Zeth Malelak: Sistem Menghijau Kota Kupang Dengan Menanam Pohon

Zeth Malelak: Sistem Menghijau Kota Kupang Dengan Menanam Pohon

♦ Mendukung Program Walikota dan Wakil Walikota Kupang

 

PEMERINTAH Kota Kupang tengah fokus menghijaukan wilayah Kota Kupang melalui program Gerakan Kupang Hijau (GKH). Sejak tahun 2019 telah dilakukan penanaman ribuan pohon di berbagai ruas jalan. Terkait program ini, pakar lahan kering Universitas Kristen Artha Wacana (UKAW) Kupang, Zeth Malelak menjelaskan, program GKH yang dilaksanakan Pemkot Kupang sangat membantu, karena Kota Kupang yang sangat kering membutuhkan sebanyak mungkin pohon.
Sistem menghijaukan Kota Kupang yang diterapkan Walikota Kupang menurut Zeth Malelak,selaku pakar pertanian sangat tepat yaitu menanam pohon,bukan menanam anakan. ” Paling tepat yaitu membuat anakan dalam pot atau bibit pohon dan setelah dua tahun baru ditanam sehingga efektif,” jelas Zeth Malelak menjawab EXPONTT.
Ia menjelaskan, dengan adanya banyak pohon, akan meningkatkan kelembaban udara sehingga udara semakin sejuk. Selain itu, menciptakan keindahan, menyumbang oksigen dan menjaga tingkat hidrasi air dalam tanah.
Ia meminta Pemkot Kupang agar sebaiknya tidak lagi menanam anakan yang baru tumbuh seperti sebelum-sebelumnya.
“Kami tidak rekomendasikan menanam tanaman yang kecil. Kita membutuhkan perakaran yang sudah baik. Tanaman yang sudah dibiarkan lebih dari dua tahun. Karena kelembaban tanah kita di bawah 30 persen, curah hujan rendah, dan lahan kita batu-batu dan cepat menyerap panas. Kalau tanaman kecil mudah stres dan ini riset, bukan pribadi saya yang bilang. Semua proyek di lahan kering sebaiknya tanam tanaman yang sudah dewasa bukan anakan lagi,” jelas Zeth. Ia mengatakan, apa yang dilakukan Pemkot Kupang saat ini sudah bagus, namun harus konsisten dalam pemeliharaan dan perawatannya.
Membuat hutan di lahan kering atau forestry, secara teori keberhasilannya di bawah 30 persen. Keberhasilan tertinggi hanya 30 persen, sehingga harus ada dobel anakan. Dengan adanya pendobelan maka tentu akan menambah biaya.
Di wilayah Timor, lanjut Zeth, hujan hanya berlangsung tiga bulan. Karena itu, jika menanam anakan lalu perawatan kurang maka pasti di bawah 30 persen. “Saya lihat ada beberapa tanaman di kota ini keberhasilan hampir 100 persen. Memang ada beberapa yang mati dan itu pasti diganti, tapi secara keseluruhan yang berhasil atau hidup itu sudah di atas 60 persen. Itu sudah hebat,” jelasnya. Ia mengatakan tanaman-tanaman di Kota Kupang yang ditanam bukan pada musim hujan. Apalagi tahun lalu Kota Kupang mengalami el nino dan hujan kurang dari dua bulan. Rata-rata hari hujan di Kupang tidak lebih dari 40 hari. “Padahal kita mengalami gangguan musim. Biasanya kalau ada gangguan musim di daerah kering itu tingkat pertumbuhan malah 0%, apalagi ada kebakaran,” kata Zeth. Ia juga menyentil soal banyaknya proyek penggalian yang sedang berlangsung di Kota Kupang. Ini menjadi penyebab adanya gangguan terhadap tanaman.
“Jadi bisa terjadi ada akar yang terputus di dalam saat dia sedang tumbuh,” ujarnya.
Menurut dia, ada beberapa tanaman dengan daya tumbuh yang cukup bagus seperti tambaring belanda di jalan depan Inaboi, hampir 100 persen tumbuh. Tanaman ini punya daya tumbuh yang bagus. “Pemilihan tanaman sudah cukup hebat, apalagi flamboyan ini menggambarkan tingkat kehebatan pak wali kota untuk menciptakan kota yang indah. Karena Kota Kupang memang terkenal dengan Kota Flamboyan,” kata Zeth. Ia juga menyarankan agar pemerintah memperbanyak hutan kota. Ia mengakui program ini sulit, namun untuk menjaga lingkungan tetap nyaman maka harus dilaksanakan. “Program ini harus jalan karena tingkat kelembaban kita makin hari makin menurun. Tetap menanam dengan tanaman hutan, tapi tingkat kerapatannya lebih diperkecil lagi,” kata Zeth.

Tambahan Anggaran
Ia meminta Pemkot Kupang menaikkan anggaran dan memperkuat jajaran yang bekerja dan menambah sosialisasi kepada semua orang.
“Wali kota di mana-mana bicara, di gereja, media, wali kota ajak untuk menanam dan ini konsep yang dibangun kembali pak wali kota mengingat filsafat yang dibangun Gubernur El Tari yaitu tanam sekali lagi tanam,” jelas Zet.
Terkait anggaran, Zeth mengakui anggaran di lahan kering memang mahal. Pasalnya, perawatannya sangat berat.
“Harus ada anggaran untuk perawatan. Dan perawatan di lahan kering tidak main-main. Bisa sampai tiga tahun. Tidak satu-dua tahun. Tanaman yang hebat di lahan kering itu tidak mudah. Menggali lubang di lahan kering yang berbatu beda dengan tanah yang lembut. Anggaran tidak sama,” ujarnya.
Salah satu alasan, menurut dia, top soil Kota Kupang hanya 2-5 centimeter, selebihnya bebatuan. Oleh karena itu, penggalian saja butuh anggaran besar.
“Harus dibantu alat berat. Bisa saja biaya per pohon ini 10 juta baru jadi. Di daerah lain mungkin hanya 100 ribu. Kadang-kadang orang bilang anggaran ini sangat besar. Oh tidak, besar di mana dulu,” beber Zeth.
“Saya bangga karena pak wali kota mendorong tanpa bosan-bosan menyampaikan tentang tanam sekali lagi tanam dengan berbagai persoalan yang ada. Siapa yang berani membongkar batu karang ini untuk tanam pohon? Kalau tanam di daerah subur semua orang bisa. Tapi kalau dengan membongkar batu karang memang butuh keberanian,” pungkas Zeth. ♦ wjr/diantimur.com

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.