Oleh : Eddy Ngganggus
SESUAI Laporan Neraca dan Laba Rugi serta informasi tambahan bank NTT lainnya yang di sampaikan pada laporan publikasi posisi bulan Juni 2023 tampak kinerja bank NTT mendapatkan beberapa tekanan di antaranya menurunnya laba, yang mencapai 31,62% dari laba 3 tahun lalu, sementara kredit bertumbuh 17,12% sejak Juni 2020, di sisi kredit terjadi peningkatan tunggakan kredit sebesar 10,58% jika dibandingkan dengan Juni 2020, keadaanya diperberat lagi karena bertambahnya komposisi dana mahal pada Dana Pihak Ketiga.
Berikut kami rangkum kinerja keuangan bulan Juni 2023 yang di sandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, seperti yang tercantum dalam tabel di bawah ini.
Mari kita bandingkan kinerja bank NTT 3 tahun lalu yakni bulan Juni tahun 2020 terhadap Kinerja bulan Juni tahun 2023.
1. Laba.
Laba bulan Juni tahun 2023 mengalami penurunan sebesar 31,62% atau berkurang Rp 35 miliar 894 juta rupiah di bandingan dengan perolehan laba pada bulan Juni tahun 2020. Jika laba 3 tahun lalu yakni Juni 2020 bank NTT berhasil meraup laba sebesar Rp 113 miliar 534 juta, tetapi pada bulan Juni 2023 bank NTT hanya mampu meraup laba sebesar Rp 77 miliar 640 juta.
2. Kredit
Berbeda dengan laba, kredit bank NTT mengalami pertumbuhan dari Juni 2020 ke Juni 2023 sebesar 17, 12% atau sebanyak Rp 1 triliun 752 miliar 840 juta rupiah, dari Rp 10 triliun 237 miliar 817 juta rupiah menjadi Rp 11 triliun 990 miliar 657 juta rupiah. Namun ironisnya di saat kredit bertumbuh 17,12%, laba bank malah turun sebesar 31,62%.
3. Kredit bermasalah atau NPL (Non Performing Loan)
Jumlah kredit bermasalah sejak Juni 2020 mengalami peningkatan cukup besar yakni sebesar 10,58% atau sebesar Rp 44 miliar 538 juta rupiah. Dari Rp 421 miliar 125 juta rupiah pada Juni 2020 menjadi Rp 465 Miliar 663 juta rupiah pada Juni 2023. Rasio NPL dari 4,11% pada Juni 2020 menjadi 3,88% pada Juni 2023. Tampak penurunan rasio NPL bukan lantaran hasil dari penagihan kredit bermasalah, atau hasil dari kesanggupan bNTT menekan pertumbuhan kredit bermasalah namun lantaran ada pertumbuhan ekspansi kredit. Hal ini terkonfirmasi oleh adanya kenaikan nominal kredit bermasalah sebesar Rp 44 Miliar 538 juta rupiah itu tadi.
4. Dana Pihak Ketiga (DPK)
Dana Pihak Ketiga (DPK) yang dimaksud adalah Tabungan, Deposito dan Giro. DPK Juni 2023 mengalami pertumbuhan negatif atau berkurang 4,91% atau sebesar Rp 625 miliar 811 juta dari DPK Juni 2020. Jika pada Juni 2020 bank NTT bisa menghimpun DPK sebesar Rp 12 triliun 742 miliar 613 juta, menjadi Rp 12 triliun 116 miliar 802 juta pada Juni 2023. Tekanan DPK bukan saja karena pertumbuhan negatif tetapi juga komposisi dana mahal menjadi lebih besar di Juni 2023 dibandingkan dengan Juni 2020. Dana mahal yang dimaksud adalah deposito. Jika pada Juni 2020 komposisi Deposito hanya 37% dari jumlah DPK , namun pada Juni 2023 komposisi deposito menjadi 53% dari jumlah DPK. Tentu ini sangat berdampak pada tingginya cost of fund (biaya dana) yang harus di bayarkan bank kepada pemilik dana.
5. Rasio-rasio Keuangan
Perbandingan rasio keuangan Juni 2020 terhadap Juni 2020
Tampak dari tabel rasio keuangan di atas ,rasio NPL gross atau kredit bermasalah mengalami penurunan sebesar 0,23 point, namun seperti penjelasan saya pada point 3 di atas penurunan tersebut bukan lantaran adanya perbaikan pada kualitas penagihan kredit atau bank NTT berhasil menekan jumlah kredit bermasalah namun hal ini lebih disebabkan oleh karena besarnya ekspansi atau pemberian kredit baru yang dilakukan oleh bank NTT. Berikut ROA (Return On Asset) yang menggambarkan tingkat kemampuan asset memberikan pendapatan bank mengalami penurunan, sebesar 0,92 point hal ini bermakna, kesanggupan bNTT menggunakan assetnya untuk menghasilkan pendapatan mengalami tekanan.
LDR (Loan to Deposit Ratio) yakni perbandingan kredit yang diberikan terhadap DPK mengalami peningkatan cukup besar yakni 18,62 point. Besaran LDR bulan Juni 2023 yang hampir mencapai 100% berindikasi kurang sehat karena kesimbangan dalam meghimpun dana dan menyalurkan mesti di jaga pada tingkat yang ideal di rasio 75% hingga maksimla 85% (merujuk pada SE BI nomor 13/24/DPNP thn. 2011). Catatan tambahan untuk menjelasakan makna LDR yang mencapai 98,96% di Juni 2023 ini, artinya dari setiap simpanan oleh penyimpan terdapat sebanyak 98,96% yang di salurkan oleh bank dalam bentuk kredit kepada para debitur atau dengan kata lain dana penyimpan yang tersimpan di bank hanya tersisa 1,04% (yakni hasil pengurangan 100% – 98,96% = 1,04%) saja yang masih tersimpan di bank. Dari 98,96% yang di gunakan oleh debitur terdapat risiko tidak tertagih sebesar 3,88%. Dari mana 3,88% ini ? ini berasal dari besarnya rasio NPL atau kredit yang bermasalah atau yang tertanam dalam kredit bermasalah. Sebagaimana di ketahui dari penjelasan point 3 diatas rasio NPL bank NTT pada Juni 2023 adalah 3,88%.
Selanjutnya BOPO (Biaya Operasional per Pendapatan Operasional) yakni tingkat efisiensi bank menggunakan pendapatan operasional untuk membiayai operasional bank. Di Juni 2023 bank NTT menjadi lebih boros dalam membiayakan pendapatannya dari sebelumnya 84,74% menjadi 92,05 % atau naik 7,31 point. Terakhir NIM (Net Interset Margin) berada dalam kisaran sehat. Namun apa gunanya NIM sehat bila laba menurun ?
6. Kesimpulan,
Selama 3 tahun terakhir yakni Juni 2020 hingga Juni 2023 ;
(a) Kredit mengalami pertumbuhan sebesar 17,12%, namun laba mengalami penurunan sebesar Rp 31,62%
(b) DPK mengalami penurunan sebesar 4,91%, tekanan tersebut diperberat lagi dengan terjadinya peningkatan komposisi dana mahal berupa Deposito mengalami kenaikan 34,65%, komposisi dana murah yakni Giro malah menurun sebesar 53,68 % dan tabungan mengalami kenaikan sebesar 3,04%.
(c) Nominal kredit bermasalah mengalami kenaikan sebesar 10,58%
(d) Akibat dari kondisi a, b dan c di atas maka menjadi jelas mengapa laba bank NTT 3 tahun lalu yakni Juni 2020 jauh lebih besar dari perolehan laba Juni tahun 2023 ini. Juni 2023 bank NTT hanya mampu mencapai laba 68,38% dari perolehan laba Juni 2020, tiga tahun yang lalu.♦