Masinton Pasaribu: “Sangat Buruk Kinerja OJK Bidang Pengawasan Perbankan Khusus Bank NTT”

EXPONTT.COM – Masinton Pasaribu Anggota DPR RI Komisi IX, menyatakan bahwa kinerja Bidang Pengawasan Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sangat Buruk, hal ini seharusnya merupakan Tamparan Keras bagi Dian Ediana Rae, Kepala Eksekutuif  Pengawasan Perbankan OJK Dian Ediana Rae.

Seperti diwartakan portal mapikornews.com,  kinerja Bidang Pengawasan OJK dinilai sangat buruk oleh Masinton Pasaribu, Komisi IX anggota DPR RI, dalam cuitannya yang diviralkan pada laman media social TikTok, seperti inilah cuitannya Masinton, “dihadapan wakil rakyat, rakyat mengadu dihadapan bapak-bapak cuek, itulah gambaran kelembagaan bapak, diberikan kewenagan bapak bapak mengabaikan rakyat, rakyat itu adalah hukum tertinggi, biar bapak mengerti , bapak bapak ini digaji dengan uang rakyat, dihadapan kami bapak memperlakukan rakyat seperti itu, saya mendengar tadi keluhan keluhan ini, pantesan aduan aduan rakyat seluruh Indonesia, nasabah kepada OJK, semua tidak tertangani karena inilah gambaran sesungguhnya, disepan forum ini bapak bapak mempertontonkan bagaimana pelayanan OJK sesusungguhnya kepada publik.

Dian Ediana Rae (Kepala Eksekutif Pengawasan Perbankan OJK) Hasil temuan LSM-IIK telah dijelaskan dengan jelas sejelas jelasnya, berikut angka angka yang direkayasa, hal ini dituangkan baik dalam surat konfirmasi untuk meminta klarifikasi Bank NTT maupun laporan kepada pihak pengawasan perbankan OJK, melalui surat nomor: 041/Konf-Klaf/IKK/ DPP/X/2022, tertanggal 11 November 2020, perihal temuan adanya Rekayasa/Penyimpangan Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) Laporan Keuangan Bank NTT tahun buku 2020 sehingga rugikan negara sebesar Rp.44.360.851.139,- (Empat puluh empat milliar tiga ratus enam puluh juta delapan ratus lima puluh satu ribu seratus tiga puluh sembilan rupiah) oleh tim Audit LSM-IIK, akan tetapi sampai saat ini tidak ada tanggapan apapun dari pihak OJK.
Laporan terkait adanya Penyimpangan/Rekayasa Laporan Keuangan Bank NTT ini seharusnya jadi prioritas pihak Pengawasan Perbankan OJK untuk disikapi dan ditindaklanjuti, sebab hal ini merupakan perbuatan Melanggar Hukum (Korupsi Terselubung)  disebut terselubung karena secara kasap mata hal ini hanya diketahui oleh orang yang memang memiliki keahlian dalam bidang Akuntansi.
Akibat buruknya kinerja Pengawasan Perbankan OJK, sebagaimana kata Masinton, sehingga aduan masyarakat tidak tertangani memang itulah gambaran dari kinerja bidang pengawasan OJK, terkait buruknya kinerja pengawasan perbankan OJK seharusnya menjadi tanggung jawab Dian Ediana Rae sebagai Kepala Eksekutif Pengawasan Perbankan OJK, oleh sebab itu LSM Indonesia Investigasi Korupsi (IIK) berharap Pemerintah secara rutin melakukan evaluasi para pejabat yang sering mengabaikan tugas dan fungsinya.

Seharusnya Pengawasan Perbankan OJK memberikan perhatian khusus kepada LSM-IIK yang telah membantu mereka untuk ikut mengawasi hasil Audit keuangan yang terindakasi melakukan Rekayasa/Penyimpangan seperti laporan yang diterima dari tim Auditor LSM-IIK, bahwa temuan adanya Penyimpangan/Rekayasa Laporan Keuangan Bank NTT, justeru ditemukan dari hasil Audited Bank NTT 2020 yang telah ditandatangani diatas Materai oleh Direktur Utama Alexander dan Direktur Keuangan Johanes, yang menyatakan bertanggung jawab atas hasil audited tersebut,
LSM_IIK bidang Auditor kemudian  melakukan analisa secara komprehensip dan menguji  kebenaran atas Laporan Keuangan tersebut dari hasil Analisa (uji Kebenaran) ditemukan adanya perbedaan yang kami sebut sebagai “Penyimpangan/Rekayasa” pada laporan keuangan tersebut sebesar Rp.44.360.851.139,- (Empat puluh empat milliar tiga ratus enam puluh juta delapan ratus lima puluh satu ribu seratus tiga puluh sembilan rupiah) 

Dari hasil analisa audit yang dilakukan, menunjukkan adanya  “Penyimpangan / Rekayasa” yang terjadi pada pos-pos sebagai berikut :

a). Selisih Penyajian Cadangan Penurunan Nilai sebesar Rp. 9.350.388.517,-Selisih ini terjadi dikarenakan pada Laporan Laba Rugi dibebankan sebagai biaya, akan tetapi lawan rekening pos tesebut tidak ada atau apabila diklasifikasi ke Cadangan Kerugian Penurunan Nilai Kredit Yang Diberikan maka tetap terjadi selisih sebesar tersebut diatas.

b).Berkenaan dengan selisih (penyimpangan) laporan keuangan tersebut diatas, terdapat selisih kas dan setara kas sebesar Rp. 44.360.851.139,- (Empat puluh empat milliar tiga ratus enam puluh juta delapan ratus lima puluh satu ribu seratus tiga puluh sembilan rupiah)
Selisih kas dan setara kas dikarenakan terjadi perbedaan antara Saldo Kas dan Setara Kas yang disajikan di Neraca dengan Saldo Kas dan Setara Kas yang disajikan pada Laporan Arus Kas, selisih tersebut terdapat pada :
Penempatan Pada Bank Indonesia Dan  Bank  Lain
Selisih Saldo Kas Setara Kas
Disajikan di Neraca                             Rp. 931.200.431.083,-
Disajikan pada Laporan Arus Kas      Rp. 887.000.000.000,-
Selisih ( Disajikan pada Laporan Arus Kas Lebih Kecil) Rp. 44.200.431.083,-
Selisih Saldo Akhir Kas Setara Kas
Disajikan di Neraca                             Rp. 1.259.839.579.944,-
Disajikan pada Laporan Arus Kas      Rp. 1.260.000.000.000,-
Selisih ( Disajikan pada Laporan Arus Kas Lebih Besar)
Rp.  60.420.056,- Total Selisih     Rp.44.360.851.139.- . ♦ wjr