Frans Aba, Gubernur NTT 2024 Disambut Masyarakat Adat Ngada

EXPONTT. COM – Frans Aba, Gubernur NTT 2024 disambut meriah dan sukacita masyarakat adat Ngada. Selain diterima secara adat dalam ritus Kago Mae di Bajawa di rumah Gotong Royong Ngadha yang berlokasi di Jalan Wakomenge, Kompleks Puskesmas Kota, Kelurahan Jawameze, Kecamatan Bajawa Kabupaten Ngada. Adapun ritus Kagi Mae merupakan ungkapan syukur yang umumnya dibuat bagi seseorang yang selamat dari suatu kejadian dan agar tidak tertimpa hal-hal buruk atau jahat lainnya di kemudian hari, atau juga ungkapan syukur bagi anggota keluarga yg sudah lama sekali tidak pulang dan dianggap tidak akan pulang selamanya ke kampung tapi sesewaktu pulang. Dalam konteks penerimaan tadi, Frans Aba dilihat sebagai anggota keluarga yang diterima ke dalam rumah asal.

Mewakili tokoh masyarakat setempat, Pak Nor Lobo, seorang tetua suku dalam lingkaran Nua Lima Zua (Tujuh Kampung), menyampaikan bahwa “Di hadapan kita, ada bapa Frans Aba yang hadir sebagai keluarga. Karena itu kami sekeluarga dan satu rumpun yang mewakili Ngadha, siap menjadi lilin-lilin kecil yang mendoakan dan mendukung motivasi Pak Frans jadi gubernur. Apalagi muda energik, berpengalaman, karismatik. kurang apa lagi”, Ungkap Pak Nor Lobo.

Dalam sambutan yang sama yang dihadiri banyak masyarakat dari berbagai lapisan dan golongan, seprti ibu-ibu rumah tangga, kaum milenial, para janda dan tetua adat setempat Pak Nor menambahkan bahwa:

“Berdasarkan sebaran gagasan yang Pak Frans sosialisasikan beberapa waktu terakhir, kami berpikir bahwa sudah saatnya Pak Frans jadi pemimpin kami. Jangan sampai NTT dipimpin oleh orang-orang yang sama saja. Beda nama tapi berbuat yang sama saja. Persoalan di Besipae misalnya jadi bukti, banyak yang masih menderita, dan tak sedikit yang menangis. Saya lihat Pak Frans punya aura, semangat, dan terutama gagasan yang berbeda tetapi tegas dan jelas. Tidak punya utang politik atau bukan boneka orang-orang tertentu. Kalau yang lain itu mentalnya seperti pepatah bahasa adat kami _Mali nga mange nenga we’e, Mali nga boo nenga gholo_ yang artinya kalau lapar mulai mendekat, tapi kalau sudah kenyang akan menghilang atau mundur perlahan. Sedangkan Pak Frans itu berbeda. Pak Frans datang justru di saat kami lagi haus dan lapar akan pemimpin benar-benar peduli kepentingan kami, kepentingan orang-orang kecil. “

Dalam situasi yang sama, seorang yang mewakili tokoh laki-laki bernama Baldus Keo meluapkan perasaanya, bahwa “Hari ini beliau hadir langsung di rumah. Bukan di ballroom hotel. Pak Frans hadir langsung sebagai pemimpin yang mengidentifikasi dirinya sebagai keluarga semua masyarakat. Kami hadir ini tentu meninggalkan banyak tugas dan kesibukan. Itu semua demi Pak Frans Aba. Kami hadir berarti kami dukung.”

Setelah disambut Pak Frans kemudian diberi kesempatan untuk berbicara dan mempertegas gagasan politik pembangunannya, mulai dari cerita pengalamannya sebagai tokoh penting yang mengadvokasi korban Human Trafficking Nirmala Bonat, sampai kepada keprihatinannya terhadap regulasi daerah yang mengabaikan eksistensi UMKM.

“Waktu masih di Malaysia, saya pernah terlibat serius dalam usaha advokatif bagi Nirmala Bonat. Kalau waktu itu saya tidak terlibat dan membantu Paul Liyanto, bisa-bisa dia dideportasi dan Nirmala Bonat tidak bisa kita selamatkan. Tapi nama saya memang tidak terpublish karena status saya sebagai mahasiswa cukup rentan. Dulu saya hampir tiap hari ke bandara hanya untuk melihat situasi, jangan sampai ada TKI kita yang butuh bantuan. “

Dalam konteks dukungan terhadap UMKM lokal Frans dengan tegas menyatakan keprihatinannya terhadap kehadiran beberapa central pembelanjaan seperti minimarket kapital yang makin menjamur. “Kita harusnya menolak kehadiran minimarket seperti Indomaret atau Alfamart, dengan regulasi yang tepat dan jelas. Mereka ini kuasai bisnis mulai dari produksi, distribusi, sampai retail. Kalau makin banyak, ya mati usaha kios-kios masyarakat kita. Uang Kita dibawa keluar semua. Itu dari soal UMKM. Lain lagi soal maksimalisasi potensi sektor pertanian terutama terkait produksi kopi yang berkualitas. Ini perlu didukung penuh oleh pemerinta, bukan hanya dari tahap awal di kebun, tapi harusnya sampai juga kepada membangun _branding_. Jangan sampai ada pengusaha di pusat misalnya yang bikin kedai kopi atau menjual kopi kemasan dengan nama Bajawa tapi bisa saja bukan kopi dari bajawa, pemiliknya juga bukan dari bajawa, pekerja dan keuntungannya juga bukan untuk orang Bajawa. Bahaya ini” Ungkap Frans secara tegas.

Setelah menutup pemaparan terkait konstruksi gagasan ekonomi pembangunan di NTT, seorang Ibu rumah tangga, Mama Maria Adelheid Moi yang hadir menyampaikan bahwa, “kami ini perempuan yang hanya bisa bekerja dan berdoa. Kehadiran Pak Frans seperti doa yang terkabul. Kami akan terus doa biar bapa tetap hadir, apalagi hadir sebagai Gubernur kami. ” ♦ wjr