VBL Diduga, Penghalang Proyek Waduk Kolhua dan Bandara Komodo

VBL Diduga, Penghalang Proyek Waduk Kolhua dan Bandara Komodo

CALON Gubernur NTT periode 2018-2023 Vicktor Bung Tilu Laiskodat (VBL) diduga tokoh dibalik gagalnya pembengunan proyek Waduk Kolhua Kota Kupang dan proyek perpanjangan Bandara Komodo di Labuan Bajo. Proyek Waduk Kolhua diwacanakan sejak 2010, dan perencanaan semakin serius antara Pemerintah Kota Kupang, Pemda NTT dan Pemerintah Pusat mulai tahun 2013.
Seorang pejabat penting di Pemda NTT yang minta namanya tidak disebutkan memprovokasi masyarakat Kolhua untuk menolak proyek itu. “Ya memang benar, masyarakat menolak dan diduga ada peran Vicktor Laiskodat dibalik aksi penolakan masyarakat Kolhua. Memang tidak semua. Waktu itu, Walikota Kupang sangat serius mengurus proyek ini. Tetapi sayang ketika Jonas Salean bertemu masyarakat di Kantor Lurah Kolhua awal 2013, justru di tolak. Bahkan Jonas Salean selaku Walikota Kupang diusir warga,” kata pejabat penting di Setda NTT kepada EXPO NTT di ruang kerjanya belum lama ini.
Si pejabat yang minta namanya tidak ditulis menegaskan,” Menteri PUPR (Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat) bahkan sudah beberapa kali mendatang Vicktor Laiskodat agar membantu, memberi keyakinan kepada warga setempat agar proyek bernilai lebih dari Rp 450 Miliar itu segera di bangun. Wa, benar-benar seorang menteri minta, tidak digubris. Kelihatan arogan sekali dan tidak mengijinkan. Gubernur Frans Lebu Raya juga sudah pernah bertemu, tetapi tidak juga memberi jawaban. Bahkan Gubernur Frans Lebu Raya pernah bersama Menteri PUPR bertemu, tetapi tetap tidak berhasil. Ya sampai sekarang tidak jelas, padahal pembangunan Waduk Kolhua sangat membantu pemasokan air bersih untuk warga Kota Kupang.”
Masih menurut pejabat itu,Vicktor diduga juga ikut peran menghalangi proyek perpanjangan Bandara Komodo di Labuan Bajo.” Karena dia punya tanah di sana. Ya semua orang tau, terutama mereka di Jakarta. Kasian, bagaimana dunia pariwisata bisa maju, kalau ada yang menghalangi, apa lagi si penghalang adalah pejabat Negara yang seharusnya mendorong lajunya permbangunan di NTT. Saya kaget ketika namanya masuk dalam bursa Cagub NTT 2018-2013. Saya menduga ada kepentingan dibalik ini semua.
Vicktor juga sudah menyatakan di media secara terbuka bahwa Propinsi NTT tidak akan dimekarkan. Pernyataan ini di lansir Kantor Berita Nasional antarantt.com. Hal ini di tentang Koordinator PTDI (Tim Pembela Demokrasi Indonesia) Petrus Selentinus, SH. Menurut Petrus Selestinus, Vicktor Laiskodat sudah menoda hati dan perasaan orang Flores yang sudah memperjuangkan pembentukan Propinsi Flores sejak 20 tahun lalu. ” Wah, tidak boleh membuat pernyataan secara sepihak. Belum jadi gubernur sudah membuat statemen yang merugikan masyarakat Flores dan juga Sumba yang sudah lama agar NTT dimekarkan. Orang Flores harus menolak sikap Vicktor Laiskodat. Apa yang terjadi, kalau dia jadi gubernur, bisa sewenang-wenang. Rakyat NTT sebaiknya kritis dalam masalah ini,” tegas Petrus Selestinus, yang akan membuat pernyataan sikap atas kebijakan Vicktor Laiskodat secara sepihak.
Petrus juga mengaku tahu kegagalan pembangunan Waduk Kolhua dari pemberitaan media. Padahal, menurut Petrus, Jika Bendungan Kolhua di KUpang bisa dibangun, bakal menghasilkan sumber air dengan debit 150 liter per detik. Jumlah itu bisa melayani 15 ribu pelanggan. Pembangunan Bendungan Kolhua diharapkan bisa mengatasi krisis air bersih saat musim kemarau di Kota Kupang. Menurut Petrus Selestinus,” Orang NTT rugi kalau pilih VBL. Menurut saya, VBL ini penghalang pembangunan NTT.
Menurut Petrus, sekiranya VBL dengan legowo meminta masyarakat Kolhua agar menginjinkan Pembanguna Waduk Kolhua, warga Kota Kupang tidak akan kesulitan air bersih.” Walikota Jonas Salean juga ikut berjuang agar pembangunan Waduk Kolhua segera dibangun pada 2013, tetapi tidak juga tidak sukses. Rakyat NTT, kota Kupang khususnya perlu tau. Mengapa, karena Pak Vicktor kan calon gubernur yang saat ini sedang berkampanye. Pejabat publik yang akan mengelolah pembangunan wajib dikritik, demi kepentingan bersama dan kemajuan NTT,” tegas  Petrus  yang mengaku bicara atas nama demokrasi.
Petrus Selestinus juga mengkritisi Vicktor Bung Tilu Laiskodat terkait rencana perpanjangan Landasan Badara Komodo di Labuan Bajo yang ditengarai ada peran Vicktor didalamnya.” Kalau soal Bandara Komodo bukan rahasia umum lagi. Sudah diberitakan secara luas. Informasi seperti perlu diketahui masyarakat NTT, supaya mengenal lebih jauh calon gubernurnya,” tegas Petrus Selestinus Minggu, 18 Februari 2018.
Sementara Ketua PADMA Indonesia, Gabriel Goa dan Sekretaris Umum Garga NTT yang berkantor di Jakarta berpendapat, para calon pejabat Negara harus dikritik. Calon kepala daerah, kata Gab Goa, wajib diketahui warga tentang sepang terjangnya termasuk perilaku sebelum menjadi pejabat atau calon pejabat.” Dengan demikian, rakyat tidak pilih kucing dalam karung. Saya kira, Pak Viktor sangat berpengaruh di lingkungan itu. Pertama sebagai tokoh nasional, tetapi juga tokoh masyarakat Helong. Di Kolhua penduduknya kan orang Helong. Kita harapkan, jika Pak Viktor terpilih sebagai gubernur wajib hukumnya mendukung pembangunan Waduk Kolhua.O ya termasuk perpanjangan Bandara Komodo di Labuan Bajo,sudah diberitakan secara luas, bahwa Pak Vicktor juga punya andil. Konon Pak Vicktor seperti diberitakan punya lahan di sana. Kita harus memacu pembangunan daerah. Sangat disayangkan, kalau Pak Vicktor Laiskodat ikut menghalangi perpanjangan Bandara Komodo, sehingga bisa jadi Bandara Internasional dimana Pak Jokowi sudah instruksikan Bandara Komodo diperpanjang, sehingga penerbangan dari luar negeri bisa langsung terbang ke Labuan Bajo,” kritik Gab Goa Minggu 18 Februari 2018 melalui telepon selulernya.
Di wartakan, Waduk Kolhua sudah lama diwacananakan. Pemerintah Pusat sudah alokasikan anggaran sekian miliar, namun tidak juga terwujud akibat penolakan warga setempat. Yang terwujud adalah Raknamo di Kabupaten Kupang, yang tak lama lagi masyarakat Kabupaten Kupang akan menikmati hasil berupa pembangunan pertanian dan peternakan. Seorang pejabat penting di lingkungan Setda NTT berpendapat,” Vicktor Laiskodat juga punya lahan di kawasan Bandara Komodo, sehingga perpanjangan landasan di halangi. Ya, tidak perlula sebut nama saya, tetapi yang jelas bahwa rencana perpanjangan landasan Badara Komodo di Labuan Bajo sampai sekarang belum terlaksana.”
Menurut Petrus Selestinus,” Rakyat NTT tidak butuh Cagub yang datang dengan acara hura-hura, goyang artis dan foya-foya, tetapi rakyat butuh makan yang cukup, anak bisa dibiayai pendidikan ke jenjang lebih tinggi serta kebutuhan perumahan, infrastruktur. Jadi tidak perlu Cagub yang datang ke NTT membawa jet pribadi. Petrus mengkritisi,” Rakyat Rote sangat tahu, anggota dewan pusat siapa yang perjuangan KM Awu merapat di Rote. Rakyat Semau juga tahu,anggota dewan siapa yang perjuangkan fery masuk ke Semau angkut masyarakat. Selama sepuluh tahun Pak Vicktor bawa apa. Memang beliau di Komisi Hukum DPR RI, mungkin tidak ada  proyek fisik, tetapi juga bisa perjuangan terkait penjualan orang,bagaimana perlindungan hokum terhadap penjualan orang ke luar negeri.Ada banyak TKW kita yang meninggal akibat di siksa majikan, mana perjuangannya dari segi hukum.”
Ini hanya beberapa komponen rencana pembangunan yang berdampak luas dan berkepentingan langsung dengan kesejahteraan rakyat. Vicktor Bung Tilu Laiskodat yang hendak dikonfirmasi tudingan ini, belum bersedia di konfirmasi.” Nanti saja kalau ada waktu,” jawabnya sembari memasuki ruangan deklarasi kampanye politik bersih jangan politik uang  di Kristal Hotel Rabu 14 Februari 2018. Bahkan pesan singkat EXPO NTT tidak menjawab.Saat di telepon ke telepon selulernya 8 Februari 2018 jam 08.05 Wita tidak juga diangkat. EXPO NTT pada Selasa 13 Februari 2018, menelepon Calon Wagub Jos Nae Soi dijawab,” Nanti saya pulang dari Bajawa dan sampai Kupang baru telepon kita wawancara.” Rencana pertemuan tidak terwujud sampai warta ini diturunkan.
Menghalangi Pemekaran
VBL, sebagaimana diberitakan, membuat pernyataan bahwa NTT tidak perlu dimekarkan. Pernyataan ini jelas mengecewakan warga Flores yang sejak puluh tahun lalu berjuang mati-matian agar Propinsi Flores segera terbentuk. Wacana pembentukan Propinsi Flores juga menghabiskan anggaran dari APBD. Rapat musyawara besar orang Flores telah dilangsungkan puluhan kali, tetapi juga tidak membuahkan hasil. Terakhir, Bupati Ngada Marianus Sae dipercayakan sebagai Ketua Pembentukan Propinsi Flores dan menggelar rapat akbar di Mbay Kabupaten Nagekeo, tetapi gagal dan tanpa tindaklanjut sampai sekarang. Rencana musyawara Besar Orang Flores di selenggarakan di Ende juga batal dan tiada kabar sampai Marianus Sae dicokok KPK Minggu 11 Februari 2018 di Surabaya.
Jika perjuangan, demi perjuangan tak terwujud, maka orang Flores, Sumba dan Timor tidak akan dimekarkan. Pernyataan Vicktor Laiskodat bahwa NTT tidak dimekarkan, tentu mengecewakan selain orang Flores, juga Sumba dan Timor. Dalam pemberitaan kantor berita nasional antara.com mengatakan, “Wilayah NTT ini sudah disatukan dalam nama Flobamora, sebutan untuk tiga pulau besar di NTT yakni Flores, Sumba dan Timor. Jadi jangan kita pisahkan,” kata Viktor Bungtilu Laiskodat.
Bakal calon gubernur Nusa Tenggara Timur Viktor Bungtilu Laiskodat berpendapat, NTT tidak perlu dimekarkan menjadi dua provinsi. “Wilayah NTT ini sudah disatukan dalam nama Flobamora, sebutan untuk tiga pulau besar di NTT yakni Flores, Sumba dan Timor. Jadi jangan kita pisahkan,” kata Ketua Fraksi Nasdem DPR-RI itu di Kupang, Rabu 31 Januari 2018.
Perjuangan pembentukan Provinsi Flores selama sepuluh tahun terakhir ini, kurang mendapat dukungan dari Gubernur NTT, Frans Lebu Raya yang saat ini akan mengakhiri masa jabatannya kedua pada Juli 2018. Frans Lebu Raya lebih getol memperjuangkan undang-undang tentang provinsi kepulauan, bersama sejumlah gubernur dari provinsi lain seperti Maluku dan Kepulauan Riau. Menurut Lebu Raya, jika NTT mendapat pengakuan sebagai provinsi kepulauan maka, alokasi anggaran untuk daerah ini lebih besar karena perhitungan alokasi anggaran selama ini berdasarkan luasan wilayah daratan. Sementara sebagian besar wilayah NTT adalah wilayah lautan, kata Lebu Raya.
Vicktor Laiskodat menambahkan, hal yang harus diperjuangkan adalah pemerataan pembangunan agar semua masyarakat NTT dapat merasakan pembangunan dan sejahtera. “Saya yakin bahwa ketika orang sudah sejahtera, maka mereka tidak perlu lagi berpikir untuk berpisah,” katanya. Karena itu, salah jika ada orang yang berpikir untuk memekarkan Flobamora yang telah diletakkan para pendiri daerah ini, katanya.”Orang mau berpisah kalau pemimpinnya tidak bisa mengelola daerah ini dengan baik dan memberikan kesejahteraan untuk rakyat,” katanya. Jika terpilih untuk memimpin daerah ini lima tahun ke depan, ia bersama pasangannya akan berfokus pada pembangunan-pembangunan yang bisa mendatangkan kesejahteraan rakyat di provinsi berbasis kepulauan itu. Viktor Bungtilu Laiskodat-Joseph Nae Soi adalah salah satu dari empat calon Gubernur-Wakil Gubernur NTT yang akan bertarung dalam Pilgub 2018. Pasangan ini didukung Partai Nasdem, Golkar dan Hanura yang memiliki total 24 kursi dari syarat 13 kursi yang ditetapkan Komisi Pemilihan Umum. ♦ wjr/antarantt.com

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.