Ya, Meiliana. Nama ini disebut dan dikenang sepanjang hidup bagi mereka yang tidak bersala, berkisah tentang kebenaran dan fakta tetapi harus diadilai dan dipenjara. Dia tidak salah mengeluh ke tetangga soal suara toa di masjid yang terlalu keras. Tetangga adalah sahabat terdekat, tapi tak disangka tetangga ini jahat dan berniat mencelakakan Meiliana. Berita sudah viral. Kita sangat sedih tetapi peristiwa ini sungguh terjadi, manusia yang tidak bersalah dihukum 1, 8 bulan demi mengungkap sebuah kebenaran. Kebenaran, bahwa suara dari masjid terlalu keras akan sangat mengganggu. Persolanan ini juga diimbau Wakil Presiden Jusuf Kala dalam kapasitasnya sebagai Ketua Umum Masjid di Indonesia. Kalau salah mohon diralat. Orang benar dan tidak melakukan kesalahan sedang terjadi dari ibukota Negara sampai kepelosok tanah air. Kita mengenang Yesus wafat di Salib demi menebus dosa manusia. Dalam perjalanan dan hanya dalam tempo singkat si hakim jahat yang memvonis Meiliana di Medan sana ternyata juga penjahat kelas kakap. Hakim itu berstatus Wakil Ketua Pengadilan Negeri Medan. Namanya Wahyu Prasetyo Wibowo. Si Wahyu di tangkap bersama empat rekanya karena terlibat kasus suap. KPK menangkap hakim jahat ini dalam operasi tangkap tangan atau OTT. Ini bukan berita mengarang tetapi peristiwa dibenarkan Humas PN Medang Erintuan Damanik 28 Agustus 2018. Renungkan sendiri kasus ini. Agar lebih paham, Wahyu Prasetio Wibowo adalah Hakim PN Medan yang memvonis Meiliana 18 bulan penjara. Meiliana terpidana 18 bulan penjara dituduh menista agama islam. Masalah awalnya dari keluhan Meilinana terhadap suara azan yang sangat keras. Kisah ini sampai di sini dulu. Tetapi bahwa falsafah jari sangat tepat. Satu jari menunjuk orang tetapi ada empat jari menunjuk diri sendiri. Benar adanya, si hakim ditangkap dengan cara sangat hina dalam OTT dan digiring memakai baju KPK oranye. Peristiwa yang sangat memalukan juga dilakukan Neno Warisman. Si wanita ini bukan bernyaji, profesi awal tetapi memakai jilbab dan berkeliling deklarasi # 2019 Ganti Presiden#. Kini jadi ribut, ada orang yang tidak suka dengan tanda pagar ini. Beritanya viral tetapi tetap ngotot termasuk Wakil Ketua DPR RI Fadlizon dalam setiap omong di televisi maupun media sosial. Konon punya hak diatur undang-undang. Suasana jadi panas ada yang suka tetapi ada yang sangat benci dengan tanda pagar ganti presiden 2019. Ada satu judul berita, penolakan terhadap Neno Warisman dan kemuakan terhadap gerombolan @ 2019 Ganti Presiden” membuah gadus di berbagai kota, Surabaya Jawa Timur, Riau dan berbagai kota. Ingin yang berkesempatan membaca persoalan ini sejak awal Agustus sampai 30 Agustus 2018. Untuk kesekian kalinya, Neno Warisman ditolak. Setelah sebelumnya Neno Warisman ditolak di Batam, Depok dan beberapa tempat lainnya. Neno Warisman adalah pentolan Gerombolan Tagar 2019 Ganti Presiden. Kegiatannya murni politik praktis, tapi sering dibungkus dengan istilah pengajian, tabligh akbar dan ceramah. Neno Warisman adalah jurkam Gerombolan Tagar 2019 Ganti Presiden untuk menipu publik, dia dikenalkan sebagai penceramah dengan sebutan ustadzah, yang kita tidak tahu dapat darimana gelar ini, meskipun Neno Warisman tidak punya latar belakang pendidikan agama. Kita masih muak dengan melakukan ustadz jadi-jadian seperti Evie Effendi yang menyebutkan Nabi Muhammad pernah tersesat. Gerakan ini, oleh lawan sebelah atau aparatur keamanan disebut makar. Tetapi berita sangar dan menakut diisi dengan berita sukacita oleh atlet silat yang ketuanya adalah Prabowo juga calon presiden 2019. Di acara ini, Jokowo dan Prabowo terlibat saling memeluk setelah salah satu atlet peraih medali emas memeluk kedua di podium 29 Agustus 2018 yang juga dihadiri Megawati, Jusuf Kala, Puan Maharani dan semua pejabat tinggi. Peristiwa sukacita ini tersiar luas di seluruh Indonesia. Ini semua karena Allah berkehendak. r

Ya, Meiliana. Nama ini disebut dan dikenang sepanjang hidup bagi mereka yang tidak bersala, berkisah tentang kebenaran dan fakta tetapi harus diadilai dan dipenjara. Dia tidak salah mengeluh ke tetangga soal suara toa di masjid yang terlalu keras. Tetangga adalah sahabat terdekat, tapi tak disangka tetangga ini jahat dan berniat mencelakakan Meiliana.  Berita sudah viral. Kita sangat sedih tetapi peristiwa ini sungguh terjadi, manusia yang tidak bersalah dihukum 1, 8 bulan demi mengungkap sebuah kebenaran. Kebenaran, bahwa suara dari masjid terlalu keras akan sangat mengganggu. Persolanan ini juga diimbau Wakil Presiden Jusuf Kala dalam kapasitasnya sebagai Ketua Umum Masjid di Indonesia. Kalau salah mohon diralat.  Orang benar dan tidak melakukan kesalahan sedang terjadi dari ibukota Negara sampai kepelosok tanah air. Kita mengenang Yesus wafat di Salib demi menebus dosa manusia. Dalam perjalanan dan hanya dalam tempo singkat si hakim jahat yang memvonis Meiliana di Medan sana ternyata juga penjahat kelas kakap. Hakim itu berstatus Wakil Ketua Pengadilan Negeri Medan. Namanya Wahyu Prasetyo Wibowo. Si Wahyu di tangkap bersama empat rekanya karena terlibat kasus suap. KPK menangkap hakim jahat ini dalam operasi tangkap tangan atau OTT. Ini bukan berita mengarang tetapi peristiwa dibenarkan Humas PN Medang Erintuan Damanik 28 Agustus 2018. Renungkan sendiri kasus ini.  Agar lebih paham, Wahyu Prasetio Wibowo adalah Hakim PN Medan yang memvonis Meiliana 18 bulan penjara. Meiliana terpidana 18 bulan penjara dituduh menista agama islam. Masalah awalnya dari keluhan Meilinana terhadap suara azan yang sangat keras. Kisah ini sampai di sini dulu. Tetapi bahwa falsafah jari sangat tepat. Satu jari menunjuk orang tetapi ada empat jari menunjuk diri sendiri. Benar adanya, si hakim ditangkap dengan cara sangat hina dalam OTT dan digiring memakai baju KPK oranye.  Peristiwa yang sangat memalukan juga dilakukan Neno Warisman. Si wanita ini bukan bernyaji, profesi awal tetapi memakai jilbab dan berkeliling deklarasi # 2019 Ganti Presiden#. Kini jadi ribut, ada orang yang tidak suka dengan tanda pagar ini. Beritanya viral tetapi tetap ngotot termasuk Wakil Ketua DPR RI Fadlizon dalam setiap omong di televisi maupun media sosial. Konon punya hak diatur undang-undang. Suasana jadi panas ada yang suka tetapi ada yang sangat benci dengan tanda pagar ganti presiden 2019.  Ada satu judul berita, penolakan terhadap Neno Warisman dan kemuakan terhadap gerombolan @ 2019 Ganti Presiden" membuah gadus di berbagai kota, Surabaya Jawa Timur, Riau dan berbagai kota. Ingin yang berkesempatan membaca persoalan ini sejak awal Agustus sampai 30 Agustus 2018.  Untuk kesekian kalinya, Neno Warisman ditolak. Setelah sebelumnya Neno Warisman ditolak di Batam, Depok dan beberapa tempat lainnya. Neno Warisman adalah pentolan Gerombolan Tagar 2019 Ganti Presiden. Kegiatannya murni politik praktis, tapi sering dibungkus dengan istilah pengajian, tabligh akbar dan ceramah.  Neno Warisman adalah jurkam Gerombolan Tagar 2019 Ganti Presiden untuk menipu publik, dia dikenalkan sebagai penceramah dengan sebutan ustadzah, yang kita tidak tahu dapat darimana gelar ini, meskipun Neno Warisman tidak punya latar belakang pendidikan agama. Kita masih muak dengan melakukan ustadz jadi-jadian seperti Evie Effendi yang menyebutkan Nabi Muhammad pernah tersesat. Gerakan ini, oleh lawan sebelah atau aparatur keamanan disebut makar.  Tetapi berita sangar dan menakut diisi dengan berita sukacita oleh atlet silat yang ketuanya adalah Prabowo juga calon presiden 2019. Di acara ini, Jokowo dan Prabowo terlibat saling memeluk setelah salah satu atlet peraih medali emas memeluk kedua di podium 29 Agustus 2018 yang juga dihadiri Megawati, Jusuf Kala, Puan Maharani dan semua pejabat tinggi. Peristiwa sukacita ini tersiar luas di seluruh Indonesia. Ini semua karena Allah berkehendak. r

Ya, Meiliana. Nama ini disebut dan dikenang sepanjang hidup bagi mereka yang tidak bersala, berkisah tentang kebenaran dan fakta tetapi harus diadilai dan dipenjara. Dia tidak salah mengeluh ke tetangga soal suara toa di masjid yang terlalu keras. Tetangga adalah sahabat terdekat, tapi tak disangka tetangga ini jahat dan berniat mencelakakan Meiliana.
Berita sudah viral. Kita sangat sedih tetapi peristiwa ini sungguh terjadi, manusia yang tidak bersalah dihukum 1, 8 bulan demi mengungkap sebuah kebenaran. Kebenaran, bahwa suara dari masjid terlalu keras akan sangat mengganggu. Persolanan ini juga diimbau Wakil Presiden Jusuf Kala dalam kapasitasnya sebagai Ketua Umum Masjid di Indonesia. Kalau salah mohon diralat.
Orang benar dan tidak melakukan kesalahan sedang terjadi dari ibukota Negara sampai kepelosok tanah air. Kita mengenang Yesus wafat di Salib demi menebus dosa manusia. Dalam perjalanan dan hanya dalam tempo singkat si hakim jahat yang memvonis Meiliana di Medan sana ternyata juga penjahat kelas kakap. Hakim itu berstatus Wakil Ketua Pengadilan Negeri Medan. Namanya Wahyu Prasetyo Wibowo. Si Wahyu di tangkap bersama empat rekanya karena terlibat kasus suap. KPK menangkap hakim jahat ini dalam operasi tangkap tangan atau OTT. Ini bukan berita mengarang tetapi peristiwa dibenarkan Humas PN Medang Erintuan Damanik 28 Agustus 2018. Renungkan sendiri kasus ini.
Agar lebih paham, Wahyu Prasetio Wibowo adalah Hakim PN Medan yang memvonis Meiliana 18 bulan penjara. Meiliana terpidana 18 bulan penjara dituduh menista agama islam. Masalah awalnya dari keluhan Meilinana terhadap suara azan yang sangat keras. Kisah ini sampai di sini dulu. Tetapi bahwa falsafah jari sangat tepat. Satu jari menunjuk orang tetapi ada empat jari menunjuk diri sendiri. Benar adanya, si hakim ditangkap dengan cara sangat hina dalam OTT dan digiring memakai baju KPK oranye.
Peristiwa yang sangat memalukan juga dilakukan Neno Warisman. Si wanita ini bukan bernyaji, profesi awal tetapi memakai jilbab dan berkeliling deklarasi # 2019 Ganti Presiden#. Kini jadi ribut, ada orang yang tidak suka dengan tanda pagar ini. Beritanya viral tetapi tetap ngotot termasuk Wakil Ketua DPR RI Fadlizon dalam setiap omong di televisi maupun media sosial. Konon punya hak diatur undang-undang. Suasana jadi panas ada yang suka tetapi ada yang sangat benci dengan tanda pagar ganti presiden 2019.
Ada satu judul berita, penolakan terhadap Neno Warisman dan kemuakan terhadap gerombolan @ 2019 Ganti Presiden” membuah gadu di berbagai kota, Surabaya Jawa Timur, Riau dan berbagai kota. Ingin yang berkesempatan membaca persoalan ini sejak awal Agustus sampai 30 Agustus 2018.
Untuk kesekian kalinya, Neno Warisman ditolak. Setelah sebelumnya Neno Warisman ditolak di Batam, Depok dan beberapa tempat lainnya. Neno Warisman adalah pentolan Gerombolan Tagar 2019 Ganti Presiden. Kegiatannya murni politik praktis, tapi sering dibungkus dengan istilah pengajian, tabligh akbar dan ceramah.
Neno Warisman adalah jurkam Gerombolan Tagar 2019 Ganti Presiden untuk menipu publik, dia dikenalkan sebagai penceramah dengan sebutan ustadzah, yang kita tidak tahu dapat darimana gelar ini, meskipun Neno Warisman tidak punya latar belakang pendidikan agama. Kita masih muak dengan melakukan ustadz jadi-jadian seperti Evie Effendi yang menyebutkan Nabi Muhammad pernah tersesat. Gerakan ini, oleh lawan sebelah atau aparatur keamanan disebut makar.
Tetapi berita sangar dan menakut diisi dengan berita sukacita oleh atlet silat yang ketuanya adalah Prabowo juga calon presiden 2019. Di acara ini, Jokowo dan Prabowo terlibat saling memeluk setelah salah satu atlet peraih medali emas memeluk kedua di podium 29 Agustus 2018 yang juga dihadiri Megawati, Jusuf Kala, Puan Maharani dan semua pejabat tinggi. Peristiwa sukacita ini tersiar luas di seluruh Indonesia. Ini semua karena Allah berkehendak. ♦

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.