Apa itu due diligence dan seberapa urgen untuk sebuah keputusan Investasi

Catatan Marsel Ahang*)

Due diligence adalah kegiatan menilai, mencakup audit history keuangan yang dilakukan oleh calon investor terhadap perusahaan di mana dia hendak menanamkan modalnya. Istilah dalam Bahasa Indonesia disebut dengan sebutan “uji tuntas”. Due diligence ini urgen agar investor tidak salah bersikap ketika memutuskan untuk membeli surat berharga perusahaan yang dituju dari sekuritas sebagai pihak perantara (broker) ini juga bermakna sebagai aktifitas penilaian kemampuan calon debitur oleh analis bank atas laporan broker berdasarkan history atau riwayat catatan keuangan, legalitas usaha, rekam jejak dan aspek relevan lainnya dalam rangka menjamin pemberian pinjaman atau yang setara dengan itu dapat dikembalikan sesuai perjajian.

Aspek yang dinilai meliputi aspek keuangan, aspek legalitas usaha, reputasi calon debitur, agunan dan penjaminan lain bila diperlukan. Dalam aspek keuangan calon debitur, seorang analis akan menilai cash flow, Neraca dan Laba rugi perusahaan calon debitur, dari situ analis akan mendapatkan gambaran seberapa kemampuan repayment capacity atau kemampuan mengembalikan uang yang dipinjamkan bank. Keputusan feasible atau tidaknya sebuah investasi yag di ajukan calon debitur pada tingkat pertama datang dari rekomendasi seorang analis atau account officer. Lalau secara berjenjang akan di naikkan ke pejabat pemutus setingkat di atasnya dan seterusnya hingga keputusan akhir pada seorang pejabat sesuai wewenang limit yang di atur. Due diligence adalah sesuatu yang mandatory atau wajib sifatnya, karena dari sinilah manajemen mendapat informasi seberapa calon debitur dapat dipercaya mengembalikan dana yang dipinjamkan. Karena pada dasarnya setiap dana yang di pinjam oleh pihak kedua selalu mengandung risiko gagal bayar. Terhadap risiko ini bank mengkaji dengan berbagai teknik mitigasi. Teknik mitigasi inilah menjadi ujung dari feasiable atau layak tidaknya permohonan kredit di setujui ataukah ditolak. Jadi sangat ceroboh jika sebuah keputusan investasi tidak di dahului dengan sebuah uji tuntas atau due diligence terhadap calon debiturnya. Dikatakan ceroboh karena melakukan kelalaian yang di sengaja. Kelalian yang di sengaja ini bernilai pelanggaran hukum. Mengapa ? Karena lalai dan atau sengaja tidak melakukan sesuatu yang wajib adalah sebuah penyimpangan yang bisa berakibat kerugian uang negara, di lain sisi menguntungkan pihak lain. Mendatangkan keuntungan pihak lain dan kerugian uang negara di pihak lain akibat dari kelalaian menerpakan prinsip kehati-hatian. Hati-hati artinya sudah menempuh semua prosedur standard. Apalagi prosedur standard itu sudah terdokumentasi secara tertulis sehingga bisa diakses setiap saat sebagai rujukan dalam melakukan uji tuntas. Usaha yang dilakukan calon debitur unpredictable atau sulit terprediksi sifatnya, karena itu perlu pendekatan yang yang besifat mitigatif melalui langkah ex ante atau pencegahan terhadap faktor risiko yang lazim ada pada investasi yang akan di masuki bank. Salah satu langkah ex ante adalah melakukan due diligence atau uji tuntas ini. Di dalam due diligence ini juga akan dilakukan penilain atas faktor risiko pada investasi atau obyek usaha yang akan dibiayai. Inilah menjadi critical point seorang analis dan pejabat pemutus. Selain itu Analisa dari account officer akan dikuatkan dari sisi mitigasi risko oleh kajian risiko dari divisi manajemen risiko. Bila hasil yang diharapkan tidak sesuai dengan prediksi apa langkah kuratfi atau langkah ex post yang bisa di ambil. Ini sudah disiapkan dan disyaratkan dari semula bersama calon debitur sebelum Perjanjian Pinjam Meminjam di tanda tangani. Adalah sebuah tindakan Perbuatahn Melawan Hukum (PMH) bila investasi melalaikan due diligence. Apalagi kelalaian itu berujung wan prestasi alias debitur gagal bayar. *)