Viktor Batal Jadi Menteri, Pengamat: Pilihan yang Cerdas

Viktor Batal Jadi Menteri, Pengamat: Pilihan yang Cerdas

GUBERNUR NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL), gagal menjadi menteri dalam kabinet kerja Jokowi-Ma’ruf. Tawaran Presiden Joko Widodo ditolak oleh Viktor Laiskodat.
Menurut Viktor, ia menolak tawaran tersebut usai berdiskusi dengan partai dan Jokowi. “Lewat diskusi mendalam baik dari partai maupun dengan Presiden, saya memahami betul bahwa pembangunan di NTT perlu dilanjutkan. Karena itu saya ditugaskan menyelesaikan tugas-tugas yang ada,” ujar Viktor kepada wartawan, Senin 21 Oktober 2019.
Penolakan Viktor ini ditanggapi pengamat politik Universitas Muhammadiyah Kupang, Ahmad Atang. Menurut dia, sebagai seorang politisi partai Nasdem, posisi Viktor tetap diperhitungkan dalam pentas politik nasional. Maka ketika muncul wacana ia masuk dalam kabinet Jokowi jilid II, hal itu bukan hal yang mustahil karena Nasdem adalah bagian dari gerbong koalisi, sehingga harus menyiapkan kadernya untuk mengisi kursi kabinet.
“Di sini VBL merupakan salah satu politisi Nasdem yang disodorkan dan mendapat respons positif dari Jokowi. Mungkin signal inilah yang memantapkan pilihan VBL ingin mengabdi pada level nasional sebagai menteri,” ujar Atang kepada wartawan, Selasa 22 Oktober 2019. “Sebagai warga NTT, kita tentu berbangga namun ada juga yang menolak dengan berbagai ekspresi agar VBL tetap menjadi gubernur. Namun pada akhirnya VBL harus menolak masuk kabinet dengan menduduki jabatan menteri tentu suatu hal yang mengagetkan publik NTT,” sambungnya.
Ia mengatakan, dari politik verbalistik, apa yang terucap oleh VBL belum dijelajahi publik. Namun, ia menduga ini merupakan pertarungan kepentingan di tingkat elite dalam proses tawar menawar kekuasaan hingga soal jumlah dan tempat. “Bisa jadi Nasdem mengalami pengurangan jatah menteri dan tempat yang ditawarkan tidak diminati oleh kader Nasdem,” katanya.
Ia menambahkan, langkah VBL menolak sebelum ditunjuk oleh Jokowi merupakan pilihan yang cerdas. Dengan menolak jabatan menteri justru akan memopulerkan sosok VBL pada pentas politik nasional. “Penolakan ini menurut saya tidak menimbulkan dinamika lokal karena merupakan hal yang biasa dan wajar dalam politik,” tandasnya. ‚ô¶¬†kumparan.com

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.