Wisata Mangrove Ndii Lifu Makin Menggeliat

Wisata Mangrove Ndii Lifu Makin Menggeliat

MENYAMBANGI potensi wisata hutan Mangrove Ndii Lifu pada Kamis, 31 Oktober 2019. Untuk menarik minat pelancong, warga desa membangun gazebo dan titian kayu sejak 2018 memakai Dana Desa Rp. 186 Juta lebih, dibangun papan kayu mencapai 200 meter.
Menurut Kepala Desa Maubesi, Firlot Pelokila, infrastruktur penopang wisata mangrove terus dibenahi bertahap. Tahun 2019 menyambung titian kayu hingga 151 meter, dari yang sudah berdiri saat ini 350-an meter.
Pada 2019, Bantuan Kementerian Desa menganggarkan Rp 300 juta untuk bangun berupa titian 100 Meter, gapura dan lopo dan menara pandang, Gotong Rotong masyarakat menambah 51 Meter, menjadi 151 Meter.
Tahun 2020 Kepala Desa akan mengangarkan Dana Desa untuk pembangunan Kolam Renang, Taman, permainkan anak-anak dilokasi Mangrove Ndii Lifu sehingga menambah eksotisme pengunjung bisa menikmati kenyaman alam dan bersantai bersama keluarga dengan biaya yang murah, tetapi berkualitas.
Menurut Firlot, pelancong dikutip duit karcis.”Tarif Rp 2 ribu untuk Biaya perawatan, kedepan semua fasilitas sudah lengkap baru dinaikan,” kata Firlot
Kendati pamor wisata Pulau Ndii Lifu makin dikenal, sehingga fasilitas terus dibenahi. Firlot sadar infrastruktur wisata walau harus terus dibenahi. Bagi pelancong, ia menyarankan agar tiba di lokasi Mangrove baru jajanan.
Maklum, saat ini sudah ada warung penjaja makanan disana tetapi belum lengkap hanya sebatas minuman dan makanan lokal. Menurut dia, warga enggan membuka warung yang lengkap karena arus wisatawan ke Mangrove masih minim.
Pelancong paling banyak berkunjung ketika akhir pekan pada Sabtu dan Minggu, sehingga terus dibenahi agar setiap hari ramai pengujung karena lokasinya sangat dekat dengan Kota Ba’a hanya berjarak 3 Kilo Meter saja.
Firlot Memberikan apresiasi kepada Pemkab yang telah membantu memberikan pelatihan 10 orang warga Maubesi dengan sebutan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) mereka yang akan menata mangrove lebih baik.
“Agar warga sejahtera. sehingga masyarakat Maubesi tidak mencari uang ke luar daerah. Uang yang harus mendatangi Desa Maubesi,” Firlot melanjutkan status Mangrove sebagai cagar alam.
Menurut dia, Status cagar alam Mangrove membatasi ruang aktivitas warga yang hendak merusak alam, pasalnya adanya Haholok Papadak (Larangan Adat) sehingga kelestarian alam tetap dijaga.
Marten Lesinggi kepada media ini Kamis, 31 Oktober 2019 Mengaku Pengujung Mangrove Ndii Lifu mencapai 2 Ribu Orang, hal ini diakibatkan Jemaat Gereja GMIT Paulus Busalangga dan Gereja Betania Ba’a mengelar Ibada Padang Memperingati Hari Reformasi Protestan ke 502 yang jatuh pada setiap 31 Oktober, kedua gereja itu melaksanakan ibadah di Mangrove Ndii Lifu kecamatan Rote Tengah, Pelaksanaan kebaktian tersebut bukan saja Hari Reformasi Protestan tapi juga dalam rangka memperingati HUT GMIT ke 72 dan Penutupan Bulan Keluarga, Sehingga pendapatanya mencapai Rp. 2 Juta dari Karcis saja.
Semi Suki Pengujung Mangrove Ndii Lifu yang juga jemaat Betania Ba’a mengaku senang gereja padang digelar di Mangrove Ndiilifu, pasalnya lokasi tersebut sangat strategis dengan Kota Ba’a.
Ia berharap agar Pengelolah BUmdes Mangrove Ndiilifu kedepan harus menempatkan petugas didalam titian kayu (jembatan penghubung kelaut) area karena lokasinya didalam laut, sehingga warga yang terbanyak anak-anak menikmati alam dikwatirkan celaka.
Pasalnya lokasi wisata ini juga populer dengan spot fotonya. perpaduan jembatan kayu, rawa dan hutan Mangrove menjadikan hasil foto lebih mempesona. Kedepan harus ada fasilitas penunjang wisatawan di tempat wisata Ndii Lifu mulai ditata bersih sampai kantin yang memiliki beberapa varian menu lokal kat Semi Suki. ♦ ido

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.