Uskup Hubertus Leteng Ditugaskan di Keuskupan Bandung

Uskup Hubertus Leteng Ditugaskan di Keuskupan Bandung

Uskup Hubertus Leteng yang tahun lalu mengundurkan diri dari posisinya sebagai Uskup Ruteng pasca munculnya tuduhan dari para imamnya sendiri bahwa ia menggelapkan dana Gereja dan berselingkuh dengan seorang perempuan, telah dipindahtugaskan ke keuskupan lain.
Langkah ini memicu kritik di kalangan imam, juga umat awam.
Romo Siprianus Hormat, sekretaris eksekutif Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) mengonfirmasi kepada ucanews.com pada 9 Desember perihal penugasan baru ini.
“Uskup Bandung yang menyertai semua proses selama ini diberi wewenang untuk memberikan beliau kesempatan melayani paroki dalam status penuh sebagai uskup, tapi tanpa tongkat,” kata Romo Sipri.
Dengan status tanpa tongkat berarti ia tidak memiliki wilayah kekuasaan gerejawi.
Ia menjelaskan, sejak pengunduran dirinya pada Oktober tahun lalu, Uskup Bandung, Mgr Antonius Subianto Bunjamin OSC yang  menyelidiki kasusnya telah didelegasikan oleh Vatikan untuk mengawasinya.
Uskup Leteng mengundurkan diri setelah 69 imam di Keuskupan Ruteng menyerahkan surat pengunduran diri sebagai bentuk protes terhadapnya karena ia diduga secara diam-diam meminjam dana Rp 1,25 miliar dari KWI dan Rp 400 juta dari keuskuapn, tanpa memberikan laporan pertanggungjawaban.
Uskup Leteng mengklaim uang itu digunakan untuk membiayai pendidikan pemuda miskin yang studi pilot di Amerika Serikat, tetapi menolak memberikan penjelasan lebih rinci terkait pemuda itu.
Para imam menduga uang itu diberikan kepada seorang wanita yang mereka duga sebagai selingkuhannya. Tudingan perselingkuhan ini awalnya muncul pada tahun 2014, yang diungkap oleh salah seorang mantan pastor.
Uskup Leteng berulang kali menolak tudingan terhadapnya dan menyebut bahwa itu merupakan fitnah. Pada bulan Agustus, Vatikan menunjuk Uskup Subianto untuk menyelidiki kasus tersebut, yang berujung pada pengunduran Uskup Leteng.
Vatikan tidak memberikan alasan pengunduran dirinya. Namun, sejumlah imam yang ikut dalam pertemuan dengan delegasi Vatikan kala itu mengatakan, Uskup Leteng diminta untuk mengembalikan uang yang diambilnya dan memutuskan hubungan dengan wanita yang dituding sebagai selingkuhannya.
Pastor Kletus Hekong, dosen Hukum Gereja di Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero, Maumere mengatakan, penugasan kembali Uskup Leteng adalah wewenang Vatikan.
Ia juga mengatakan, pada dasarnya, ia tetaplah uskup, karena pengunduran dirinya hanya dari tugas pastoral Keuskupan Ruteng, bukan dari tugas sebagai uskup dan imam.
“Uskup Bandung tahu soal layak-tidaknya (untuk diberi tugas lagi),” katanya kepada ucanews.com.
Ia juga menambahkan, semua hukuman dalam Gereja bersifat medisinal, yang berarti hukuman dicabut jika ada pertobatan.
Pertobatan itu, tambahnya, tidak harus disampaikan lewat pernyataan. “Dari seluruh sikap dan perilakunya dapat dibaca mengenai indikasi pertobatan itu. Bisa juga karena soal yang dituduhkan kepadanya ternyata lain. Hanya pimpinan Gereja yang berwenang yang bisa menilainya,” jelas Pastor Kletus.
Sementara itu, Pastor John Mansford Prior, dosen misiologi di STFK Ledalero mengkiritisi soal pola penanganan kasus ini, di mana tidak ada keterbukaan dari Vatikan untuk menjelasakan secara resmi apa saja masalah yang dilakukan Uskup Leteng dan bagaimana pola penanganannya hingga kemudian ia diberi tugas kembali.
Andai kemudian penugasan ini dianggap sebagai bagian dari upaya mengampuni apa yang sudah dilakukan Uskup Leteng, Pastor John mengingatkan bahwa dalam Gereja Katolik pengampunan terhadap kesalahan adalah fase terakhir, setelah fase pemeriksaan batin, mengaku dosa, menyatakan tidak akan mengulangi dosa itu lagi dan menerima absolusi. “Boleh jadi Leteng sudah memeriksa batinnya, (tapi) dia belum mengaku kesalahannya,” katanya kepada ucanews.com.
“Kalau mau mengampuni Leteng, saya orang pertama yang siap (untuk itu), tapi saya mau ampun dosanya yang mana?,” tambahnya.
Ia menjelaskan, kesalahan yang dilakukan Leteng itu adalah skandal di tengah umat, dan karena itu seharusnya gereja transparan untuk menjelasakannya.
Sementara itu, Rikard Rahmat, salah seorang awam Katolik yang terlibat dalam gerakan mendorong mundurnya Uskup Leteng menyebut penugasan kembali itu kesannya tergesa-gesa, kurang memperhitungkan sensus fidei atau perasaan iman umat, terutama umat Keuskupan Ruteng.”
“Ini juga preseden kurang bagus bagi Gereja Indonesia, seakan-akan skandal semacam itu bukan sebagai sesuatu yang serius, tetapi pelanggaran yang ringan-ringan saja,” katanya.
Jashinta Hamboer, tokoh awam perempuan yang pernah menulis surat terbuka menuntut Uskup Leteng untuk mundur mengatakan, baginya, masalah yang dituduhkan ke Uskup Leteng adalah skandal yang sangat serius. “Karena itu, ketika mendengar kabar penugasannya ini, saya kaget dan bertanya-tanya, jangan-jangan masalah seperti yang dia lakukan itu sudah dianggap sebagai hal biasa dalam Gereja,” katanya.
Ia juga mengatakan, pola penanganan kasus yang tidak transparan dan tegas bisa melemahkan posisi gereja dalam upaya untuk melawan praktek korupsi dan mendorong akuntabilitas serta transparansi. “Hal demikian akan kehilangan nilainya, ketika di dalam gereja sendiripun masalah seperti ini tidak dianggap sebagai masalah serius,” kata Jashinta. Ia menambahkan, meski demikian, ia memilih untuk menghargai keputusan Vatikan ini dan berharap, masalah yang terjadi di Keuskupan Ruteng tidak kemudian pindah ke Keuskupan Bandung. Sementara itu, Uskup Bandung tidak merespon permintaan ucanews.com untuk memberi penjelasan terkait hal ini.

Tanggapan warga
Jenny Marisa says: Jika nama seorang pejabat gereja setinggi uskup sdh dikaitkan pada suatu skandal (apapun) menurut hemat saya jangan diwariskan ke keuskupan lain. Penanganan ya menurut peraturan yg ada saja dlm gereja.. Selayaknya dan paling pantas adalah beliau mengundurkan diri dari penggembalaan umat dan pensiun saja tanpa kedudukan apapun di tempat asalnya di wisma imam jompo Jangan dihadiahkan ke paroki manapun..
Dedi Suardi says: ”Tradisi” Lama Institusi Gereja. Seberat apapun skandal para Selibater/Imam…Cuma satu solusi… dimutasi ke Tempat lain…. Ternyata “Institusi” Gereja sangat pandai “Mafia”. Menyembunyikan skandal dengan cara-cara yang licik….Kalau sudah begini realitasnya…. Apa bedanya dengan Institusi yang lain….????
Fransiskus Mami says: Saya adalah seorang awam dari keuskupan Ruteng yg juga sangat menyesal dgn skandal yg menimpa uskup Hubertus pada beberapa bulan lalu yg berujung dgn pengunduran diri dari uskup Huber. Dalam benak kmi yg awam kiranya pengunduran diri kemarin tu total bhwa dia keluar dari uskup(pensiun/emeretus) tpi ternyata sekarang Vatikan kembali memberi dia tugas sebagai uskup di Bandung tanpa tongkat saja. Yah Vatikan lebih berkuasa dalam hal penugasan baru.Saya sebagai awam yah ikuti saja barangkali itu yg terbaik buat uskup Huber juga buat umat.Dengan satu harapan kalau skandal yg dituduhkan kemarin itu benar adanya maka uskup Huber sendiri yg tau tentunya dia bertobat dan tidak mengiulanginya lagi.Saya cuma berharap dan berdoa agar peristiwa seperti ini jangan terjadi lagi di kalangan para uskup maupun para imam.
Mosatoba says: Perlu penjelasan yg lebih terbuka ttg hal itu. Misalnya uskup Huber bukan secara publik melayani spt di gereja paroki tetapi pelayanan privat di kapel khusus dan yg dibolehkan utk kelompok tertentu yg hadir utk dilayani.
Sibagariang says: Setinggi-tingginya kebenaran, ketaatan adalah yang paling bijaksana.
JFXKSP says: “diwariskan”, “dihadiahkan”, “selayaknya dan paling pantas”, “sangat pandai “Mafia””, “cara-cara yang licik”, Bagaimana diksi di atas bisa dipertanggungjawabkan sebagai bentuk tanggapan iman terhadap keputusan pastoral Paus?
Berita di atas tidak -atau setidaknya belum- mengekspos dari sisi Mgr. Hubertus selaiknya dari sisi beberapa tokoh dan umat. Seolah bahkan umat punya ruang bicara agak leluasa terhadap kasus” seperti ini? Apa akan disampaikan secara langsung kepada beliau ketika bertatap muka?
“Apa bedanya dengan Institusi yang lain…. ????”
Tunduk satu otoritas. Tunduk.
Refleksi keputusan gembala. Refleksi.
Ini bukan isu politik dan SARA yang bisa disamakan cara meresponnya dengan “diksi dan pikiran kritis, disampaikan secara terbuka supaya pembaca lain terpengaruh sepakat atau tidak”.
Hendaklah cepat mendengarkan, tetapi laun mengucapkan jawabannya. (Sir 5:11)
Salah tidaknya keputusan di atas, Mgr. Hubert -dari bayangan saya- sudah cukup mendengar komentar” seperti di atas. Kita bukan yang pertama, mungkin bukan yang terakhir, dan tidak akan mengubah apapun.
Diperintahkan Tuhan jadi hakimkah kita? atau jadi pengampun?
Yasintus S A Jaar ( Ketua Umum Compang Cama Jakarta dan Ketua Wilayah 7 Paroki Stelka Maris Pluit Jakarta) says:
Yesus tidak Perna menolak siapaun..bila ia ingin bertobat Uskup Hubertus juga Manusia yang tak Pernah luput dari Dosa…sebagai orang awam jelas kaget dan Heran bila seorang Uskup Terlibat korupsi dan Skandal menurut tuduhan yang di tunjukan kepadanya…hanya dia dan Tuhan yang Tau dan tentu Petinggi Vatikan sudah meneliti lebih intes tentang kasus yg di alami atau mungkin kurang cukup bukti sehingga Uskup Hubertus ditugaskan kembali.
Chris says: Seperti kata seorang Santa, “Pada akhirnya itu adalah urusanmu dengan Tuhanmu.”
Yang sibuk dan terjebak untuk menghakimi pada akhirnya tidak mampu mengarahkan hati dan kepercayaan kita kepada ajaran cinta kasih Tuhan. Toh berita itu juga masih simpang siur kebenarannya. Sama seperti kalau setan bertanya, “Sus, Yesus, kenapa sih situ mau repot-repot berbuat baik untuk menyelamatkan manusia dari dosa? Bisa jelaskan secara rinci dan bertanggungjawab ga?.” Dan lagi sebut saja Paulus, Kayafas, ahli-ahli Taurat hingga Herodes, semua petinggi-petinggi itu merasa benar untuk meminta Yesus membuka mulut bukan utk mencari kebenaran tapi justru berharap agar Yesus mengeluarkan statement agar dapat memutarbalikan perkataan untuk dapat alasan untuk menghukum Yesus. Tetap aja Yesus diam dan membiarkan semua umat menilai. Dan nyatanya semua yang telah membunuh Yesus melakukan kesalahan besar karena menfitnah-Nya.
Mengutip kembali perkataan Pastor John di atas,
“Kalau mau mengampuni Leteng, saya orang pertama yang siap (untuk itu), tapi saya mau ampun dosanya yang mana?,” tambahnya.
Saya jadi malu mendengernya, kenapa harus Pastor John yang pertama merasa siap? Lihat Tuhan itu lho, pengampunan dosa itu semua pertama kali berasal dari pada Tuhan bukan manusia. Tugas Pastor John pun jangan berharap orang datang ngaku dosa dan minta ampun. Pastor adalah hamba Tuhan lah, jangan merasa lebih baik dan pantas , tapi kasihi dan cintai kalaupun itu terbukti dia salah. Lha kalau tidak? Bukannya statement itu mengarahkan orang untuk mengakui hal yang ternyata itu bukan dosa?
“Boleh jadi Leteng sudah memeriksa batinnya, (tapi) dia belum mengaku kesalahannya,” katanya (Pastor John) kepada ucanews.com. Lagi-lagi saya berpikir apakah pemeriksaan batin harus sampai mengakui kesalahan yang dituduhkan orang kepadanya? Dengar kata, “tuduh” aja saya jadi merasakan kesalahan itu harus diterima mentah-mentah. Kan belum tentu benar. Masak harus dipaksakan?
Lagian pun setahu dan seingat saya pengakuan dosa itu adalah Sakramen yang sangat intim dengan Tuhan. Sifatnya sangat personal. Imampun tidak boleh membuka dosa orang kepada umat jika dilakukan dalam Sakramen Tobat. Sekalipun Uskup Leteng mengaku dosanya dalam sakramen kepada Pastor John, apakah Pastor John berani membuat pengumuman ke umat tentang dosa tersebut?
Sekalipun juga bukan dalam Sakramen, apakah itu harus dipertontonkan kepada umat tanpa pertimbangan aspek gereja yang satu, kudus, katolik dan aspotolik?
Jadi berhentilah untuk mencari kesalahan dan pengakuan dosa yang simpang siur. Mari kita percayakan kepada Tuhan saja dan kepada Vatikan dalam doa dan cinta kasih.
Saya sendiri bukan orang yang mau membela Uskup Leteng. Namun saya hanya prihatin isu ini menjadi opini-opini yang luas dan berpotensi memecah belah umat. Kalau mau jujur dan adil, coba saja itu 69 imam yang mau undur diri karena kesalahan yang di duga diperbuat Uskup Leteng memaparkan secara jelas, rinci, transparan dan bertanggungjawab apa kesalahannya? Buktikanlah sampai rinci sehingga jelas sejelas-jelasnya. Kalau tidak mampu membuktikan rincian kesalahannya, saya cuma mau berpikir antara sebuah ambisi atau iri hati? Kalau cuma berharap Uskup Leteng harus mengakui tuduhan itu apakah itu adil atau iri hatikah kamu karena dia bermurah hati kepada seorang pemuda miskin yang disekolahkannya? Terlepas minyak Narwastu dapat digunakan untuk kebaikan yang lain tapi Yesus sendiri membiarkan orang lain menggunakannya untuk diri-Nya agar juga melihat lebih dalam batin kita apakah ini bentuk untuk membela sebuah kebenaran atau malah semata rasa iri hati. Semoga 69 imam tadi tidak menjadi ahli-ahli Taurat dan Farisi zaman now.
Kita ini gereja dan kita memiliki hukum gereja. Persoalan ini persoalan gereja dan biarkan diselesaikan dengan hukum gereja. Jika tidak puas jangan pakai hukum dunia apalagi hukum negara.
Kita gereja pertama-tama memiliki Hukum Cinta Kasih. Jika kacamata ini yang dipakai yakinlah masalah ini dapat disikapi dengan bijaksana. Jangan sampai karena ribut ngurusin dosa orang, prihatin dosa sendiri ga terlihat. Berani menjadi orang yang pertama melemparkan batu kepada “perempuan berdosa” itu di hadapan Tuhan Yesus?
Tiba-tiba saya teringat cerita Uskup Larantuka yang dulu difitnah akhirnya mati dalam kekudusan dmn tubuhnya utuh sampai tidak membusuk. Baiklah kita sebagai umat terutama mendoakan para imam kita dan juga untuk kesatuan gereja.
Beginilah padangan saya sebagai umat dan berharap umat lain juga memiliki pandangan yang sama.
Sebagai umat saya tetap menghargai dan menghormati beliau (Uskup Leteng) sebagai Uskup sesuai aturan gereja. Terlepas apa yang diperbuatnya itu sebagai kebijkan pribadi atau sebagai Uskup pertanggungjawabannya pertama-tama adalah kepada Tuhan. Kalau tidak suka toh posisi Uskup Leteng sudah diganti sesuai aturan Vatikan. Kita tidak berhak untuk menghakimi dan menuduh sesuatu yang mana kita sendiri tidak mengetahui persis persoalannya. Dia tetap Uskup dan gembala yang dipercayakan Tuhan kepada kita. Soal dosa, biarkan Tuhan berbicara.
Tugas kita membenahi diri dalam pertobatan khususnya di masa adven ini sambil mendoakan selalu para imam dan gembala kita.
Semoga cinta Tuhan mendamaikan hati kita semua, amin..
Chris says: Dan lagi sebut saja Paulus, Kayafas, ahli-ahli Taurat hingga Herodes, semua petinggi-petinggi itu merasa benar untuk meminta Yesus membuka mulut bukan utk mencari kebenaran tapi justru berharap agar Yesus mengeluarkan statement agar dapat memutarbalikan perkataan untuk dapat alasan untuk menghukum Yesus.
(Maaf typo mohon koreksi maksud saya Pilatus dan bukan Paulus)
Begis says : Saudara-saudari, bukankah kita diajari hukum cinta kasih yg konkret diteladankan oleh Yesus Kristus. Benar bahwa harus ada keterbukaan, tetapi disposisi batin kita adalah murah hati untuk mengampuni. Jangan sampai kita jatuh dalam sikap tertutup untuk mengampuni.
Pengalaman ini justru jadi refleksi buat kita bahwa kita pun bisa jatuh dlm masalah yang sama.
Wens John Rumung says: Kasus Uskup Hubertus Leteng memang heboh dan mengejutkan umat katolik sejagat.Mengapa sejagat, karena disiarkan melalui media sosial, portal nasioanal dan internasional. Saya menyarankan, agar Uskup Hubertus Leteng tidak ditugaskan melayani umat. Biarkan si Uskup merenung apa yang sedang dilakukan dan dialaminya waktu lalu. Sehingga tidak ada polemik yang kurang mengenakan.’
Salam dan damai Kristus. ♦ indonesia.ucannews.com

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.