Korban Pencabulan Calon Pendeta di Alor Bertambah Menjadi 14 Orang

alor
ILUSTRASI PENDETA (SHUTTERSTOCK)

EXPONTT.COM – Jumlah korban pencabulan yang dilakukan calon pendeta SAS (36) yang dilakukan di Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT), kembali bertambah dua orang.Hingga saat ini total korban pencabulan mencapai 14 orang.

Kasat Reskrim Polres Alor, Iptu Yames Jems Mbau, mengatakan, dua korban itu sudah melapor ke Polres Alor.

“Ada dua lagi korban pencabulan, tetapi usianya 19 tahun. Mereka sudah melapor ke Polres Alor pada Rabu kemarin,” kata Jems, Kamis 15 September 2022 malam, mengutip kompas.com.

Belasan remaja perempuan itu, lanjut Jems, merupakan korban pencabulan dan persetubuhan serta pengancaman menggunakan video.

Baca juga:Akui Semua Perbuatannya, Calon Pendeta yang Cabuli 12 Gadis di Alor Mengaku Punya Trauma Masa Lalu

Dari 14 korban, lanjut Jems, 10 orang diantaranya adalah anak di bawah umur dan empat korban lainnya berumur 19 tahun.

Penyidik unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Alor sudah memeriksa para korban dan orangtua korban.

“Ada korban yang jadi saksi untuk korban lainnya,” kata Jems.

Menurut dia, semua korban sudah menjalani visum di rumah sakit dan telah memberikan keterangan terkait kasus ini.

Dari semua korban pencabulan lanjut Jems, tidak ada yang hamil. Meski begitu, para korban mengalami trauma yang mendalam.

Hingga saat ini, berkas perkara kasus ini pun sudah rampung dan segera dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Kalabahi, untuk proses hukum lebih lanjut.

Baca juga:Harga BBM di Daerah Kepulauan Labuan Bajo Tinggi, Nelayan Berhenti Melaut

Kasus itu terjadi pada akhir Mei 2021 hingga awal Mei 2022. Saat mencabuli para korban, pelaku mengabadikan dalam bentuk video dan foto melalui telepon selulernya.

Sehingga, ketika pelaku ingin mengulangi lagi perbuatannya, selalu mengancam para korban akan menyebarkan foto dan video jika tidak dilayani.

Kasus itu terungkap, setelah orangtua salah satu korban mengetahui perbuatan SAS melaporkan kasus ini ke Polres Alor.

Usai menerima laporan, polisi pun menangkap SAS di Kota Kupang dan dibawa ke Alor untuk menjalani proses hukum lebih lanjut. SAS pun mengakui semua perbuatannya.

Dia lantas meminta maaf kepada semua pihak, mulai dari para korban, orangtua hingga pengurus Majelis Sinode Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT).

Ikuti berita dari ExpoNTT.com di Google News

Baca juga:Anak Kepala Desa di Ende Ditemukan Tewas Bersimbah Darah di Kebun Warga