“EXPONTT Media Abal-Abal”

♦ Catatan Wens John Rumung

KAMIS 9 September 2021, saya menerima pesan melalui WA rekan jurnalis muda, saya tidak perlu menyebut namanya disini yang  mengirim sebuah status dari akun Yeni Lakusa.

Yeni Lakusa menulis, ”Ini media cetak Expo NTT, milik Wens John Rumung media abal-abal yang hanya cetak untuk cari uang pribadi kasih hidup keluarga. Karena sesuai petunjuk BPK, kerjasama dengan media harus menunjukan surat2 resmi perusahaan media cetak, dan media Expo NTT tidak bisa melengkapi, maka kerjasama dengan media abal2 ini media dihentikan. Kecewa, maka wens john rumung yg merupakan wartawan, redaktur, pemred, merangkap sirkulasi dan pengantar koran, menggunakan siasat licik, dengan selalu menyerang kebijakan walikota Kupang. Caranya dengan menggunakan raja selingkuh don paulus punya mulut untuk melakukan serangan. Yg satu pemeras lewat media, yg satu anggota dprd kota raja selingkuh. Pas… klop.”

Tulisan Yeni Lakuka sangat detail dan sangat memahami tentang kerja sama media dan pemkot melalui Dinas Komunikasi dan Informasi. Yeni Lakusa pasti “orang dalam” sehingga tau detail. Kata-kata ini saya muat lengkap di media ini, expontt.com sebagai catatan saya. Ini hadiah untuk saya yang sudah bergelut sebagai profesi wartawan sejak 1982, pernah pula sebagai wartawan Istana Negara dizaman Soeharto.

Soal kerjasama dengan Kominfo Kota Kupang sejak zaman dulu ketika Od Pello sebagai Kadisnya dalam bentuk berlangganan dinas dan Mingguan EXPONTT sesuai isi kerjasama untuk diedarkan selain dinas-dinas juga di kelurahan dan camat. Staf saya Pieter Nafie yang membagikan koran. Dalam kerjasama ada tugas media yaitu memberitakan program, visi dan misi Pemkot termasuk program Walikota dan Wakil Walikota Kupang. Ada bukti lengkap dalam bentuk bundel. Bisa melihatnya di perpustakaan saya.

Soal kerjasama yang dipersoalkan, bahwa sejak 2019 konon ada kebijakan bahwa media dalam menjalin kerjasama dengan Dinas Kominfo Kota Kupang harus bernaung dibawah Perseroan Terbatas atau PT. Saya bukan tidak mampu membuat akte notaris yang hanya berkisar lima sampai tujuh jutaan, tetapi aroma KKN yang sampai ke telinga saya, maka suara hati saya mengatakan batal kerja sama jika kinerja ada aroma tak sedap. Saya enggan menulisnya di sini. Lain waktu jika diperkenanNya. Suara

Kerahiman Ilahi menuntun saya untuk tidak perlu kerjasama karena toh yang dibayar pakai uang Negara, bukan uang pribadi perpribadi orang. Apalagi Kadisnya Ibu Balyna Ully kawan dekat sejak masih Bagian Keuangan Wali kota Kupang pertama Mesakh Amalo. Prinsip saya dalam mencari rezeki harus dengan cara halal. Jadi Yeni Lakusa tolong tunjuk bukti jika media saya atau saya atau ada anak buah saya yang memeras. Tolong tunjukkan bukti dan melaporkan ke polisi.

Perilaku anda mengatai saya pemeras sudah saya laporkan kepada Sang Penguasa Kehidupan ini. Biarlah dia yang akan menggodam Anda. Tetapi status anda saya simak dan menyimpannya dalam hati. Saya dituding menyerang kebijkan Walikota Kupang Jefri Riwu hanya karena tidak ada kerjasama sangatlah keliru. Anda mesti baca, baca dan baca setiap berita expontt.com. Saya menulis sangat didukung data yang akurat. Silahkan konfirmasi dengan Kabag Protokol dan Humas adik Ernes Ludji.

Yang saya kecewa hanyalah sikap yang tidak bijak yang pernah dilakukan oleh Jefri Riwu Kore sebagai Walikota. Sikap tidak bijak itu ialah tidak membayar keuangan langganan Mingguan EXPONTT selama tiga bulan senilai Rp 30-an juta untuk langganan bulan Januari, Februari dan Maret 2020. Setiap minggu kita drop 125 eksemplar. Dikali empat dan dikali tiga bulan, dikali Rp.6.000. Koran EXPONTT itu tidak dicetak gratis di Percetakan Karya Guna Kupang. Langganan dilakukan dengan kesepakan sejak Walikota Kupang Almarhum S.K.Lerik sampai dengan Walikota Sekarang Jefri Riwu Kore.

Arsip Bundelan Koran EXPONTT

Mencetak koran dibayar dengan uang hasil jeripayah saya, hasil keringat saya. Jadi sepantas saya mengklaim. Karena Jefri Riwu Kore kawan lama jauh sebelum jadi anggota dewan dan atau walikota, bahkan kita pernah makan bersama di sebuah warteg di Blok Jakarta. Yang saya kecewa bukan masalah uang, tetapi kebersamaan sebagai kawan. Karena tidak membayar ataukah tidak ada uang karena semua anggaran fokus ke masalah Covid-19 saya sangat paham.

Arsip Bundelan Koran EXPONTT

Yang saya kecewa, kawan saya ini tidak membalas WA yang saya kirim, tidak pula menjawab telepon saya. Dalam kehidupan ini, uang bukan segala-galanya. Kekerabatan saling mengisi. Bukan uang atau harta tetapi budi baik yang akan dibawa sampai mata. Nama baik lebih penting dari harta yang berlimpah ruah. Ketika manusia mati, yang membawa jenazah bukan mobil mewah bermerk tetapi ambulance.

Jadi saya menulis ini, karena status Yeni Lakusa. Mudah-mudahan fam lakusa bukan dari keturunan mantan guru saya di SMEA Pembina Kupang dulu. Melalui catatan ini, kiranya kawan saya yang sering saling sapa dengan kata, ”Kae” bisa merespon. Dari lubuk nurani, jangan lagi berpikir tentang jumlah uang yang jumlah tidak seberapa, karena saya sudah berkelimpahan rezeki yang Tuhan anugerahkan. Semua rezeki saya mendapatnya dengan cara halal. Saya kira sampai disini catatan saya. ♦