Cabuli 6 Anak di Alor, Calon Pendeta Ngaku Khilaf dan Minta Maaf

alor
ILUSTRASI PENDETA (SHUTTERSTOCK)

EXPONTT.COM – Calon pendeta atau vikaris tersangka kasus pencabulan terhadap enam anak di Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur meminta maaf dan mengaku khilaf atas perbuatannya.

SAS (35) menyampaikan permintaan maaf tersebut melalui kuasa hukumnya, Amos Lafu.

Menurut Amos, SAS menyampaikan permohonan maaf secara tertulis kepada Sinode Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) telah mencoreng nama baik GMIT dengan tindakan tak terpuji saat bertugas sebagai vikaris di Kabupaten Alor.

Baca juga: Belum Genap Sebulan, Kinerja Penjabat Wali Kota Kupang Dipuji Banyak Warga

“Klien kami secara jujur telah menyesali segala kekhilafan yang dibuat. Oleh karena itu, permintaan maaf yang tulus disampaikan kepada korban bersama orangtua dan keluarga, bersama keluarga besar GMIT,” jelas Amos dikutip dari Tribuana Pos, Rabu 7 September 2022.

SAS yang juga terdaftar sebagai aktivis GMKI (Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia) Cabang Kupang, menyampaikan permohonan maafnya kepada organisasi tersebut.

“Klien saya juga meminta maaf secara tertulis kepada semua organisasi masyarakat dan organisasi kepemudaan Kristen dan semua masyarakat NTT,” ucap Amos, dikutip dari Kompas.com.

Saat ini, menurut Amos, SAS telah ditahan di Markas Kepolisian Alor sejak Senin 5 September 2022 malam. Ia ditahan setelah menjalani serangkaian pemeriksaan sebagai tersangka.

Baca juga: Kronologi 3 Pelajar SMA di Kota Kupang Curi Sepeda Motor, Ada Uang di Bawah Jok yang Digunakan Tersangka

“Tersangka SAS sangat koorperatif saat diperiksa oleh penyidik,” tambahnya.

Ketua Majelis Sinode GMIT Pendeta Mery LY Kolimon mengaku, pihaknya telah menerima laporan terkait dugaan kekerasan seksual yang dilakukan SAS sejak dua bulan lalu.

“Setelah mendapat laporan dari jemaat, kami menangguhkan penahbisan yang bersangkutan ke dalam jabatan pendeta, untuk penyelidikan mengenai kebenaran berita yang diterima,” ujar Mery dalam keterangan tertulis yang diterima, Selasa (6/9/2022) petang.

Baca juga: Curi Motor, 3 Pelajar SMA di Kota Kupang Ditangkap Polisi

Pihaknya juga, sudah berkoordinasi dengan Ketua Majelis Klasis (KMK) Alor untuk penanganan kasus itu.

Mery mengatakan, pihaknya mendukung proses hukum kasus tersebut dan memperhatikan pentingnya perlindungan psikologis bagi para korban.

Sebelumnya diberitakan, SAS (35), calon pendeta atau vikaris asal Kecamatan Oebobo, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), dilaporkan ke Kepolisian Resor (Polres) Alor.

Dia dilaporkan ke polisi karena diduga kuat mencabuli enam orang anak di bawah umur yang masih duduk di bangku SMP dan SMA di Kabupaten Alor.

“Kami sudah terima laporkan kasus persetubuhan terhadap anak di bawah umur, yang dilaporkan oleh salah satu orangtua korban berinisial AML asal Kecamatan Alor Tengah Utara, Alor,” ujar Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Polres Alor Iptu Yames Jems Mbau, kepada Kompas.com, Sabtu (3/9/2022) malam.

Kasus pencabulan itu, lanjut Jems, terjadi sekitar akhir Bulan Mei 2021 hingga akhir Bulan Maret 2022, saat pelaku bertugas di salah satu gereja di Alor. (*/Kompas.com)