Wali Kota Kupang larang peternakan babi dan ayam dalam pemukiman warga

Wali Kota Kupang larang peternakan babi dan ayam dalam pemukiman warga

WALI Kota Kupang Jefrison Riwu Kore melarang warga di ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Timur untuk beternak atau memilihara babi atau ayam di dalam lingkungan pemukiman warga, karena aromanya sangat mengganggu warga di sekitarnya. “Kami minta warga yang memiliki usaha ternak yang dibangun dalam kawasan pemukiman penduduk untuk segera membongkarnya karena banyak dikeluhkan warga dan menganggu lingkungan di sekitarnya,” kata Wali Kota Kupang Jefrison di Kupang, Senin 5 Agustus 2019.
Ia menyebutkan hal itu menyusul banyaknya keluhan warga Kota Kupang terhadap aktivitas usaha ternak khususnya babi dan ayam yang dibangun dalam kawasan pemukiman penduduk di ibu kota provinsi berbasis kepulauan itu.
Menurutnya, Pemerintah Kota Kupang telah melakukan upaya penertiban terhadap usaha ternak dalam pemukiman penduduk dengan membongkar usaha ternak babi di kawasan Pasar Kasih Naikoten pada pekan lalu. Pembongkaran tersebut dilakukan karena bau kotoran babi atau ayam sangat menyengat. “Pemerintah pasti bertindak tegas dengan membongkar usaha ternak milik warga yang dibangun dalam kawasan pemukiman penduduk seperti kami lakukan di kawasan Pasar Kasih Naikoten, agar tidak menganggu kesehatan warga yang menghirup udara tak sedap itu,” tegas Jefrison.
Ia berharap warga yang memiliki usaha ternak ayam maupun babi maupun kambing untuk segera mencari lokasi di luar pemukiman warga sebagai tempat beternak.
“Memelihara ternak dalam jumlah banyak di lingkungan pemukiman warga selain menganggu lingkungan juga membahayakan kesehatan warga, sehingga peternakan ayam maupun babi serta kambing memang harus dilarang, karena hanya akan menuai masalah dalam lingkungan masyarakat,” katanya.
Dia meminta para lurah di daerah itu untuk melakukan pemantauan serta menertibkan usaha ternak milik warga yang dibangun dalam kawasan pemukiman penduduk. “Udara kota Kupang harus bersih, dan tidak boleh tercemar dengan kotoran binatang,” demikian Jefrison Riwu Kore.

Babi Dominasi
Hingga tahun 2016, populasi ternak babi di wilayah provinsi berbasis kepulauan itu mencapai 1.871.717 ekor atau meningkat dari 1.812.449 ekor pada 2015. Selain itu, ternak babi di masyarakat juga selalu mendapatkan vaksinasi setiap tahun sesuai dengan permintaan dari kabupaten untuk mengantisipasi adanya serangan penyakit “hog cholera”. “Populasi babi ini terus kita jaga karena bisa mengimbangi kebutuhan daging di tingkat masyarakat sehigga ternak lain seperti sapi bisa lebih banyak kita antarpulaukan,” katanya. ♦ antaranews.com

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.