SMPK Frateran Ndao Menyongsong Kurikulum Prototipe Dalam Sebuah Workshop

Oleh: Fr. M. Yohanes Berchmans, bhk, M. Pd

Ka SMPK Frateran Ndao

 

 

Segala sesuatu dibawah kolong langit senantiasa berubah, kecuali perubahan itu sendiri… Heraclitos

 

Satuan pendidikan SMPK Frateran Ndao, selama 2 (dua) hari, dari tanggal 20 dan 21 Januari 2022 melaksanakan workshop kurikulum prototipe atau kurikulum paradigma baru. Hal ini kami lakukan mengingat mulai tahun 2022 hingga 2024, Kemente­rian Pendidikan, Kebudaya­an, Riset dan Teknologi (Ke­mendikbudristek) membe­rikan tiga opsi kurikulum yang dapat diterapkan di satuan pendidikan dalam pembela­jaran, yaitu Kurikulum 2013, Kurikulum Darurat (kurtilas yang disederhanakan), dan Ku­rikulum Prototipe. Kurikulum prototipe atau paradigma baru menjadi salah satu tambahan opsi, untuk pemulihan atas kehilangan pembelajaran (learning loss) akibat pandemi covid 19. Kurikulum prototipe sejauh ini telah diuji cobakan di 2.500 satuan pendidikan penggerak. Dari uji coba tersebut akan dievaluasi. Dan konon dtahun 2024 akan dilaksanakan di semua satuan pendidikan, baik sekolah penggerak maupun yang bukan sekolah penggerak, namun sifatnya tidak memaksa. Artinya secara sukrela, tergantung kesiapan infrastruktur termasuk SDM (Kepala Sekolah, pendidik dan tenaga kependikan, termasuk peserta didik). Untuk itu bagi sekolah yang sudah ditetapkan menjadi sekolah penggerak oleh direktur jenderal pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, dan menengah dan salah satunya adalah SMPK Frateran Ndao, akan melaksanakan pelatihan bagi kepala sekolah dan para pendidik. Dengan pelatihan tersebut, diharapkan dapat lebih memahami esensi atau substansi atau roh atau spirit dari kurikulum prototipe tersebut. Dan sambil menunggu pelatihan dari pemerintah, maka kami selaku kepala SMPK Frateran Ndao berusaha secara mandiri merasa perlu melakukan workshop kurikulum prototipe atau paradigma baru, bekerjasama dengan PT. Penerbit Erlangga cabang Ende menghadirkan narasumber yang berkompeten bapak Dr. Sudayat, M. Pd, seorang pakar pengembangan kurikulum. Workshop selama dua hari, memang terasa tidak cukup untuk memahami kurikulum prototipe, namun demikian workshop selama hari sebagai starting point dalam menyonsong kurikulum prototipe. Kurikulum Prototipe memang merupakan kurikulum yang disederhanakan, namun tidak sesederhanakan yang dipikirkan, karena menuntut kreativitas guru dalam berpikir dan bertindak.

Beberapa Karakteristik kurikulum prototipe yakni: pertama, kegiatan pembelajaran dirancang berbasis projek atau PBL (Project Based Learning), yang bertujuan untuk mengembangkan soft skills serta karakter. Kedua, berfokus pada materi yang esensial. Ketiga, fleksibilitas untuk guru dalam melakukan penyesuaian dengan konteks dan muatan lokal serta melaksanakan pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan murid atau teach at the right level.

Lalu 7 (tujuh) hal baru yang ada dalam Kurikulum Paradigma Baru.

Pertama,

Struktur Kurikulum, Profil Pelajar Pancasila (PPP) menjadi acuan dalam pengembangan Standar Isi, Standar Proses, dan Standar Penilaian. Secara umum Struktur Kurikulum prototipe atau Paradigma Baru terdiri dari kegiatan intrakurikuler berupa pembelajaran tatap muka bersama guru dan kegiatan proyek.

Kedua,

Hal yang menarik dari Kurikulum Prototipe atau Paradigma Baru yaitu jika pada KTSP 2013 kita mengenal istilah KI dan KD yaitu kompetensi yang harus dicapai oleh peserta didik setelah melalui proses pembelajaran, maka pada Kurikulum prototipe atau Paradigma Baru kita akan berkenalan dengan istilah baru yaitu Capaian Pembelajaran (CP) yang merupakan rangkaian pengetahuan, keterampilan, dan sikap sebagai satu kesatuan proses yang berkelanjutan sehingga membangun kompetensi yang utuh. Capaian pembelajaran adalah kompetensi yang diharapkan daapat dicapai oleh peserta didik diakhir fase. Capaian pembelajaran terdiri dari elemen dan materi, dalama hal ini adalah materi esensial. Oleh karena itu, dalam kurikulum prototipe hanya mengenal aspek pengetahuan, sedangkan aspek keterampilan dan aspek sikap tidak secara gamblang dipaparkan. Untuk itu, dituntutkompetensi setiap guru untuk menentukan atau menangkap pesan yang tersirat dalam capaian pembelajaran yang dibuat secara paragrat. Capaian pembelajaran disiapkan oleh pemerintah, dan tugas guru disetiap satuan pendidikan adalah memetakan materi enensial. Dan untuk memudahkan para guru, maka perlu melihat kembali KD setiap mapel. Capaian Pembelajaran (CP) harus sesuai kriteria penilaian yang bermanfaat untuk menilai apakah hasil belajar sesuai harapan, telah tercapai? Hasil belajar dapat terukur melalui proses penilaian yang mencakup literasi dan numerasi. Oleh karena itu, para guru harus bisa merancang soal setara AKM. Dengan demikian, setiap asesmen pembelajaran yang akan dikembangkan oleh guru haruslah mengacu pada capaian pembelajaran yang telah ditetapkan.

Ketiga,

Pelaksanaan proses pembelajaran dengan pendekatan tematik yang selama ini hanya dilakukan pada jenjang SD saja, pada kurikulum baru diperbolehkan untuk dilakukan pada jenjang pendidikan lainnya.

Keempat,

Jika dilihat dari jumlah jam pelajaran, Kurikulum prototipe atau Paradigma Baru tidak menetapkan jumlah jam pelajaran per minggu seperti yang selama ini berlaku pada K-2013, akan tetapi jumlah jam pelajaran pada Kurikulum prototipe atau Paradigma Baru ditetapkan pertahun.

Kelima,

Sekolah juga diberikan keleluasaan untuk menerapakan model pembelajaran kolaboratif antar mata pelajaran serta membuat asesmen lintas mata pelajaran, berupa asesmen sumatif dalam bentuk proyek atau penilaian berbasis proyek. Untuk itu, perlu kolaborasi antar guru mata pelajaran. Dan untuk mempermudah para guru antar mapel melihat keterkaitan materi, maka perlu secara bersama melihat KD, jika CP masih sulit karena masih baru. Disinilah letak kesulitannya untuk menentukan proyek bersama. Dan proyek ini tidak berada diluar kelas tetapi berada di dalam kelas. Pada Kurikulum prototipe atau Paradigma Baru, peserta didik SD paling sedikit dapat melakukan dua kali penilaian proyek dalam satu tahun pelajaran. Sedangkan peserta didik SMP, SMA/SMK setidaknya dapat melaksanakan tiga kali penilaian proyek dalam satu tahun pelajaran. Hal ini bertujuan sebagai penguatan Profil Pelajar Pancasila.

Keenam,

Untuk mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang pada K- 2013 dihilangkan, maka pada Kurikulum prototipe atau Paradigma Baru mata pelajaran ini akan dikembalikan dengan nama baru yaitu Informatika dan akan diajarkan mulai dari jenjang SMP.

Ketujuh,

Untuk mata pelajaran IPA dan IPS pada jenjang Sekolah Dasar Kelas IV, V, dan VI yang selama ini berdiri sendiri, dalam Kurikulum Paradigma Baru kedua mata pelajaran ini akan diajarkan secara bersamaan dengan nama Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam Sosial (IPAS). Hal ini bertujuan agar peserta didik lebih siap dalam mengikuti pembelajaran IPA dan IPS yang terpisah pada jenjang SMP.

Sedangkan pada jenjang SMA peminatan atau penjurusan IPA, IPS, dan Bahasa akan kembali dilaksanakan pada kelas XI dan XII. Peserta didik jurusan IPA: fisika, Biologi dan Kimia adalah mata pelajaran wajib. Demikianpun peserta didik IPS : ekonomi, sosiologi dan sosiologi adalah wajib. Juga jurusan bahasa: bahasa dan sastra, inggris, antropologi, bahasa asing, wajib. Dan di kurikulum prototipe peserta didik jurusan IPA, selain mata pelajaran wajib juga bisa memilih salah satu dari mapel dari jurusan IPS dan Bahasa. Demikian juga dengan peserta didik jurusan IPS selain mapel wajib, juga bisa memilih salah satu mapel dari jurusan IPA dan Bahasa. Pun juga peserta didik jurusan bahasa selain mapel wajib, juga bisa memilih salah satu mapel jurusanIPA dan IPS.

Demikianlah faktanya bahwa akan ada opsi tambahan terhadap kurikulum, yakni kurikulum prototipe atau paradigma baru yang meru­pakan kurikulum berbasis kompetensi untuk mendukung pemulihan pembelajaran dengan menerapkan pem­belajaran berbasis proyek (Project Based Learning). Setiap satuan pendidikan pastilah bingung, sebab K-13, darurat belum begitu paham secara mendalam, tiba-tiba muncul wacara kurikulum prototipe. Namun demikian, pen­didik maupun peserta didik harus mampu beradap­tasi dengan perubahan demi perubahan dan mengejar keter­tinggalan dalam pembelaja­ran. “Seperti kata Charles Darwin, bukan yang terkuat yang menang, bukan yang terbesar yang bertahan, te­tapi yang mampu beradap­tasilah yang akan mampu bertahan”. Oleh karena itu, jangan pernah takut untuk MAJU dan BERUBAH, namun takutlah kalau tidak mau BERUBAH dan mau MAJU.

Akhirnya ada sebuah pepatah Ubuntu Afrika, yang berbunyi demikian “jika anda ingin berjalan lebih cepat, berjalanlah sendirian; namun jika anda ingin berjalan lebih jauh, berjalanlah bersama orang lain”. (*)