Vatikan Minta Hubertus Leteng Kembalikan dana Rp.1.450.000.000

Vatikan Minta Hubertus Leteng Kembalikan dana Rp.1.450.000.000

♦ Baca rincian lebih dari Rp 1 Miliar

 

TAHTA Suci meminta Uskup Hubertus Leteng – yang baru-baru ini mengundurkan diri – untuk mengembalikan dana lebih dari 1 miliar rupiah yang dituding diambilnya. Permintaan itu tidak disebutkan dalam pengumuman Vatikan pada 11 Oktober terkait pengunduran diri Uskup Leteng. Namun, menurut Rm Robert Pelita, vikaris episkopal Labuan Bajo, yang ikut dalam pertemuan dengan perwakilan Vatikan, Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) dan Keuskupan Ruteng, permintaan itu disampaikan langsung kepada Uskup Leteng. “Perwakilan Vatikan mengatakan, pada prinsipnya uang itu mesti dikembalikan,” kata Rm Robert kepada ucanews.com pada 13 Oktober. Ia menambahkan, Vatikan tidak menjelaskan kapan Uskup Leteng harus mengambalikan uang itu.
Paus Fransiskus menerima pengunduran diri uskup berusia 58 tahun tersebut menyusul investigasi terkait tudingan bahwa ia secara diam-diam meminjam uang Rp 1,2 miliar dari KWI dan Rp 475 juta dari keuskupan, namun tidak memberi laporan pertanggungjawaban terkait penggunaan uang itu. Dalam pertemuan dengan para imam, Uskup Leteng mengatakan, uang itu digunakan untuk membiayai pendidikan seorang anak muda miskin yang kuliah di Amerika Serikat, Namun, ia tidak memberi penjelasan lebih lanjut terkait anak muda itu. Sebagai bentuk protes terhadap Uskup Leteng, 68 imam diosesan mengundurkan diri dari jabatan mereka sebagai vikaris episkopal dan pastor paroki. Mereka mencurigai uang yang diambil uskup itu diberikan kepada seorang wanita yang memiliki relasi khusus dengan Uskup Leteng. Sementara itu, Uskup Leteng tidak merespon saat dimintai komentar terkait permintaan untuk mengembalikan uang itu. Namun, seorang pejabat di Keuskupan Ruteng, yang meminta namanya tidak dipublikasi menyebutkan bahwa, dalam pertemuan baru-baru ini, Uskup Leteng menjanjikan akan mengembalikan semua uang itu.
Sejak kasus ini menjadi konsumsi publik, ia telah mengembalikan Rp 75 juta yang ia ambil dari keuskupan, kata sumber tersebut. Uskup Leteng juga mengatakan akan mengembalikan secara bertahap uang yang ia ambil dari KWI. Pejabat di KWI menolak berkomentar terkait hal ini dan mengatakan, kasus ini berada di bawah wewenang Vatikan. Uskup Leteng saat ini masih berada di Ruteng. Namun, menurut Romo Manfred Habur, sekertaris uskup, pada 11 Oktober Vatikan memberinya waktu 10 hari untuk mempersiapakan diri sebelum dipindahkan dari Ruteng. “Namun, kemana ia akan pergi, masih menjadi rahasia Vatikan,” katanya.
Sirilus Belen, seorang tokoh Katolik mengatakan, semua uskup harus belajar dari kasus ini, yang merupakan kasus pertama bagi Gereja Katolik Indonesia. “Seorang uskup memiliki kekuasaan yang luar biasa, di mana kekuasaan legislatif, eksekutif dan yudikatif berada di satu tangan,” katanya pada 13 Oktober. “Tidak ada check and balances, yang membuat terbuka peluang menyalahgunakan kekuasaan, termasuk dalam hal keuangan,” katanya.
Tentang Aliran Uang
Sipri Palus adalah eks Pastor Keuskupan Ruteng. Ia mengetahui banyak hal seputar hubungan khusus Uskup Hubert Leteng dengan anak angkatnya, Sayang Decinta Devada Panjaitan atau biasa disapa Sayang. Ia tahu hubungan tersebut karena pernah tinggal bersama anak angkat Uskup Huber itu selama empat bulan di rumah kontrakannya di Jalan Kububias, Nomor 14 Denpasar. Rumah itu dikontrak oleh Uskup Huber dengan harga sewa Rp. 59.000.000/tahun. Keberadaannya di Bali bermula ketika ia ditugaskan Uskup Huber untuk menjaga Sayang karena, katanya anak angkat Uskup Huber itu mendapat ancaman pembunuhan dari seorang eks pastor. Kepada VoxNtt.com Minggu (2/7/2017) Sipri Palus menjelaskan semua kesaksiannya selama berada di Bali, termasuk aliran uang Uskup Huber ke anak angkatnya, Sayang Decinta dan keluarganya di Kefa-Atambua. “Anak angkatnya Bapa Uskup itu sering minta uang dan selalu saja Bapa Uskup penuhi. Pernah dalam beberapa kesempatan, anaknya meminta uang tapi saldo rekening Bapa Uskup kurang. Sebab itu, Bapa Uskup dicaci maki dan diancam,” terang Palus. “Kalau uang tidak dikirim, puterinya mengancam akan putus hubungan dan tidak boleh menghubungi puterinya lagi. Sering dalam keadaan seperti itu, Bapa uskup menjawab; ole….jangan begitukah, sabar…uang dapat dengan mudah dicari, yang penting enu baik-baik saja,” ujarnya menirukan Uskup Huber. Karena itu, Uskup Huber tak segan-segan meminta pinjaman orang. Segera setelah mendapat pinjaman, Uskup Huber langsung mentransfernya ke rekening anak angkatnya itu. Sipri Palus juga mengungkapkan anak angkat itu gemar membongkar isi tas Uskup Huber tiap kali Uskup Huber tiba di Bali. Tujuannya satu yakni mengambil uang yang dikumpulkan Uskup Huber dari pelayanannya di Keuskupan Ruteng. Uang-uang itu digunakan untuk shoping, bergonta-ganti perhiasan (emas) dengan harga jutaan rupiah dan membeli pakaian-pakaian mewah Pernah juga saat berada di Bali, kata Palus, Uskup Huber melakukan sendiri penarikan uang di Bank BNI. Jumlahnya bervariasi; Rp.50.000.000 kemudian Rp.100.000.000 dan pernah juga Rp.150.000.000.
Romo Robert Pelita menuturkan, isu Hubertus mengambil dana gereja tanpa izin telah berkembang sejak 2014 setelah sekelompok imam dan umat menduga Hubertus mengambil Rp1,25 miliar dari common funds milik KWI dan sekitar 425 juta dari kas Keuskupan Ruteng. “Selanjutnya, uang-uang tersebut dimasukan ke rekening anak angkat Bapa Uskup atas nama Citra Denada Panjaitan (Bank BRI), Sayang Decinta Devada Panjaitan (Bank BNI dan Bank Mandiri). Jadi, ada tiga rekening dengan dua nama berbeda,” jelasnya. Parahnya lagi, kata Palus, anak angkat Uskup Huber sampai pernah menyuruhnya untuk mengecek uang yang masuk ke rekening Uskup Huber. Jika ada uang masuk langsung ditransfer lagi ke rekening anak angkatnya itu. “Ada yang merupakan bantuan untuk sebuah panti asuhan dan ada juga uang stipendium dan itensi dari orang-orang tertentu. Tapi dikemudian hari, uang-uang tersebut akan ditransfer ke rekening anak Bapa Uskup,” ujarnya. Tak berhenti di situ, ujar Palus, ia juga pernah menyaksikan anak angkat itu meminta uang Rp. 20.000.000 kepada Uskup Huber. Permintaan itu pun dipenuhi Uskup Huber, sehingga uang Rp. 20.000.000 itu ditransfer ke rekening anak angkat itu. Uang sebesar itu digunakan untuk membeli peralatan olahraga. Padahal, saat itu anak angkat Uskup Huber itu mengeluh sakit perut, katanya karena hamil. “Ternyata sebenarnya harga peralatan (olahraga) tersebut hanya 5 juta,” tukasnya.
Selain untuk anak angkatnya, terang Palus, uang Uskup Huber juga mengalir ke keluarga anak angkatnya di Kefa-Atambua. Uang tersebut ditransfer dari rekening Uskup Huber ke rekening keluarga anak angkatnya atas nama Maria Keke (Bank BRI dengan nomor rekening 4665-01-005936-53-1). Transaksi itu menggunakan ATM BNI milik Uskup Huber dengan nomor PIN saat itu 258013. “Kemudian, transaksi tersebut berubah tidak langsung dari rekening Bapa Uskup tetapi melalui rekening saya (Siprianus Palus BRI Cabang Ruteng nomor rekening 0273-01-014272-50-5) baru kemudian ditransfer ke rekening Ibu Maria Keke, dengan alasan takut dicurigai oleh pihak Keuskupan,” jelasnya. (Berdasarkan rekening koran atas nama Sipri Palus yang diprint out pada 28/8/2015, pukul 10:54:14 yang diterima VoxNtt.com tercatat; pada periode Juli 2014, terjadi lima kali transaksi dari rekening Sipri Palus ke rekening Maria Keke yakni tanggal 4,7,10,12 dan 13. Tiap kali transaksi sebesar Rp. 5.000.000. Jadi, total lima kali transaksi tersebut Rp. 25.000.000).
Selain minta uang, lanjut Palus, anak angkat Uskup Huber itu juga merengek minta rumah. Permintaan itu pun dipenuhi Uskup Huber. Untuk itu, Uskup Huber mengeluarkan uang sebesar Rp. 250.000.000 untuk membayar uang muka kredit. Kredit itu diajukan melalui Bank BNI tapi prosesnya gagal. Kegagalan itu terjadi karena pihak penjamin kredit yaitu Titus (adik kandung Uskup Huber) menolak membuat surat keterangan. Ia menolak karena dalam surat keterangan itu dinyatakan bahwa rumah yang dikredit itu adalah milik anak angkat Uskup Huber sedangkan Titus hanya sebagai penjamin kredit. Artinya, jika cicilan kredit tersebut lunas, maka rumah tersebut menjadi milik anak angkat Uskup. “Karena itu, Uskup Huber dan anaknya itu merasa dirugikan oleh keputusan Bapak Titus. Maka sejak saat itu, Uskup dan anaknya benci dan dendam dengan Bapak Titus. Bahkan, anak Bapa Uskup itu berani mengeluarkan kata-kata kotor dan kutukan buat Bapak Titus sekeluarga,” jelas Palus. Karena proses kredit melalui Bank BNI gagal, mereka akhirnya beralih mengajukan kredit ke Bank Mandiri sebesar Rp. 1.000.000.000. Kredit sebesar itu bermaksud untuk membeli rumah seharga Rp. 1.500.000.000. Sebagai jaminan usulan kredit tersebut, yakni Surat Izin Usaha (SIU) 2 toko milik anak angkat Uskup Huber yang berlokasi di Ruteng dan Labuan Bajo. Namun, pihak Bank Mandiri menyatakan jaminan kedua toko tersebut tidak cukup untuk mengabulkan kredit sebesar Rp. 1.000.000.000. Sementara, Uskup Huber sudah menyerahkan uang sebesar Rp. 500.000.000 sebagai uang muka kredit. Karena takut uang muka tersebut hangus lagi, maka Uskup Huber dan anak angkatnya bersekongkol dengan pemilik rumah (Mantan Pegawai Bank Mandiri) membuat data jaminan palsu. “Seolah-olah anak angkat Uskup Huber memiliki tempat praktek dokter ahli kandungan di Karang Anyar Bali dengan pendapatan per bulan 70 juta rupiah, Surat izin buka usaha, izin Lurah, daftar pasien yang berobat, papan pengumuman praktek, semuanya dibuat dan dipalsukan. Kredit tersebut pun diloloskan pihak bank. Jangka waktu kredit selama 15 tahun (180 bulan) dengan cicilan per bulan 12 jutaan lebih,” terang Palus. Sementara, hingga berita ini diturunkan, Uskup Hubertus Leteng belum memberi konfirmasi, meski sudah dihubungi melalui telepon. ♦ indonesiaucannewscan.com/voxntt.com

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.