Hugo Rehi Kalembu: Bank NTT Bagus-bagus

  • Bagikan

EXPONTT.COM – Ketua Fraksi Partai Golkar di DPRD Hugo Rehi Kalembu memuji Bank NTT. Pujiannya seperti disampaikan kepada expontt.com Rabu 17 November 2021  dengan kalimat,” Bagus, bagus”. Menurut Hugo Rehi Kalembu pujian kepada Bank NTT beradasarkan penjelasan kesimpulan rapat dengan pimpinan dan staf Otoritas Jasa Keuangan atau OJK pada rapat dengan pendapat atau RPD 15 November 2021.

Kalau ada persoalan yang diributkan selama ini adalah hal biasa dalam dinamika sebuah bank daerah.” Yang dipermasalahkan pemberitaan yang terkesan memojokan Ban NTT tentu ada interes oknum atau lembaga tertenu.” Kami di DPRD percaya pada penilaian OJK. Hanya saja, Dirut dan seluruh komisaris dan direksi ke depan lebih waspada terhadap pemberian kretid kepada perusahaan tertentu. Lebih telitila dan harus memacu sampai bank ini menjadi bank besar dengan modal sekitar  Rp 3 triliun  agar tidak turun kelasnya. Paling tidak 2024 sudah beres,” jelas Hugo.

Penjelasan dan pujian juga disampaikan Wakil Ketua DPRD NTT dari Partai Golkar Inche Sayuna. Dari penjelasan OJK, kata Inche, Bank NTT predikat baik.” Ini bank milik orang NTT. Jadi kita harus dukung penuh, karena semua ASN bergantung pada bank ini,” katanya sambil memuji kinerja Dirut dan direksi Bank NTT serta terus mendorong Bank NTT agar terus maju dan berbenah diri dan manajemen.

Dirut Bank NTT Alex Riwu Kaho, menyatakan siap melaksanakan semua usul dan saran DPRD pada RPD 15 November 2021. “ Kita sedang dan akan melakukan pembenahan ke dalam agar lebih bagus ke depan,” janji Alex.

Seperti diwartakan sebuah portal, dedikasi, semangat, kerja keras dan kerja cerdas direksi dan semua jajaran membuahkan hasil yang positif. Bank NTT dinyatakan sebagai Bank Sehat. Dalam Prudential Meeting Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank NTT yang berlangsung virtual beberapa waktu lalu, OJK memaparkan penilaian Risk Based Rating Bank (RBBR). Dalam paparan OJK, Bank NTT untuk penilaian Semester I-2021 dinyatakan sebagai Bank Sehat.

Saat Press Conference, Direktur Utama Bank NTT Harry Alexander Riwu Kaho, mengatakan, akhirnya Bank NTT mengakhiri masa yang panjang sebagai bank yang cukup sehat menjadi bank yang sehat.

“Penilaian sebagai bank yang sehat merupakan kado terindah dalam HUT ke-59 Bank NTT dan kado HUT ke-76 Kemerdekaan RI,” kata Alexander Riwu Kaho.

Menurut Alexander, usai menyandang predikat sebagai Bank Sehat, maka target Bank NTT selanjutnya dalam program strategis Bank NTT di tahun 2023 yakni menjadikan Bank NTT sebagai Bank Devisa.

Salah satu persyaratan Bank Devisa adalah tingkat kesehatan bank minimal selama 18 bulan terakhir. Persyaratan tersebut mengisyaratkan agar Bank NTT tetap menjaga dan mempertahankan diri sebagai Bank Sehat.

Hadir saat konferensi pers tersebut, Kepala Bank Indonesia Perwakilan Provinsi NTT I Nyoman Ariawan Atmaja, Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) NTT, Robert Sianipar, Lerry Rupidara selaku wakil dari Pemerintah Provinsi serta hadir pula seluruh Direksi, Komisaris dan kepala divisi.

Alex menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang sudah berkontribusi, sehingga melahirkan prestasi tersebut. Terutama kepada OJK, BI, pemegang saham dan media. Jika di tahun 2009 lalu atau selama 13 tahun Bank NTT menyandang predikat sebagai bank cukup sehat, namun 18 Agustus lalu, OJK menetapkan Bank NTT masuk dalam kategori sehat.
Tingkat Kesehatan Bank adalah hasil penilaian kondisi Bank yang dilakukan terhadap risiko dan kinerja Bank serta merupakan hasil penilaian kualitatif atas berbagai aspek yang berpengaruh terhadap kondisi atau kinerja suatu bank melalui penilaian faktor permodalan, kualitas aset, manajemen, rentabilitas, likuiditas dan sensivitas terhadap pasar.

Penilaian tingkat kesehatan bank dinilai Otoritas Jasa Keuangan (OJK) setiap enam bulan atau per semester atas semua aspek. Adapun empat faktor penilaian utama tingkat kesehatan bank yakni, profil risiko (risk profile).

Peringkat komposit tingkat kesehatan bank dikategorikan dalam lima peringkat yakni, komposit 1 (sangat sehat), komposit 2 (sehat), komposit 3 (cukup sehat), komposit 4 (kurang sehat) dan komposit 5 (tidak sehat).

Tantangan membawa Bank NTT sebagai bank kebanggaan masyarakat NTT menjadi bank sehat merupakan motivasi bagi Manajemen Bank NTT saat ini untuk berkomitmen menjadi Bank yang sehat.

Era Baru Bank NTT
Sebagai Bank sehat, challenge untuk mempertahankan akan lebih sulit. Namun sebagai bank sehat, terbuka peluang bagi Bank NTT untuk meningkatkan bisnis bank ke depan.

Salah satu peluang tersebut adalah digitalisasi. Bank NTT harus mampu dengan cepat beradaptasi dengan perubahan dinamika di dunia perbankan saat ini. Adaptasi di bidang teknologi harus mampu dilakukan Bank NTT dengan memanfaatkan peran digitalisasi.

Digitalisasi mampu meningkatkan efisiensi dan meningkatkan income bank. Digitalisasi disesuaikan dengan kebutuhan customer dan debitur Bank NTT. Saat ini Bank NTT telah berhasil mendigitalisasi operasional dua jaringan kantor yakni Kantor Cabang Utama dan Kantor Cabang Khusus.
Ke depan digitalisasi operasional dan layanan akan dilakukan untuk seluruh jaringan kantor bank. Di bidang Bisnis, bank akan terus melakukan diversifikasi produk dana dan kredit berbasis digital. Bank NTT diharapkan dapat memahami apa yang menjadi kebutuhan para klien dan nasabahnya.Dengan transformasi digital yang dilakukan Bank NTT mampu berdiri dan bertahan di tengah kompetisi ketat industri perbankan.

Sekilas

Perlu diketahui bahwa Bank Pembangunan Daerah  Nusa  Tenggara Timur ( Bank NTT) mulai melakukan kegiatannya sebagai bank pada tanggal 17Juli 1962 berdasarkan Surat Keputusan Menteri Keuangan dan Bank Sentral No:BUM  9-13/II  tanggal 5 Februari 1962 tentang Pemberian Izin Usaha kepada PT. Bank Pembangunan Daerah Nusa Tenggara Timur, dengan kedudukan tempat usaha di Kupang Ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Pemerintah Propinsi Nusa Tenggara Timur menetapkan perubahan status hukum Bank Pembangunan Daerah Nusa Tenggara Timur dari Perseroan Terbatas menjadi Perusahaan Daerah melalui Peraturan Daerah Tingkat I Nusa Tenggara Timur No.01/pd/DPRD-GR/1963 tanggal 12 Maret 1963. Kemudian tanggal 4 Februari 1998, Perseroan kembali merubah bentuk badan hukum dari Perusahaan Daerah kembali menjadi Perseroan Terbatas, dan  dibuat Akta Pendirian  Perseroan Terbatas Bank Pembangunan Daerah Nusa Tenggara Timur No.122 tanggal 22 April 1999.

Pada tahun 1999, Perseroan menjadi salah satu Bank Pembangunan Daerah yang masuk Program Rekapitalisasi Bank Pembangunan Daerah karena mempunyai Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) lebih kecil dari 8% (delapan persen). Dalam rangka pelaksanaan hak opsi (call option), tanggal 18 Desember 2003, dilaksanakan Perjanjian Jual Beli Seluruh Saham Negara dan Pelunasan Obligasi Negara Pada PT. Bank Pembangunan Daerah Nusa Tenggara Timur tanggal 30 Juni 2004, Negara Republik Indonesia c.q. Pemerintah Republik Indonesia mengalihkan 46.600 (empat puluh enam ribu enam ratus) saham miliknya dalam Perseroan kepada Pemerintah Propinsi Nusa Tenggara Timur.

Berdasarkan Akta No.73  tanggal, 15 November 2010, Modal Dasar Perseroan mengalami peningkatan dari Rp.500.000.000.000,- (lima ratus miliyar) menjadi Rp.1.000.000.000.000 (1triliun). Sejalan dengan perubahan Modal Dasar, Anggaran Dasar Perseroan juga mengalami perubahan, berdasarkan Pernyataan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa No.43 tanggal, 18 Mei 2011.

Dari perubahan badan hukum dan perubahan modal dasar perseroan Bank NTT sebagaimana disampaikan di atas, modal disetor BankNTT (posisi 28 Desember 2012) telah mencapai Rp.578.230.470.000,- (limaratus  tujuh  puluh delapan milyar dua ratus tiga puluh juta empat ratus tujuh puluh ribu rupiah).  Upaya manajemen Bank NTT dalam mengembangkan usaha bank ini mendapatkan dukungan pemegang saham yaitu Pemerintah Provinsi, Kota/Kabupaten se – NTT yang secara konsisten melakukan tambahan setoran  modal dan menempatkan dana – dana Pemerintah Daerah di Bank NTT. Sejak tahun 2002 pertumbuhan usaha Bank NTT terus menunjukkan perkembangan yang sangat significant, selain didukung dengan pemberlakuan UU No.32 Tahun 2002 tentang Otonomi Daerah dan dukungan pemegang saham, juga karena manajemen Bank NTT terus melakukan perubahan – perubahan dalam pengelolaan operasional, antara lain; secara sistematis melakukan pelatihan terhadap karyawan/ti pada seluruh jenjang organisasi bank, menerapkan teknologi system informasi secara real-time online pada seluruh kegiatan operasional bank, menyempurnakan system dan prosedur operasional, dan  penerapan metode – metode operasional bank yang didasarkan pada prudential banking principles.

Saat  ini, Bank NTT terus menunjukkan kinerja gemilang dalam industri perbankan di Indonesia. Selama tahun 2013, Perseroan mencatat berbagai pencapaian penting baik dalam aspek bisnis maupun operasional. Pada bulan Juli 2011, Perseroan menerbitkan obligasi sebesar Rp500 miliar dengan suku bunga tetap yang akan digunakan untuk pendanaan jangka panjang dalam rangka ekspansi Perseroan.

Selanjutnya, BankNTT juga berhasil memperoleh predikat Bank Terbaik kategori aset dibawah Rp10triliun dari Majalah Investor dan InfoBank. Selain peningkatan kinerja, Bank NTT juga menjalin kerjasama dengan berbagai pihak guna meningkatkan layanan Perseroan kepada nasabah. Kerjasama yang diadakan oleh Bank NTT antara lain adalah kerjasama APEX Bank  menuju Regional Champion dan kerjasama Bank NTT & Jamsostek untuk Bina Pelayanan Publik, kerjasama dengan Kementerian Perumahan Rakyat Republik Indonesia tentang Penyaluran Dana Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP), Perjanjian Jasa Pelayanan Perbankan Sebagai Bank Persepsi/Devisa Persepsi Dalam Rangka Pelaksanaan Treasury Single Account (TSA). ♦ wjr

  • Bagikan