Erens Giri Divonis Tujuh Bulan Penjara Karena Berzina

  • Bagikan

♦ dr. Maria Devi Arianti M.BiomedKK: Tidak Puas Dengan Vonis Hakim

EXPONTT.COM – Erens Giri ASN pada Kementerian PUPR RI yang diperbantukan pada Dinas PUPR NTT divonis bersalah oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Oelamasi Kabupaten Kupang dengan penjara selama tujuh bulan dan membayar denda perkara Rp 5.000.000 Pembacaan vonis dibacara Ketua Majelis Hakim yang juga ketua PN Oelamasi Decky Aryanto Safe Nitbani, SH, MH didampingi dua hakim anggota Selasa 22 Juni 2021. Pengacara  menyatakan naik banding yang disampaikan Philipus Fernadez selaku pengacara. Vonis juga dijatuhkan pasangan selingkuhnya Riana Nana dengan penjara selama 7 bulan.

dr. Maria Devi Arianti yang didampingi pengacaranya Nikolas Ke Lomi, SH menyatakan kurang puas atas vonis hakim. “Saya akan membuat surat kepada Menteri PUPR di Jakarta atas vonis ini, sebab Erens adlah ASN pada Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) X Kupang NTT atau ASN Pusat karena saya mengharapkan Erens dipecat dari statusnya sebagai ASN.

Pada tempat pertama saya mengucapkan terima kasih kepada Majelis Hakim yang mulia, terima kasih juga kepada pihak kepolisian, jaksa terutama kepada Ibu Kejari Oelamasi Shirley Manutede yang telah merespons kasus kami dari penggerebekan sampai ke meja sidang dan divonis bersalah hari ini.

Terhadap putusan ini, saya tetap kurang puas seharusnya terdakwa diberhentikan dengan tidak dengan hormat dari statusnya sebagai ASN karena sangat jelas tertuang dalam Pasal 14 Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1983 Tentang Ijin Perkawinan dan Perceraian tentang PNS atau sekarang ASN. Isinya PNS dilarang hidup bersama wanita yang bukan isterinya atau laki-laki yang bukan suaminya tanpa ikatan perkawinan yang sah. PNS yang melanggar bunyi pasal ini jelas harus dijatuhi hukum berat berdasarkan PP Nomor 53 Tahun 2010 Tentang Peraturan Disiplin PNS dengan hukuman berat sesuai Pasal 15 diantaranya pemberhentian dengan tidak hirmat dari status sebagai PNS atau ASN,” tegas Devi menjawab awak media usia sidang.

PNS yang melanggar ketentuan pasal di atas, dijatuhi salah satu hukuman disiplin berat berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil yang kemudian telah dicabut dan digantikan oleh Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2010 tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil (“PP 53/2010”).

Jenis hukuman disiplin berat tersebut terdiri dari:

    1. penurunan pangkat setingkat lebih rendah selama 3 tahun;
    2. pemindahan dalam rangka penurunan jabatan setingkat lebih rendah;
    3. pembebasan dari jabatan;
    4. pemberhentian dengan hormat tidak atas permintaan sendiri sebagai PNS; dan
    5. pemberhentian tidak dengan hormat sebagai PNS.

Penjatuhan hukuman disiplin berat karena selingkuh tersebut dikarenakan pelanggaran PNS terhadap kewajibannya yang salah satunya adalah untuk menjunjung tinggi kehormatan negara, pemerintah, dan martabat PNS, apabila pelanggaran yang dilakukan berdampak negatif pada pemerintah dan/atau negara dan juga dapat diduga karena telah melanggar kewajiban untuk menaati segala ketentuan peraturan perundang-undangan, apabila pelanggaran berdampak negatif pada pemerintah dan/atau Negara.

Erens Giri dalam persidangan mengaku bersalah dan siap menjalani hukum. Kepada expontt.com usai sidang mengaku berselingkuh karena sering ditinggal isteri sejak 2010 dengan alasan lanjut studi namun tidak selesai. “Ya sebagai laki-laki saya merasa sepi dan terpaksa berselingkuh,” jawab Erens.

dr Devi mengaku terus memperjuangkan kasus ini, dengan mengirim surat kepada Menteri PUPR selaku atas langsung karena Erens Giri adalah ASN pada Kementerian PUPR yang diperbantukan di NTT.

Dalam KUHP ayat satu-nya, Pasal 417 yang mengatur soal perzinaan menyebutkan “Setiap Orang yang melakukan persetubuhan dengan orang yang bukan suami atau istrinya dipidana karena perzinaan dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun atau denda Kategori II.”Sementara dalam ayat satu di Pasal 419 yang mengatur soal kohabitasi atau samenleven disebutkan bahwa “Setiap Orang yang melakukan hidup bersama sebagai suami istri di luar perkawinan dipidana dengan penjara paling lama 6 (enam) bulan atau pidana denda paling banyak kategori II. “Denda dengan kategori yang dimaksud berjumlah sekitar Rp 50 juta.

Digrebek

Seperti diberitakan penatimor.com , dr Devi Maria Arianti, M.Kes. (50), yang juga PNS pada Dinas Kesehatan Provinsi NTT akhir pekan lalu bersama aparat keamanan Polres Kupang. Ia mendatang rumahnya di Desa Nunkurus Kecamatan Kupang Timur Kabupaten Kupang Provinsi NTT.

Ia menggerebek suaminya, Erens Alexander Christofel Giri (55), Aparatur sipil Negara (ASN) pada Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) X Kupang NTT. Saat penggrebekan ini, ditemukan pula Riana Nana (25) yang diduga WiL dan simpanan Erens Alexander Christofel Giri.

Korban dr Devi Maria Arianti, M.Kes terpaksa melakukan ini karena sudah lama bersabar dan sudah tidak tahan dengan perbuatan sang suami. Aksi penggrebekan pada pukul 06.00 wita ini berlangsung dramatis. Korban kesulitan masuk ke rumah karena sang suami menutup rapat pintu pagar dan memasang CCTV sehingga mudah memantau orang yang datang ke rumahnya.

Polisi dan korban terpaksa meminta bantuan ketua RT setempat memanjat pagar rumah dan berhasil masuk ke dalam rumah. Saat polisi dan korban datang, Erens Alexander Christofel Giri yang menikah sah dengan korban sejak tahun 1994 lalu sudah tinggal serumah dengan Riana Nana alias Nana.

Korban dr Devi Maria Arianti, M.Kes pun mendapat kabar kalau suami dan WIL nya sudah 3 tahun hidup bersama saat korban menyelesaikan pendidikan di Solo Jawa Tengah. Selama ini, korban juga tinggal dengan kakak nya di Kelurahan Fatululi Kecamatan Oebobo Kota Kupang karena tidak tahan dengan perilaku sang suami.

Pasca penggrebekan tersebut, Erens dan Nana digiring ke Mapolres Kupang untuk pemeriksaan. Keduanya diperiksa penyidik unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Sat Reskrim Polres Kupang.

Nana sendiri dibawa ke rumah sakit Bhayangkara Titus Uly Kupang untuk menjalani visum.

Kasat Reskrim Polres Kupang, Iptu Simson Sed Libranos Amalo, SH didampingi Kanit PPA Sat Reskrim Polres Kupang, Ipda Fridinari Kameo, SH yang dikonfirmasi dikantornya membenarkan kejadian tersebut.

“Ada laporan yang masuk maka kami respon dan dilakukan penggrebekan. Saat ini kasus nya ditangani penyidik PPA,” tandas Kasat Reskrim Polres Kupang.

Kasat mengakui kalau sejak bulan Mei 2019 yang lalu, korban menyelesaikan pendidikan S2-nya di Solo Jawa Tengah dan kembali ke Kupang. Namun korban tidak bertemu dengan suaminya, Erens Giri dan keduanya putus komunikasi karena Erens sulit dihubungi apalagi ditemui.

Sekitar pertengahan bulan Mei 2019 yang lalu, korban mengalami kecelakaan lalu lintas di jalur 40 Kelurahan Sikumana Kecamatan Maulafa Kota Kupang hingga mengalami cedera luka berat pada tangan dan tangan kiri patah. Korban pun harus menjalani beberapa kali operasi. Pada kedua tangannya tanpa didampingi sang suami.

Korban mendapat informasi dari sejumlah tetangga dan bekas sopir mereka kalau Erens sudah tinggal bersama dengan perempuan lain.

“Korban sudah membuat laporan polisi dan kita mengecek kebenaran laporan nya. Ternyata kedua terlapor (Erens dan Nana) sudah hidup serumah layaknya pasangan suami istri,” tandasnya.

Korban juga melaporkan kasus penelantaran dan pencurian dalam keluarga karena sejumlah aset seperti mobil dan tanah yang diperoleh pasca mereka menikah di Bogor Jawa Barat 1994 lalu dijual Erens tanpa sepengetahuan korban.

Korban dr Devi Maria Arianti, M.Kes juga mengaku kalau brankas dalam rumah berisi dokumen dan surat-surat aset sudah hilang dan diduga dijual Erens tanpa persetujuan korban sebagai istri sah.

“Dia (Erens) menjual aset-aset kami tanpa sepengetahuan saya. Dia juga tidak pernah menjenguk apalagi mendampingi saya saat saya mengalami kecelakaan dan saat saya dioperasi,” tandas korban saat ditemui pasca penggrebekan ini.

Korban pun pernah mendapat KdrT pada tahun 2007 lalu dan sempat dilaporkan ke polisi, namun masalah ini diselesaikan secara damai. “Dia (Erens) minta maaf dan saya memaafkan sehingga saya cabut laporannya saat itu,” tandas korban.

Korban bertekad tetap melanjutkan proses dan laporannya ke ranah hukum karena selama ini korban tidak dinafkahi. “Ada pula pencurian brangkas dalam keluarga, dan saya laporkan perzinahan dan penelantaran,” ujar korban.

Diakui nya kalau sejak keduanya menikah tidak pernah mereka menjual barang-barang, namun saat ini justru Erens rajin menjual barang-barang dan aset mereka termasuk sejumlah kendaraan. Korban sendiri pernah mengajukan gugatan cerai pada tahun 2002 lalu namun Erens menolaknya.

“Saya sudah pernah minta cerai, tapi ditolak. Ternyata sekarang malah tinggal dengan perempuan lain,” tandas korban sambil menambahkan kalau sejak pulang studi S2 ia tidak pernah ke rumah karena Erens selalu memantau melalui CCTV sehingga korban sulit masuk ke rumahnya sendiri dan terpaksa tinggal dengan kerabat sambil menjalani perawatan luka dan patah pada tangan.

Erens dan Nana pun dipulangkan usai diperiksa penyidik. Namun keduanya dikenai wajib lapor dua kali dalam seminggu. Erens Alexander Christofel Giri sendiri belum berhasil dikonfirmasi terkait laporan kasus ini. ♦ wjr

  • Bagikan