridentifikasi menggunakan narkoba maka UNIPA akan memberikan sanksi berat. Sementara itu, dr. Iwan Nugroho dari Laboratorium Klinik Mahardika yang dipercaya melakukan tes menerangkan ada 6 parameter yang digunakan. Enam parameter tersebut yakni TAC (zat aktif dalam ganja), amphetamine, methamphetamine, benzodiacefic dan Coc. “Ini menggunakan sampel urin sewaktu jadi tidak perlu puasa,” terangnya. Pantauan VoxNtt.com ratusan dosen dan pegawai mengikuti tes urin. Dosen dan pegawai laki-laki mendapatkan giliran pertama untuk diperiksa.

Dosennya Terciduk
SFK (mengenakan penutup kepala) saat acara jumpa pers bersama Polres Sikka (Foto: Are de Peskim) Seperti diberitakan Universitas Nusa Nipa (UNIPA) Maumere akhirnya buka suara terkait status SFK. Dalam konferensi pers Senin 24/ September 2018 di Aula Nawacita, Wakil Rektor I, Dr.Jonas K.G.D Gobang membenarkan SFK sebagai dosen pada Prodi Arsitektur Fakultas Teknik. “Pelanggaran pidana yang dilakukan SFK merupakan pelanggaran berat berdasarkan kode etik dosen dalam lingkup UNIPA sehingga yang bersangkutan dibebastugaskan dari pekerjaannya sebagai dosen,” terang pria yang akrab disapa Gery Gobang tersebut. Ditambahkannya, SFK sebelumnya pernah diistirahatkan selama setahun dari aktivitas mengajar. Pasalnya, SFK dinilai melakukan tindakan indisipliner. SFK sempat dipanggil kembali untuk diaktifkan sebagai dosen pada tahun ajaran 2018/2019. “Yang bersangkutan sedang dalam pembinaan dan diberi uji coba dengan program mengajar sebanyak 6 SKS,” ungkapnya. Dibebastugaskannya SFK berdasarkan Nota Dinas Ketua Pengurus Yayasan 29/YPT.NN/IX/2018 tanggal 24 September 2018. Terkait proses hukum terhadap SFK, Gery menegaskan UNIPA mendukung penuh proses penegakan hukum kasus tersebut.

Minta Maaf
SK, tersangka kasus kepemilikan Narkotika Golongan I jenis ganja menyesali perbuatannya. “Saya menyesal. Mewakili diri sendiri dan keluarga saya menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat,” ujar SK dalam konferensi pers di Polres Sikka pada Jumat (21/9/2018). S.K. dihadirkan ke ruang konferensi pers dengan mengenakan penutup muka. Ia mengenakan baju kaos oblong dan celana pendek. Terkait peran S.K, Kapolres Sikka, Rickson Situmorang menjelaskan tersangka karena sedang menguasai Narkotika Golongan I jenis ganja. “Pengakuannya ganja ini dibeli dengan harga Rp 1 juta dan sudah dimiliki sejak Agustus 2018,” terang Rickson. Selain kepemilikan 2 linting rokok warna putih yang diduga ganja, hasil dari penggeledahan anggota Satres Narkoba Polres Sikka ditemukan 1 bungkus plastik warna bening berisi ganja. Belum diketahui berapa berat ganja yang dimiliki S.K. “Kita masih tunggu hasil pemeriksaan lab untuk ganja dan urin,” tandas Rickson. Hasil pendalaman penyidik, ganja tersebut dibeli S.K. dari seorang berinisial A.W yang diduga berdomisili di Ende. Terkait hal itu Rickson mengaku pihaknya telah berkoordinasi dengan Polres Ende. ♦ voxntt.com

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.