Revolusi Pertanian Di NTT Di Janjikan Gubernur Rp 100 M 2021

Varian Baru Delta di NTT
Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat

EXPONTT.COM – Ditulis mediaindonesia.com, petani berada di area persawahan Lodok berbentuk jaring laba-baba di Cancar, Ruteng, Manggarai Tengah, Nusa Tenggara Timur. Persawahan Lodok  PROVINSI Nusa Tenggara Timur merupakan salah satu wilayah perbatasan yang memiliki pertumbuhan ekonomi yang rendah, termasuk sektor pertanian.

Guna mempercepat proses pembangunan pertanian diperlukan pendekatan yang ter integrasi dan komprehensif, meliputi aspek teknis biofisik dan teknologi, ekonomi, dan sosial budaya.

Dengan luas lahan pertanian di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang mencapai 225.000 hektare, Pemerintah Provinsi NTT bertekad mengejar ketertinggalan di sektor pertanian dan peternakan.

Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat memimpin langsung dalam menggenjot NTT menjadi wilayah yang mandiri dalam produktivitas sektor pertanian pada 2021, salah satunya harus mampu menghasilkan benih sendiri.

“Provinsi NTT sejauh ini belum mampu menyiapkan benihnya sendiri, karena itu saya dorong Dinas Pertanian Kabupaten maupun Provinsi NTT agar pada tahun depan NTT sudah bisa menjadi salah satu provinsi yang menyiapkan benih sendiri. Ini harus bisa dipenuhi, tidak bisa ditawar,” tegas Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat.

Lebih lanjut Viktor juga meminta dinas pertanian maupun para petani agar bekerja sungguh-sungguh karena tahun depan akan siapkan anggaran pertanian yang sangat besar. “Kita siapkan Rp100 miliar untuk pertanian di Tahun 2021 mendatang. Karena itu mulai sekarang sudah harus memikirkan mempersiapkan lahan kosong untuk diberdayakan tahun depan,” tegasnya.

Gerakan kemandirian di sektor petanian tidak boleh dilakukan dengan cara lama, karena hasilnya tidak maksimal. Pembangunan harus dibarengi dengan inovasi dan kreativitas mengelola sumber daya yang ada, dan peningkatan sumber daya manusia.

Perubahan revolusioner di pertanian itu sendiri difokuskan pada pengembangan pertanian lahan kering dengan komoditas padi, jagung, kedelai, kacang tanah, dan ubi jalar, serta peternakan untuk membangun kemandirian pangan. Apalagi NTT dikenal sebagai salah satu provinsi penghasil jagung terbesar di Indoesia.

Sementara itu, integrasi dan sinergi sektor petanian dan peternakan terus dikembangkan, salah satunya dicanangkannya program Tanam Jagung Panen Sapi (TJPS).

Dengan menanam jagung, ketersediaan pakan sapi yang berkualitas bisa terjamin. Peternak pun dapat menghasilkan sapi-sapi potong dengan kualitas dagingnya yang bagus. Dengan begitu, harga meningkat dan ekonomi masyarakat terangkat.

Seperti lahan yang berada di Desa Umbul Pabal, Kecamatan Umbu Rato Nggai Barat, Sumba Tengah, lahan 2.000 hektare nantinya akan ditanami budi daya jagung yang bersebelahan dengan area peternakan sapi.

Dengan begitu produktivitas keduanya dalam meningkat. Pengelolaan lahan pertanian, perkebunan, dan peternakan secara terintegrasi itu merupakan bagian dari program membangun lumbung pangan alias food estate. Tidak hanya menambah kapasitas produksi pangan, tapi juga untuk mendukung ketahanan pangan nasional. ♦ wjr