Program Gubernur Budidaya Kerapu Cantang di Riung siap Expor ke Hongkong, Kadis Perikanan Panen Dua Ton

  • Bagikan

EXPONTT.COM – Program Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat bidang perikanan dan kelautan dalam rangka sejahterakan masyarakat pesisir sudah membuahkan hasil. Adalah budidaya ikan kerapu cantang di Labuan Kelambu Riung yang dimulai tahun 2020 sudah dipanen secara simbolis oleh Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan atau DKP Ganef Wurgyanto dan dihadiri masyarakat nelayan di Labuan Kelambu di wilayah Desa Sambinasi Barat, Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada, Provinsi NTT 14 Juni 2021.

Kepala Dinas KP NTT, Ganef Wurgiyanto menunjukkan kerapu yang dipanen di Labuan Kelambu, Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada, kemarin. Foto: Bernad/VN

Hadir pula Kadis KP Ngada, Korsin Wea, Camat Riung Alfian, Kapolsek Riung, Aipda Stefanus Kodo dan Babinsa di wilayah Desa Sambinasi Raya Stefanus Fino serta seluruh masyarakat Desa Sambinasi Barat.Pemberdayaan ekonomi yang dicetus gubernur ini, kata tokoh masyarakat setempat Arifin Zage dan Ibrahim Malik sangat membantu meningkatkan ekonomi masyarakat Riung khususnya di Desa Sambinasi.” Terima kasih kami ucapkan kepada Bapak Gubernur Viktor di Kupang. Dulu Labuan Kelabo tidak diperhatikan kini membuahkan hasil,” kata Arifin Zage.

 

Ganef mengatakan, “Banyak orang memprediksikan budidaya ikan kerapu di Labuan Kelambu ini akan gagal, namun saya bilang tidak gagal, karena saya sangat memahami kondisi perairan laut di wilayah utara Flores. Hal itu terbukti pada hari ini (kemarin) dilakukan panen perdana.”

Menurutnya, seperti diwartakan harian v-news, panen perdana kerapu menunjukkan program Pemerintah Provinsi NTT khususnya DKP telah berhasil dan harus berkelanjutan.

Ganef menjelaskan, jumlah bibit ikan kerapu jenis cantang yang dikembangkan di Labuan Kelambu sebanyak 10.000 ekor, sementara yang tidak berkembang sebanyak 5.000 ekor lebih, sehingga yang berkembang dan dipanen 4.000 ekor lebih atau totalnya diperkirakan 2 ton lebih.

Yang dibudidayakan di Labuan Kelambu Riung, jelas Ganef merupakan kerapu jenis cantang dan harga pasaran mencapai Rp 150.00/kg. Berikut daftar harga jenis ikan kerapu harga Ikan Kerapu Tikus Rp 390.000, Ikan Kerapu Kertang Rp 170.000, Ikan Kerapu Lumpur, Rp 150.000, Ikan Kerapu Macan Rp 130.000, Ikan Kerapu Cantang Rp 150.000, Ikan Kerapu Kusatang Rp 380.000, Ikan Kerapu Batu Rp  250.000, Ikan Kerapu Sunu Rp 360.000, Ikan Kerapu Batik Rp 200.000, Ikan Kerapu Cantik Rp 150.000, Ikan Kerapu Fillet Rp  160.000, Ikan Asin Kerapu Rp 120.000.

“Kita jual ikan hidup bukan ikan mati. Kalau jual ikan mati tidak perlu budidaya. Pembelinya pengusaha dari wilayah Labuan Bajo untuk di pasarkan ke wilayah Bali dan diteruskan ke Hongkong. Dan ikan yang dipanen masih berstatus KTP Riung dan hari berikutnya sudah KTP Hongkong,” tandasnya.

Terkait anggaran budidaya kerapu di Labuan Kelambu, kata Ganef, Rp7,5 miliar dan hasilnya akan dibagi tiga yakni 50 persen untuk koperasi Waning Baar selaku pengelola di Labuan Kelambu dan 75 persen untuk PAD NTT dan 25 persen untuk PAD Kabupaten Ngada.

Sementara tenaga kerja pada lokasi budidaya kerapu di Labuan Kelambu bukan Tenaga Harian Lepas (THL) tetapi tenaga kerja biasa yang diberi upah Rp500 ribu per bulannya.

Ketua Koperasi Waning Baar, Ibrahim Malik, mengatakan hasil panen perdana sangat memuaskan. Hal ini memotivasi pihak koperasi agar lebih semangat dalam mengelola budidaya kerapu. Lebih puas lagi, hasil panen langsung diangkut pembeli.

“Panen perdana ikan kerapu di Labuan Kelambu ini sangat memuaskan. Hal ini memotivasi kami untuk lebih semangat dalam mengelola budidaya kerapu dan kami tidak menyangka kalau kerapu yang dipanen langsung diangkut oleh pihak pemasaran,” tuturnya.

Ibrahim menambahkan, setelah melihat hasil panen, pihaknya konsisten melanjutkan budidaya kerapu di Labuan Kelambu.

Ciptakan Lapangan Kerja

Sekda NTT, Benediktus Polo Maing dalam tanggapan Gubernur atas Pandangan Umum Fraksi-fraksi terhadap Nota Pengantar Laporan Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD 2020 menyampaikan, budidaya kakap dan kerapu untuk menciptakan lapangan kerja, peningkatan sumber pendapatan dan menghidupkan ekonomi di lokasi budidaya. ♦ wjr

  • Bagikan