Jumlah Penduduk Miskin di Kabupaten Ende Naik, Rokok Jadi Salah Satu Penyebab

EXPONTT.COM – Jumlah penduduk miskin di Kabupaten Ende mengalami kenaikan. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Ende, pada tahun 2020, penduduk miskin di wilayah ini naik 0.58 persen dibandingkan tahun sebelumnya. 

Jumlah penduduk miskin di Kabupaten Ende pada tahun 2019 tercatat sebanyak 64,45 ribu jiwa dan pada tahun 2020 naik menjadi 65,22 ribu jiwa. 

“Tahun 2020 naik menjadi 23,76 persen tahun sebelumnya sebesar 23,18 persen,” ujar Kepala BPS Ende, Paulus Puru Bere dikutip dari pos-kupang.com

Namun meski mengalami kenaikan, menurut Paulus kenaikan ini masih terbiilang wajar. Mengingat sekarang masyarakat tengah berhadapan dengan pandemi Covid-19. “Tahun 2018 malah angka kemiskinan lebih tinggi dibanding 2020,” lanjutnya.

Pada periode 2019 sampai dengan 2020, garis kemiskinan Kabupaten Ende naik Rp 25.610 per kapita per bulan atau meningkat sebesar 7,54 persen, yaitu dari Rp 363.508 per kapita per bulan pada 2019 menjadi Rp 392.591 per kapita per bulan pada 2020.

Baca juga: Nekat Curi HP untuk Belajar Online, Pelajar di Kupang Ditangkap Polisi

Baca jugaSoal Kerumunan Maumere, Giliran GPI Laporkan Presiden Jokowi dan Gubernur Viktor Laiskodat ke Polisi

Sementara Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) pada 2020 mengalami kenaikan sebesar 0,22 poin menjadi 4,54 dibanding 2019 yang sebesar 4,32. 

Indeks kedalaman kemiskinan merupakan ukuran rata-rata kesenjangan pengeluaran masing-masing penduduk miskin terhadap garis kemiskinan, sehingga semakin tinggi nilai indeks, semakin jauh rata-rata pengeluaran penduduk dari garis kemiskinan.

Selanjutnya, Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) juga mengalami kenaikan yakni sebesar 0,08 poin menjadi 1,19  dibanding 2019 yang sebesar 1,11. 

Faktor Apa Saja yang Memengaruhi Angka Kemiskinan? 

Paulus menjelaskan, untuk mengukur kemiskinan, BPS menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (basic needs approach).

Dengan pendekatan ini, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran.

Sumber data utama yang dipakai adalah data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas). Susenas di Kabupaten Ende dilaksanakan dengan sampel 53 Blok, setiap blok jumlah 10 rumah tangga.

Baca juga: Harta Kekayaan 5 Pasangan Bupati-Wabup di NTT yang Baru Dilantik, Bupati Manggarai Barat Terkaya

Baca juga:  Kisah Bocah Pembawa Bendera Merah Putih Kejar Pesawat Presiden Jokowi di Maumere

“Dalam pencacahan kita menanyakan hampir semua pengeluaran, pola konsumsi, kondisi rumah, listrik, air, jamban,” ungkapnya.

Paulus mengatakan, rokok dan tembakau menjadi salah satu faktor kenapa jumlah penduduk miskin di Ende naik. 

Paulus menyebut, kendati bukan merupakan kebutuhan dasar, namun rokok banyak dikonsumsi penduduk miskin. Pengeluaran untuk rokok dan tembako di Ende, tergolong tinggi. 

“Misalnya satu KK ada empat orang, bapanya merokok. Satu hari isap satu bungkus. satu bungkus rokok, Rp. 20.000, kan bisa beli beras sudah dua kilo. Sementara beras dua kilo bisa makan tiga hari. Belum lagi soal, rokok ada efeknya,” kata Paulus.

Faktor lain, yang sebabkan jumlah penduduk miskin naik, yakni, dari satu sisi lapangan kerja kurang di sisi lain, angkatan kerja banyak. “Sementara sektor non formal belum berkembang, gaji ada yang bawah UMR,” ungkapnya. 

*pos-kupang.com