Pria di Belu Bertahun-tahun Setubuhi Keponakannya yang Yatim Piatu

Pria di Belu Bertahun-tahun Setubuhi Keponakannya yang Yatim Piatu
Pria di Belu Bertahun-tahun Setubuhi Keponakannya yang Yatim Piatu / foto: digtara.com

EXPONTT.COM – MTSN (14) seorang anak di Kabupaten Belu, NTT, menjadi korban pencabulan dan persetubuhan paksa oleh PS alias Paul (43) yang merupakan pamannya.

Kasus persetubuhan anak dibawah umur ini dilaporkan ke polisi di Polres Belu melalui laporan polisi nomor LP/B/96/V/2022/SPKT/POLRES BELU/POLDA NTT oleh ES (19), kerabat korban.

Kejadian bermula saat pelaku Paul meminta korban untuk memijat badannya di kamar pelaku. Pelaku kemudian memaksa korban untuk membuka pakaiannya lalu pelaku setubuhi.

Baca juga:Babak Baru Kasus Astri-Lael, Ira Istri Randy Curhat Usai Ditetapkan Jadi Tersangka

Ternyata aksi pelaku kepada korban bukan hanya sekali. Korban telah disetubuhi sejak masih duduk di bangku kelas V sekolah dasar (SD) sampai korban duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP).

Pelaku mengancam akan mengusir korban dari rumahnya jika korban menolak melayani nafsu bejat pelaku.

Korban yang merupakan anak yatim piatu pun pasrah dan selama bertahun-tahun korban mendiamkan kejadian yang menimpanya.

Polisi dari unit Buser Satreskrim Polres Belu kemudian menjemput dan menangkap pelaku di kediamannya dan membawa ke Polres Belu.

Baca juga:PH Keluarga Astri dan Lael: Curhatan Ira Ua Seharusnya Disampaikan Dalam Persidangan

Penyidik unit PPA Satreskrim Polres Belu juga memeriksa saksi-saksi dan membawa korban ke rumah sakit guna menjalani visum.

Pelaku juga diinterogasi dan mengakui perbuatannya. Ia kemudian ditahan di sel Polres Belu sambil menunggu proses hukum lebih lanjut.

Kapolres Belu, AKBP Yoseph Krisbianto, SIK melalui Kasat Reskrim Polres Belu, AKP Sujud Yulamlam, SIK, Selasa 10 Mei 2022 mengatakan, Polres Belu sudah melakukan pemeriksaan terhadap para saksi yakni paman korban dan anak pelaku. Bahkan pelaku sudah ditahan di sel Polres Belu juga.

“Kasus ini tragis, karena korban ini yatim piatu. Pasalnya sang ibu sudah meninggal dan ayahnya telah menikah lagi sehingga korban dititipkan pada pelaku sebagai wali. Karena istri pelaku merupakan mama kecil dari korban.Tetapi naas, karena korban tidak dilindungi melainkan dirudapaksa dengan berbagai modus,” tandas Kasat Reskrim.

Baca juga:Waspadai Hepatitis Akut, Pemkot Kupang Ingatkan Warga Jaga Kebersihan

Atas perbuatan tersebut, pelaku dijerat UU perlindungan anak pasal 81, dan sepertiga hukuman bagi pelaku yang merupakan wali dari korban sehingga hukuman maksimal 20 tahun.

Kasat Reskrim Polres Belu, AKP Sujud Yulamlam meminta agar keluarga memperhatikan anak-anak remaja perempuan di lingkungan keluarga. Sebab dalam kurun waktu 5 bulan, kasus Rudapaksa terhadap anak dibawah umur yang dilakukan oleh keluarga dekat telah mencapai 9 kasus yang terjadi di wilayah hukum Polres Belu.

“Orangtua khususnya ibu maupun wali perlu tingkatkan pengawasan terhadap anak perempuan,” ujarnya.

Sementara pelaku Paul dihadapan Kanit PPA Polres Belu, AIPTU Yeremias A. Menggi, mengaku melecehkan korban saat kelas V SD, tetapi ia hanya meraba tubuh korban pada tahun 2020 lalu.

Baca juga:Gubernur VBL: Kita Serahkan Penuh Pada Aparat Hukum

Namun pelaku mengakui bahwa awal Mei 2022, ia memperdaya korban dengan cara meminta korban untuk mengoles minyak di badan pelaku. Setelah itu, ia merudapaksa korban dengan ancaman akan mengusir korban dari rumah apabila korban menceritakan aksi bejadnya.

Rupanya anak pelaku, ES menangkap basah perbuatan bejat sang ayah terhadap korban. Korban menceritakan kejadian yang menimpanya sejak tahun 2020 lalu ke ES sehingga dilaporkan ke Polres Belu.

Baca juga:VBL dan Jos Nae Soi Sepakat Ke 2024-2029 Dan Dilema Partai Pengusung