Gubernur: Saya Diperintah Tuhan Datang Ke NTT

♦ Berdamai dengan Tokoh Adat Sumba Timur, Gubernur NTT Minta Maaf

EXPONTT.COM – Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Viktor Bungtilu Laiskodat, meminta maaf kepada tokoh adat Sumba Timur Umbu Maramba Hau, karena keduanya sempat berdebat beberapa waktu lalu.

Permintaan maaf itu disampaikan Viktor saat menghadiri acara musyawarah keluarga secara adat masyarakat Sumba Timur di Kampung Lambanapu, Kecamatan Kambera, Kabupaten Sumba Timur, Sabtu 12 Februari 2022.

“Saya minta maaf dan biarkan itu menjadi kenangan untuk kita lebih maju membangun daerah ini,” ujar Viktor dalam keterangan resminya yang diterima Kompas.com, Minggu 13 Februari 2022.

Viktor pun mengajak masyarakat Sumba Timur untuk bergandengan tangan membangun Sumba Timur, agar keluar dari kemiskinan. “Saya akan terus mendorong pemimpin dan masyarakat Sumba Timur untuk berpikir maju demi kemajuan,” kata Viktor.

Sebagai pemimpin, Viktor menyatakan akan tetap fokus pada agenda pembangunan di Sumba Timur.

“Saya selalu berbeda dengan siapa pun yang menghambat pembangunan di NTT,” tegasnya.

Viktor memberikan apresiasi dan penghormatan kepada para sesepuh Sumba Timur yang terlibat langsung dalam acara berbudaya itu, seperti mantan Bupati Sumba Timur Lukas Kaborang dan sejumlah tokoh adat lainnya.

Termasuk juga, kata Viktor, mantan Ketua DPRD Kabupaten Sumba Timur Palulu Pabundu Ndima. Khusus untuk Palulu Pabundu Ndima kata Viktor, ia mengapresiasi karena telah berkontribusi terhadap legalitas aset Pemerintah Provinsi NTT di Kabupaten Sumba Timur.

Bupati Sumba Timur Khristofel Praing, mengatakan, perdamaian dengan etikat baik antara Viktor dan Umbu Maramba Hau, menunjukkan kemajuan sebuah peradaban. “Kedamaian itu tidak perlu dipertentangkan dan kedamaian itu sebuah kebenaran serta kedamaian hari ini, kita wujudkan dalam pendekatan budaya,” kata Khristofel.

Dia menyebut, setelah 27 November 2021 terjadi kemarau sosial akibat perdebatan Viktor dan Umbu di Kabaru. Dia berharap, dengan perdamaian itu semua pihak bisa fokus untuk pembangunan di wilayah itu.

Acara adat itu dilanjutkan dengan penandatanganan berita acara perdamaian antara Pemerintah Provinsi NTT dan pihak Umbu Maramba Hau. Dalam berita acara tersebut tertera jelas, pada 27 November 2021 telah terjadi salah paham antara Pemprov NTT dengan pihak Umbu Maramba Hau dari aspek sosial budaya akibat perbedaan pendapat.

Salah paham itu, karena adanya rencana Pemprov NTT untuk optimalisasi lahan peternakan Kabaru (Kompleks Fokstation Kuda Kabaru). Lahan peternakan Kabaru tersebut, tercatat dalam aset Pemprov NTT.

Akibat salah paham tersebut, Pemprov NTT dan Umbu berdamai dan saling memaafkan, melalui mekanisme musyawarah keluarga secara budaya/adat masyarakat Sumba Timur.

Selain itu, kedua belah pihak juga menyatakan tidak saling mengajukan tuntutan hukum satu sama lain, baik tuntutan hukum pidana maupun gugatan perdata.

Dengan ditandatanganinya berita acara itu, maka lahan lokasi Kompleks Fokstation Kuda Kabaru, Desa Kabaru, Kecamatan Rindi, Kabupaten Sumba Timur yang dipermasalahkan sebelumnya, dianggap selesai. Kini Pemprov NTT beserta jajarannya dapat beraktivitas untuk mempersiapkan kegiatan yang telah direncanakan sebelumnya.

Sebelumnya, Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Viktor Bungtilu Laiskodat menanggapi perdebatan antara dirinya dan sejumlah warga di Desa Kabaru, Kecamatan Rindi Umalulu, Sumba Timur, beberapa waktu lalu.

Video perdebatan itu viral di media sosial. Dalam video itu terlihat sejumlah warga pergi meninggalkan rombongan gubernur saat membahas lahan yang akan dibangun peternakan sapi. Terekam perdebatan panas antara Viktor dengan tokoh masyarakat Desa Kabaru bernama Umbu Maramba Hawu.

Dalam video tersebut, Viktor menjelaskan lahan yang menjadi perdebatan adalah aset Pemprov NTT untuk membangun peternakan sapi. Politikus Nasdem itu meminta masyarakat tidak mempersoalkan status tanah tersebut.

Ia memperingatkan warga agar berhati-hati jika berhadapan dengan pemerintah. Bahkan terdengar Viktor mengancam akan memukul dan memenjarakan warga yang melawan. Pernyataan Viktor itu kemudian ditanggapi tokoh adat, Umbu Maramba Hawu.

Ia mempertanyakan pihak yang menyerahkan tanah tersebut ke Pemprov NTT. Umbu meminta bukti penyerahan tanah ulayat dan tak gentar dengan ancaman Viktor. Viktor mengaku tak ambil pusing dengan video yang viral tersebut.

Viktor menjelaskan, keberadaan lahan tersebut awalnya disampaikan almarhum mantan Bupati Sumba Timur Umbu Mehang Kunda yang saat itu menjabat sebagai anggota DPR RI.

Menurut Viktor, Umbu Mehang Kunda merupakan satu-satunya orang NTT yang menduduki jabatan ketua komisi di DPR RI saat itu.

“Dia menjelaskan ke saya bahwa daerah ini bagus, peternakannya bagus, tapi tidak ada yang kerja, tidak ada yang bantu. Maka dari itu beliau minta saya untuk urus waktu itu, sehingga ketika menjadi gubernur saya teringat,” kata Viktor saat diwawancarai Kompas.com di rumah jabatan Gubernur NTT, Kamis 2 Desember 2021.

Viktor mengaku emosinya terpancing ketika ada warga yang terlibat perdebatan menyebut almarhum Umbu Mehang Kunda tak ada urusan dengan lahan tersebut. Amarah Viktor tersulut karena pernyataan warga itu dinilai menghina senior yang sangat dihormatinya itu.

Saya marah dia karena dia menghina senior, seorang Umbu, yang saya kenal hidupnya diabadikan untuk Pulau Sumba. Itulah cinta almarhum Umbu Mehang Kunda untuk Sumba, dan waktu itu dia minta saya untuk terlibat,” jelas Viktor.

“Saat saya menjadi gubernur dan teringat akan omongan beliau, itulah saya gembira dan saya mau bangun daerah itu,” ucap Viktor.
Menurutnya, untuk mencapai kesejahteraan masyarakat tak bisa mengandalkan APBD saja. Namun juga memanfaatkan seluruh aset agar perekonomian lebih baik, termasuk pengelolaan lahan untuk pembangunan peternakan sapi tersebut.

“Saya tidak tertarik dengan video atau segala macam itu. Persoalan kita adalah jika investasi kita di NTT tidak berjalan, maka untuk mengejar kesejahteraan tidak hanya mengandalkan APBD semata. Sehingga aset-aset yang ada harus dimanfaatkan,” ujar Viktor.

Viktor menyebutkan, tidak ada satu daerah pun yang berhasil dengan investasi rendah, apalagi dengan situasi covid-19 seperti ini.

Ratusan tokoh adat dan tokoh masyarakat di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT), menggelar pertemuan menanggapi perdebatan antara Gubernur NTT Viktor Laiskodat dengan tokoh adat Sumba Timur Umbu Maramba Hawu.

“Pertemuan para tokoh sedaratan Pulau Sumba ini berlangsung di Kampung Raja Prailiu, Waingapu, Sumba Timur, Selasa 6 Desember 2021,” kata keponakan kandung Umbu Maramba Hawu, Umbu Palanggarimu, saat dihubungi Kompas.com, melalui sambungan telepon, Kamis 9 Desember 2021 siang.

Umbu Palanggarimu menyebut, pertemuan itu dihadiri sekitar 120 orang.

“Saat ini kami belum bisa menanggapi kelanjutan persoalan ini. Yang jelas, akan kami sampaikan rangkuman hasil pertemuan dari dua wilayah serta keluarga besar,” ujar Umbu Palanggarimu.

Menurut Umbu Palanggarimu, sejumlah tokoh dan perwakilan dari beberapa wilayah dalam pertemuan itu tak senang dengan sejumlah kata-kata yang dilontarkan Gubernur NTT.

“Yang jelas, ketika kita dicubit pasti akan sakit. Itu yang dirasakan seluruh keluarga besar,” katanya.

Umbu Palanggarimu menambahkan, dalam pertemuan itu disampaikan juga tak ada jalan buntu dalam memperbaiki masalah ini. Sehingga, tim khusus dibentuk mencari jalan terbaik.

“Untuk membicarakan hal ini, kalau dibawa dalam adat, bagaimana caranya dan tahapannya, itu yang akan digodok oleh tim kecil ini. Tapi ini baru rencana. Kita belum tahu hasil pertemuan keluarga dari Rindi-Mangili,” ujar Umbu Palanggarimu.

Sebelumnya, Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Viktor Bungtilu Laiskodat menanggapi perdebatan antara dirinya dan sejumlah warga di DesaKabaru, Kecamatan Rindi Umalulu, Sumba Timur, beberapa waktu lalu.

Video perdebatan itu viral di media sosial. Dalam video itu terlihat sejumlah warga pergi meninggalkan rombongan gubernur saat membahas lahan yang akan dibangun peternakan sapi.

Terekam perdebatan panas antara Viktor dengan tokoh masyarakat Desa Kabaru bernama Umbu Maramba Hawu.

Dalam video tersebut, Viktor menjelaskan lahan yang menjadi perdebatan adalah aset Pemprov NTT untuk membangun peternakan sapi. Politisi Nasdem itu meminta masyarakat tidak mempersoalkan status tanah tersebut.

Ia memperingatkan warga agar berhati-hati jika berhadapan dengan pemerintah. Bahkan terdengar Viktor mengancam akan memukul dan memenjarakan warga yang melawan.

Pernyataan Viktor itu kemudian ditanggapi tokoh adat, Umbu Maramba Hawu. Ia mempertanyakan pihak yang menyerahkan tanah tersebut ke Pemprov NTT. Ia meminta bukti penyerahan tanah ulayat dan tak gentar dengan ancaman Viktor.

Viktor mengaku tak ambil pusing dengan video yang viral tersebut. Viktor menjelaskan, keberadaan lahan tersebut awalnya disampaikan almarhum mantan Bupati Sumba Timur Umbu Mehang Kunda yang saat itu menjabat sebagai anggota DPR RI.

Menurut Viktor, Umbu Mehang Kunda merupakan satu-satunya orang NTT yang menduduki jabatan ketua komisi di DPR RI saat itu.

“Dia menjelaskan ke saya bahwa daerah ini bagus, peternakannya bagus, tapi tidak ada yang kerja, tidak ada yang bantu. Maka dari itu beliau minta saya untuk urus waktu itu, sehingga ketika menjadi gubernur saya teringat,” kata Viktor saat diwawancarai Kompas.com di rumah jabatan Gubernur NTT, Kamis 2 Desember 2021.

Viktor mengaku emosinya terpancing ketika ada warga yang terlibat perdebatan menyebut almarhum Umbu Mehang Kunda tak ada urusan dengan lahan tersebut. Amarah Viktor tersulut karena pernyataan warga itu dinilai menghina senior yang sangat dihormatinya itu.

“Saya marah dia karena dia menghina senior, seorang Umbu, yang saya kenal hidupnya diabadikan untuk Pulau Sumba. Itulah cinta almarhum Umbu Mehang Kunda untuk Sumba, dan waktu itu dia minta saya untuk terlibat,” jelas Viktor.

“Saat saya menjadi gubernur dan teringat akan omongan beliau, itulah saya gembira dan saya mau bangun daerah itu,” ucap Viktor.

Menurutnya, untuk mencapai kesejahteraan masyarakat tak bisa mengandalkan APBD saja. Namun juga memanfaatkan seluruh aset agar perekonomian lebih baik, termasuk pengelolaan lahan untuk pembangunan peternakan sapi tersebut.

“Saya tidak tertarik dengan video atau segala macam itu. Persoalan kita adalah jika investasi kita di NTT tidak berjalan, maka untuk mengejar kesejahteraan tidak hanya mengandalkan APBD semata. Sehingga aset-aset yang ada harus dimanfaatkan,” ujar Viktor.

Viktor menyebutkan, tidak ada satu daerah pun yang berhasil dengan investasi rendah, apalagi dengan situasi Covid-19 seperti ini. ♦ kompas.com