SK Lerik: Kedepan Cukup Lima Tahun, “JRK Dua Periode?”

EXPONTT.COM – Dikisahkan peta politik 2001 sampai SK Lerik Almarhun menjadi Walikota Kupang pertama 6 Juli 2002 sampai 5 Juli 2007. Kisah yang dilontar dari mulut Almarhum ternyata menjadi fakta.

Terlontar bahwa setelah dirinya tidak jadi walikota bahwa yang menjadi walikota Kupang ke depan cukup lima tahun dan harus diganti dari berbagai suku, etnis dan agama.

Mengapa kata Almarhum di suatu siang 2009. Dalam perjalanan waktu,penggantinya Daniel Adoe yang sebelumnya sebagai wakil walikota, hanya lima tahun, halnya Jonas Salean pun hanya lima tahun.

Kini Jefri Riwu Kore akan mengakhiri masa jabatan lima tahun pimpin kota Kupang pda 22 Agustus 2022. Pernyataan, apakah Jefri Riwu Kore (JRK) akan menjadi Walikota Kupang dua periode? Hanya waktu yang akan Tuhan tentukan.

Mantan Walikota Kupang, Semuel Kristian Lerik, meninggal dunia pada Selasa 17 Agustus 2010, meninggal dunia di Malang, Jawa Timur. Sejarah pembangunan di Kota Kupang tak bisa begitu saja terlepas dari peran SK Lerik.

Dia mengisi roda pemerintahan di kota ini sejak menjadi kota administratif, kota madya hingga 2007. Dirilis dari victorynes.com masa jabatan Wali Kota Kupang Jefri Riwu Kore, segera berakhir 22 Agustus mendatang. Seluruh yang telah dan belum dilakukan Jefri selama memimpi Kota Kupang akan menjadi penilaian dan evaluasi masyarakat.

Akademisi Fisip Universitas Nusa Cendana Kupang, Lazarus Jehamat menilai sukses dan tidaknya Jefri Riwu Kore perlu dilihat secara obyektif dari segala sektor pencapaian.

Memang tugas seorang wali kota lebih kompleks dari sekedar penataan fisik kota.Untuk sisi penataan memang Jefri Riwu Kore cukup mampu tapi dari berbagai segi lainnya, kata dia, kerjanya perlu diperiksa lagi.

“Soal penataan kota bisa disebut ‘ok’ hanya dalam konteks yang lain masih harus diperiksa menurut saya,” kata dia dalam pesan tertulisnya, Minggu 27 Maret 2022.

Bila Jefri bertarung lagi pada Pilwalkot 2024 maka bisa berhadapan dengan Jonas Salean yang jelas dijagokan Golkar.

Jonas sendiri adalah Wali Kota Kupang periode 2012 – 2017 yang sementara ini juga menjabat DPRD NTT.

Kedua tokoh politik ini, kata Lazarus, tidak serta merta dapat disebut wali kota yang terbaik pada masa pemerintahan masing-masing karena takaran kesuksesan terdiri dari berbagai aspek. Perlu formula penilaian yang obyektif untuk keduanya.

“Kita mesti objektif menilai kalau Jeriko termasuk yang sukses dalam memimpin warga kota. Meski demikian, terlampau naif juga kalau dibilang mereka berdua paling sukses,” tambah dia.

Yohanes Jimmy Nami yang juga akademisi di bidang serupa dengan Lazarus turut menanggapi itu dengan merujuk pada hasil survei terkait peluang Jeriko pada pilkada 2024.

Memang dari hasil itu, sebut dia, masih menempatkan Jeriko pada posisi teratas karena survei itu berlangsung saat ia masih menjabat. Menurutnya akan berbeda hasil survei itu jika dilakukan pada masa senggang antara 2022 hingga tahun pilkada di 2024 nanti.

“Ya wajar saja karena memang beliau masih menjadi menjabat wali kota Kupang, aktivitas publiknya masih melekat dengan aktivitas masyarakat,” komentarnya.

Memang, masih ada pekerjaan rumah yang ditinggalkan Jefri yang bisa dievaluasi bila dirunut janji kampanyenya. Evaluasi ini juga berpeluang menjadi bahan kritik mendatang.

Untuk itu modal Jeriko menuju 2024 memang tidak mudah, kata dia, karena sebagai petahan nantinya dia akan menjadi target evaluasi utama dari para kompetitor.

“Namun kembali lagi, dalam politik bola bundar, tergantung kemasan isu, branding cawawalkot yang kemudian dapat kembali membangun trust publik, plus dukungan parpol,” sebutnya. ♦ wjr