Lockdownnya Para Rubiah (Biarawati Pertapa) dan Masyarakat Umumnya

  • Bagikan

Oleh : Sr. Lusia, OCD Bajawa

  • Mengapa kita semua harus lockdown?

Bertolak dari satu-dua pertanyaan reflektif, memacu dan mendorong saya untuk mengabadikannya dalam tulisan sederhana ini. Situasi dunia seantero dan Indonesia khususnya saat ini, sedang dilanda wabah Covid-19… Sungguh sangat menggemparkan dan mencemaskan hati setiap anak manusia diatas muka bumi ini. Diawal Februari 2020…berita  pun datang silih berganti… Wuhan salah satu kota di Cina menjadi topik pembicaraan hangat Virus baru yang mematikan. Corona datang tanpa prosedur yang wajar layaknya penduduk baru dengan visa dan passport. Sungguh menakutkan…!!! Apa daya tangan tak sampai, usaha para medis pun seakan gagal, telah ribuan nyawa yang menjadi korban ganas Covid-19. Jasad seorang anak manusia seakan tak berharga lagi di mata sesama, tak peduli memendam rasa perih, memilukan hati. Sejenak aku pun merenung…merenung… dan bertanya diri… MENGAPA?? Apakah wabah Covid-19 ini karena ulah dan kepintaran manusia…ataukah kutukan dari Tuhan atas merajalelanya dosa manusia? Jawabannya…butuh introspeksi diri yang terus menerus. Namun dilain pihak, bersama nabi Ayub, kita diteguhkan. “ Apakah kita hanya mau menerima yang baik saja dari Allah, tetapi tidak  mau menerima yang buruk? ” (bdk Ayb 2:10)

Covid-19 ini muncul pada pertengahan Desember 2019 lalu dan merambat drastis tanpa kompromi ke seluruh dunia dan akhirnya sampai juga ke Negeriku tercinta ini (INDONESIA) tanah airku. Aktifitas pun dibatasi malah ditiadakan atas amanat protokoler. Pihak pemerintah pun berupaya untuk mengantisipasi masyarakat agar bisa tercegahnya Covid-19 dengan cara lockdown! Stay at home!

  • Apa dampaknya?

Lalu apa dampaknya menghadapi situasi yang demikian? Dan bagaimana perasaan setiap kita ketika disuruh lockdown? Apakah merasa senang…? Bahagia…? Kerasan di rumah? Sungguh suatu perjuangan batin antara senang dan tersiksa bagi masyarakat umumnya. Wabah Covid-19 ini seakan memisahkan kita antara satu dengan yang lain, malah dianggap musuh dalam tanda kutip takut terjangkit oleh penyakit yang mematikan ini. Namun hemat saya sesungguhnya bukanlah demikian “ MEMISAHKAN sekaligus MEMPERSATUKAN ”.

Dalam dunia bisnis kita berpisah, namun dunia hati dalam keluarga batih mempererat cinta persaudaraan. Banyak waktu kita selalu bersama entah dalam doa, makan, saling berbagi suka dan duka… semuanya berjalan bersama seisi rumah. Rumah kita bukan lagi rumah fisik yang kelihatan tetapi rumah HATI penuh kepedulian. Wabah Covid-19 yang telah mendunia ini menyadarkan setiap anak manusia untuk bergaul akrab dengan Tuhan penciptanya yang kita tahu sangat mencintai kita. Hendaklah jangan melekatkan hati kepada barang-barang dunia ini, tetapi bergaullah setiap saat dengan Tuhan yang adalah Sumber Pemberi Segalanya.

Lockdown Para Rubiah ( Biarawati Pertapa )

Bagi masyarakat luas yang penuh dengan hingar bingar, hidup Para Rubiah yang tertutup seumur hidup dengan ruang gerak yang terbatas, kadang menjadi bahan tertawaan dan olokkan. “ Kok masih ada manusia abnormal seperti itu? Kok bisa…”? Demikian satu-dua pertanyaan reflektif. Padahal manusia itu diciptakan Tuhan sebagai makhluk social yang dapat bergaul dengan siapa saja dan bebas kemana saja. Ungkapan diatas sangatlah masuk akal, tetapi manusia rohani tidaklah demikian. Panggilan apa saja entah itu hidup berkeluarga atau hidup membiara sudah direncanakan Allah sejak dalam kandungan ibu (bdk Yer 1:4-5)… “Sebelum Aku membentuk engkau dalam Rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau. Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa…” Hidup tertutup bagi para rubiah itu adalah sebuah panggilan . Panggilan berasal dari Allah, manusia menjawabi panggilan Allah itu lewat berbagai cara. Bagaimana manusia menjawabi panggilan Allah itu tergantung dari keterbukaan hati kita lewat setiap peristiwa iman atau pengalaman nyata dalam kebersamaan  maupun dalam kesendirian. Lockdownnya para rubiah ini mengandung kebebasan hati…tidak terpaksa juga tidak dipaksa oleh siapa pun. Hati yang bebas mencintai dan dicintai oleh Allah dalam keheningan dan kesendirian. Apapun yang kita lakukan, lakukanlah semuanya untuk kemuliaan Allah.

“OH KESUNYIAN YANG MEMBAHAGIAKAN”. Demikianlah motto hidup Para Rubiah umumnya. Bersama Allah didalam kesunyian, sungguh menggembirakan hati dan membahagiakan.

 

Karmel, Juni 2021

  • Bagikan