Karma! Anies Sulit Jadi Presiden Karena Hal Ini

EXPONTT.COM – Hasan Nasbi, Founder Cyrus Network salah satu lembaga survei, mengatakan bahwa Anies sulit dapat tiket Capres 2024.

Tidak main-main, Hasan Nasbi, bahkan berani bertaruh Alphard, karena yakin akan prediksinya. Seperti dilansir laman detik.com Kamis 23 Juni 2022.

Hasan mengatakan bahwa ada 3 faktor yang menjadi landasan prediksinya soal Anies tak akan dapat tiket Capres.

Faktor pertama adalah, tidak adanya restu atau dukungan dari Jokowi, walaupun Jokowi hadir di Formula E, itu dinilai hanya sebagai sopan santun saja. Pengaruh Jokowi dinilai masih mempunyai peranan penting dalam menentukan suara pada pemilu 2024 nanti.

Faktor kedua, adalah Politik Identitas.

Faktor ini, justru bisa membuat masyarakat tidak memilih Anies nantinya, faktor itu bisa membuat masyarakat menolak figur intoleran dan membuat Partai-partai politik, mempertimbangkan untung ruginya.

Faktor ketiga, karakteristik masyarakat Indonesia yang masih Feodal, sulit bagi Anies untuk mempertahankan kepopulerannya begitu sudah tidak menjabat sebagai Gubernur Jakarta, Oktober 2022.

Patut diketahui Cyrus Network adalah lembaga independen yang bukan kaleng-keleng.

Prediksinya yang mengunggulkan Jokowi pada pemilu 2019 lalu, ketika Quick Count atau hitung cepat setelah pemilu terbukti jitu.

Apakah prediksi kali ini akan terjadi, saya tidak akan mengomentari hal itu.

Kali ini saya lebih tertarik kepada alasan nomor dua yang diberikan oleh lembaga independen ini, yaitu bahwa Anies justru berpeluang tidak akan dipilih, bukan hanya menjadi Presiden tetapi bahkan diprediksi tidak akan dapat tiket sebagai Capres, dengan alasan itu tadi, politik identitas.

Patut diketahui bahwa politik identitaslah yang membuat Anies menang pada pilkada lalu.

Isu yang dimainkan dalam pilkada DKI Jakarta terakhir memang seputar agama, dan kelihatannya itu sudah cenderung melekat dalam diri Anies, apalagi kelompok garis keras cenderung memihak dirinya.

Cap sebagai Gubernur Intoleran tidak bisa dipisahkan lagi, sehingga sulit meraih suara, apalagi pemilih nanti bukan hanya warga DKI Jakarta, tapi seluruh Indonesia.

Anies memang populer di Jakarta, dan bagi kalangan tertentu, tapi apakah iya, bisa meraih suara di daerah lain.

Ingat, Indonesia adalah negara majemuk dengan beragam kebudayaan, tidak semua suka dengan aksi-aksi yang dilakukan kelompok intoleran.

Lagipula bagi yang memilih Anies di Jakarta, apakah belum kapok dengan hasil yang ditimbulkan akibat politik identitas pada pilkada lalu.

Beberapa waktu belakangan orang dapat melihat, memang Anies mencoba menjaga jarak dengan kelompok intoleran ini,

Anies mencoba memperihatkan diri sebagai orang yg yamg dekat dengan beragam kelompok masyarakat.

Namun kelihatannya upayanya tidak berhasil, orang sudah mencapnya sebagai sosok yang justru akan memecah belah bangsa jika menjadi Presiden.

Upaya yang dilakukan Anies dicap tidak tulus, dan hanya sebagai pemanis belaka.

Kelihatannya Anies menuai karma, jika prediksi terbukti benar, politik identitas yang membuatnya meraih kemenangan justru berbalik menjadi bumerang.

Partai-partai juga tidak bodoh, mereka tahu memilih Anies justru akan membuat mereka kalah, para elite politik pasti sudah mempertimbangkan untung ruginya.

Kecuali jika Partai yang mendukung Anies memang mau nekat tetap memainkan isu SARA dalam pemilu 2024 nanti, yang sudah terbukti gagal dalam dua Pilpres terakhir.

Kalau begitu, tinggal rakyat nanti yang memilih, apakah mereka tetap mau dipimpin oleh orang yang sudah dicap intoleran, atau tidak.

Rakyat toh juga bisa menolak untuk memilih partai yang mendukung segala bentuk intoleransi. ♦ seword.com