“Terjepit diantara Dua Sahabat Peziarah Jefri Riwu Kore dan Viktor Bungtilu Laiskodat “

  • Bagikan

♦ Setahun Covid-19 dan Krisis Kehidupan, Kisah Nyata

 Oleh Wens John Rumung

COVID-19 mendera umat manusia. Sampai awal Maret 2021 sudah lebih dari 36.000 orang di dunia ini yang meninggal akibat virus corona. Saya, salah satu ciptaan Tuhan yang berprofesi sebagai jurnalis sejak 1982, terkena dampak langsung Covid-19 ini. Profesi saya atas anugerah Tuhan, dan dianugerahi berkat berlimpah dari pekerjaan saya sebagai wartawan. Hasil dari profesi ini banyak rezeki sehingga saya bisa membiayai perjalanan rumah tangga, membiayai anak-anak saya sekolah sampai keempat anak mendapat predikat cumlaude, ada yang meraih magister notariat dari perguruan tinggi ternama di Surabaya dan salah satu anak saya mendapat bea siswa studi tentang studi lingkungan pariwisata di Denver Amerika. Dan, kedua putera saya sudah menikah dan mempunyai anak. Inilah hasil terindah dari kesetiaan saya menggeluti sebagai wartawan dan tidak pernah gonta-ganti profesi sampai dengan saat saya menulis kisah nyata ini tanggal 3 Maret 2021.

Mengapa saya menulis kisah ini? jawabannya adalah berbagi rasa dan mengkisahkan pengalaman langsung akibat virus corona. Derita hidup, sudah menjadi bagian dalam perjalanan hidup saya sejak masih kecil, remaja sampai kini diusia saya yang sudah 66 tahun dan tujuh bulan ini. Selama masa kecil sampai remaja di kampung saya namanya Waka’ derita tidak makan sehari dan hanya makan daun pepaya dan lombok, itu biasa-biasa saja. Konsumsi air dari got pinggir sawah juga biasa-biasa saja. Sakit penyakit demam dan tanpa obat dan sembuh lagi, juga biasa-biasa saja. Sudah dilalui semua. Dan ketika saya merantau di Kupang dengan menumpang perahu kayu dari Pelabuhan Ende bulan Februari 1979 juga biasa-biasa saja. Akhir Februari 1979 berlabuh di Jembatan Selam juga terasa sangat indah. Ini sekilas kisah sebelum saya berkisah soal derita yang saya alami akibat Covid-19 yang kebetulan berulang tahun 2 Maret 2021 kemarin.

Sebelum menekuni dunia jurnalis, saya tekuni profesi tidak jelas. Jadi pembantu pejabat sudah, jadi kuli bangunan juga sudah, sampai suatu saat tahun 1982, saya coba-coba menulis berita di Mingguan DIAN yang diterbitkan Ordo SVD di Ende. Kondisi masih labil saat itu dan tidak menentu sehingga gonta ganti media. Sudah saya rinci dalam buku perjalanan hidup saya yang terbit sebagai hadiah ulang tahun saya ke-66, pada 6 September 2020 dan sudah dibagi keberbagai teman, Judul bukunya, “Setia Pada Panggilan” transformasi kehidupan saya sebagai jurnalis. Dalam buku ini, juga dikisahkan derita yang saya alami sebagai penderita Kanker Darah atau PNH istilah media bagi penderita kanker darah, atau darah merah di serang darah putih.

Di tengah umat di dunia menderita akibat Covid-19 tahun 2020, saya menerbitkan dua buku yaitu buku saya sendiri dan buku sahabat sejatiku, mantan bupati Rote Ndao dua periode Leonard Haning. Tahun 2021 ini, jika tuntunan Kerahiman Ilahi menghendaki, saya berencana menerbitkan buku saya kembali, cetakan kedua karena masih banyak yang perlu saya lengkapi dari kisah buku pertama.

Judul tulisan di atas tentu saja mempunyai makna bagi saya pribadi. Ini kisahnya nyata yang biasa-biasa saja saya alami. Media yang saya terbit terakhir ialah Mingguan EXPONTT, expontt.com untuk onlinenya tahun 2005. Sebelumnya Mingguan METRO Kupang yang mengkhususkan berita tetang Kupang Under Ground gaya sebuah Koran di Jakarta, Jakarta Under Ground. Mingguan METRO Kupang menyajikan berita khusus tentang romansa anak manusia, pria dan wanita. Diawali oleh cobaan demi cobaan dari paling ringan sampai paling berat. Perjalanan menerbitkan EXPONTT, berjalan biasa-biasa saja. Saya menjalin kerjasama dengan berbagai instansi untuk berlangganan. Saya harus ambil risiko, jika pemerintah yang berlangganan dinas berarti EXPONTT harus menurunkan berita dinas yang bersangkutan. Dan saya lakukan selayaknya media partisan.

Di lingkungan Pemerintah Kota Kupang berlangganan sejak Walikota Kupang SK Lerik, sejumlah 125 eksemplar. Media ini setiap edisi menurunkan berita program pemerintah kota dari Walikota sampai dinas-dinas. Dulu sesuai permintaan walikota media dibagi langsung ke 52 kelurahan dan staf saya Peter Nafie melakukan dengan setia. Sebuah berita dari Staf Sirkulasi saya bernama Adang Duka awal Maret 2020 bilang, “ Uang langganan Mingguan EXPONTT tidak bisa dibayarkan atas instruksi walikota.”

Ini berita duka disaat Virus Corona mendera manusia. Saya termasuk dideritakan akibat virus corona. Saya mencoba WA Pak Walikota yang biasa dipanggil ‘kae’ artinya kaka. Tidak juga balas. Maksudnya sekadar tahu, bahwa saya sudah terlanjur cetak Mingguan EXPONTT selama tiga bulan atau tiga dikali 125 eks x Rp 60.000 atau dikali Rp 10.000 selembar. WA saya tidak mendapat respons, tidak dibalas. Saya iklas dengan situasi ini, tetapi yang saya harapkan sebagai seorang walikota yang juga sahabat peziarah membalas sekadar memberi solusi. Tidak juga mendapat jawaban sampai hari ini, 3 Maret 2021 menulis kisah nyata ini. Saya harus menelan seenak-enaknya rasa ini.

Saya juga mencoba WA Kepala Bagian Humas dan Protokol, Ernes Ludji yang juga kenalan baik juga ayahnya. Tetap tidak juga memberi solusi dan dibiarkan berlalu seiring perjalanan waktu sampai hari ini, tanggal 3 Maret 2021. Saya hanya memanjat puji dan syukur kepada Penyelenggara Kehidupan ini atas semua yang saya alami. Termasuk dalam kerjasama media dan Pemkot juga tidak dapat karena regulasi bahwa sebuah media dalam kerjasama harus Perseroan Terbatas atau PT berikut seluruh persyaratan. Sejumlah media online menjalin kerjasama dengan Pemkot dengan diutamakan berita tentang kegiatan walikota dan wakil walikota. Seorang juru humas berkisah, para wartawan tinggal copy paste berita lalu dimuat di media online-nya. Ada kisah yang “kurang enak” saya ketenghkan disini dengan “System” kerjasama media dengan Pemkot Kupang semacam ‘konspirasi’ kepentingan. Saya memilih untuk Mingguan EXPONTT tidak kerjasama karena tidak memenuhi syarat. Sebab harus ada risiko pertaggunganjawaban dalam penggunaan uang Negara. Semua online rutin memberitakan berita tentang walikota dan wakil walikota beracara dinas atau acara kemanusiaan, sehingga mengabaikan berita tentang infrastruktur, jalan yang rusak dimana-mana, tentang rakyat kota Kupang krisis air, atau kerusakan lingkungan dan peristiwa kemanusiaan lainnya. Sebagai jurnalis senior, memahami semua perjalanan profesi saya sebagai jurnalis dengan seluruh risikonya. Saya berkawan baik dengan Jefri Riwu Kore jauh sebelum jadi anggota dewan dan pernah juga makan disebuah warteg atau warung tegal di tepi jalan di Blok M Jakarta Selatan. Saya dikenalkan oleh sahabat kentalnya Kris Matutina. Keduanya berkawan sejak masih kuliah di Denpasar.

“Sahabat Peziarah”

Adalah sahabat saya, Viktor Bungtilu Laiskodat sahabat peziarah seperti yang ditulisnya dalam buku saya yang diterbitkan September 2020. Awal Juni 2020, saya diundang mengikut kunjungan kerja ke Flores mulai dari Labuan Bajo sampai dengan Kabupaten Ende. Atas tuntunan Kerahiman Ilahi, disuatu pagi, 28 Juni 2020 saat lagi duduk santai di lobi Hotel Grand Wisata Ende bersama Staf Khususnya Pius Rengka dan Anwar Pua Geno, saya memberanikan diri untuk omong. Saya bilang, ”Pak Gub, bisa bantu ko, langganan dinas 125 eksemplar Mingguan EXPONTT atau 250 eks. ”Dijawab santai, “ Harga berapa tu,” sapa Pak Gub. “Saya bilang Rp 60.000.- Jadi kalau langganan 125 eks berarti sebulan Rp 5 juta. Atau Pak Gub berlangganan 250 eks biar saya bisa dapat Rp 10 juta perbulan. ”Dijawab langsung,” Ah itu terlalu mahal tu. Coba minta pendapat Staf khusus.” Maka, hadirlah kedua Staf Khusus Pius Rengka dan Anwar Pua Geno. Keduanya menyatakan setuju.

Anwar dan Pius Rengka setuju untuk cukup 125 eks. Dan sahabat peziarah Viktor Bungtilu Laiskodat setuju dengan saran Anwar Pua Geno dan Pius Rengka. Hati ini legah dan hati berkata,” Terima kasih Kerahiman Ilahi” untuk peristiwa 28 Juni 2020 ini. Sejak Juli 2020 resmi Mingguan EXPONTT dibagi kesejumlah dinas di lingkungan Pemda NTT. Pendistribusian Koran ini, disertai tanda bukti. Tanda bukti setiap bulan di serahkan kepada staf bernama Andry. Dan ini dilakukan saban bulan.

Akhir Januari 2021, seperti biasa saya menyerahkan tanda bukti pendistribusian koran kepada Ibu Andry. Hari ini, jika tidak salah 25 Februari 2021, Ibu Andry menjawab,” Uang tidak ada. Jadi Mingguan EXPONTT tidak bisa dibayar.” Lazimnya, setelah menyerahkan bukti pembagian koran, saya diminta menemui Ibu Bida sang bendara. Sejak akhir Januari 2021 harus melapangkan hati ini, menerima kenyataan bahwa akibat Virus Corona berdampak pada pembiayaan.

Saya harus bertemu langsung Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat untuk mendapat jawaban pasti karena kesepakatan untuk berlangganan atas kesepakatan 28 Januari 2020 di Hotel Grand Wisata Ende. Sehingga saya harus mendapat jawaban langsung dari sahabat peziarah Viktor Laiskodat. Kendala baru harus saya hadapi karena sejak Januari 2021 diberlakukan peraturan bahwa setiap tamu yang mau bertemu gubernur, wakil gubernur, sekda maupun pejabat teras lainnya, harus terlebih dahulu di rapitest antigen dan harus dalam bentuk tertulis yang hanya berlaku dua hari. Saya pun harus bersabar untuk tidak bisa ketemu pejabat.

Saya sangat memahami dan harus bersabar. Dalam benak, suatu hari pasti bisa bertemu dan mendapat jawaban langsung dari Gubernur Bungtilu Laiskodat. Dan benar juga. Dua hari setelah pulang dari Sumba, saya harus menanti dengan sabar di tangga turun Lobi Kantor Gubernur untuk bertemu dan bertanya langsung. Pagi itu, Gubernur dan sejumlah pejabat juga staf khusus hendak berkunjung ke Lelogama Kabupaten Kupang. Jawaban,” Nanti berurusan dengan staf. Coba tanya ini,” sambil menunjuk kearah Karo Umum. Saya bilang,” Sudah rugi.” Dijawab pula Gubernur dalam nada tidak serius,” Biar sesekali rugi.”

Itulah kisah nyata dampak Covid-19 terhadap manusia, apalagi wiraswasta yang tidak mempunyai slip gaji bulanan seperti ASN atau mereka yang berada, terutama para koruptor yang bergelimangan harta. Jalan kehidupan ini masih panjang dan harus dijalani dan dinikmati, menerima semua kondisi, sulit, berat maupun situasi paling pahit. Karena sudah terbiasa dengan derita demi derita saya harus melakoni, sambil bersyukur kepada Sang Pemberi Hidup ini. Hanya waktu yang bisa menjawab semua beban dan persoalan hidup manusia. Kisah ini saya tulis karena berteman dengan pejabat publik di daerah ini, dan saya adalah salah satu rakyat mereka, walikota dan gubernur. ♦

  • Bagikan