Untuk Menggenapi Modal Inti Rp 3 Triliun Desember 2024, Pengurus Bank NTT Harus Menempuh Langkah “Go Public Dan Jangan Harap KUB”

Daniel Tagu Dedo

♦ Saham Seri B Harus Dijual Kepada Pemegang Saham Seri A

 

 

EXPONTT.COM – Mantan Dirut Bank NTT, Daniel Tagu Dedo selain menyerukan agar rakyat NTT tidak panik masalah dana Rp 641 Miliar untuk menggenapi modal inti Rp 3 Trliun pada 31 Desember 2024 juga menyarankan agar pengurus Bank NTT segera mengambil langkah bijak. “Langkah bijak ialah Bank NTT harus go pulic melakukan penawaran saham ke masyarakat Indonesia, NTT pada khususnya melalui pesetujuan Bursa Efek Indonesia (BEI). Misalnya Bank NTT menjual sahamnya 10 milyar lembar dengan harga jual selembarnya Rp 100.000 pasti banyak masyarakat Indonesia yang beli dan bisa dapat dalam beberapa bulan Rp 1 triliun. Sehingga paling lama enam bulan, modal inti sudah didapat. Go public langkah paling tepat. Beberapa tahun lalu Alek Riwu Kaho selaku Dirut sudah lakukan dan dapat Rp 2 trliun,” saran Dan Tagu Dedo agar pada RUPS yang rencana digelar awal Mei 2024 bisa menyetujui rencana Bank NTT go public.
Langkah yang ditempuh mengajak kerjasama KUB misalnya dengan Bank DKI jangan terlalu diharapkan karena apakah Penjabat Gubernur DKI ataupun Penjabat Gubernur NTT setuju. Karena semua melalui persetujuan RUPS. “Penjabat gubernur baik DKI maupun NTT dipastikan konsentrasi ke Pilgub, bupati atau walikota. Jadi mengharapkan agar Bank DKI bisa menyertakan modalnya ke Bank NTT yang tentu saja dengan persyaratan yang ketat agar berat terwujud.
Kedua kemungkinan Bank DKI dipastikan kurang setuju di Bank NTT ada pemegang Saham Seri B. Dan ketiga, seperti yang sudah saya jelaskan, menggandeng investor yang bermodal.Dan para investor ada, saya bisa ajak, asal RUPS setuju. Saatnya pengurus Bank NTT segera koordinasi dengan OJK biar persoalan tidak berlama-lama sehingga diselesaikan dengan baik,” saran Dan Tagu Dedo.
Langkah go public” atau “Initial Public Offering (IPO)”menurut Dan Tagu Dedo berpeluang Bank NTT bermain di bursa efek Jakarta (BEI) memiliki kesempatan untuk menjadi perusahaan terbuka dengan menawarkan dan menjual sebagian sahamnya kepada publik, sehingga membuka peluang bagi masyarakat untuk memiliki perusahaan tersebut (menanamkan modal) dan mencatatkan sahamnya di PT BEI atau disebut sebagai “Bursa”.

Sekiranya Bank NTT go public akan ada angin segar memperoleh sumber pendanaan baru sebagai sarana pendanaan jangka panjang
Setelah go public Bank NTT akan mendapatkan permodalan tambahan dari saham yang dijual. Modal tersebut dapat digunakan untuk membiayai pertumbuhan Bank NTT seperti membayar utang dan lain-lain.
Dampak lain sekiranya Bank NTT go public akan meningkatkan nilai perusahaan (Company Value)
Dengan menjadi perusahaan publik yang sahamnya diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia, setiap saat publik dapat memperoleh valuasi terhadap nilai perusahaan dan dipastikan meningkat citra Bank NTT. Dengan demikian Bank NTT akan tumbuh rasa.
Dengan Bank NTT go public, kemampuan perusahaan untuk dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya akan jauh lebih baik dibandingkan dengan bank tertutup. Dengan menjadi perusahaan publik, berbagai kendala dan permasalahan yang dihadapi perusahaan untuk bertahan dan berkembang tidak lagi semata hanya menjadi persoalan pendiri perusahaan tetapi juga menjadi permasalahan banyak pihak yang menjadi pemegang saham perusahaan.
“Saya siap membawa investor bermodal besar lebih dari Rp 1 Triliun. Sekali lagi orang NTT selaku pemilik Bank NTT jangan kuatir. Bank NTT akan aman-aman saja,” imbau Daniel Tagu Dedo dalam obrolan dengan expontt.com Senin 22 April 2023.
Dalam warta pekan lalu Daniel Tagu Dedo, mantan Dirut Bank NTT menegaskan,” Kita orang NTT tidak perlu kuair dengan gonjang ganjing dengan pemberitaan media cetak maupun online bahwa Bank NTT bisa diturunkan statusnya menjadi Bank Perkreditan Rayak ataun BPR kalau tidak mampu mencari uang sebanyak Rp 641 Miliar untuk menggenapi modal inti Rp 3 Triliun.
Masih ada waktu sampai 31 Desember 2024. Sisa waktu pemerintah NTT selaku pemegang saham pengendali, para bupati, walikota dipastikan bisa mencari jalan keluiar sehingga bisa tercapai modal inti Rp 3 Triliuan. Saya bisa ajak teman investor menyertakan modalnya di Bank NTT lebih dari Rp 1 Triliaun. Atau Bank NTT bisa menjual obligasi senilai Rp 1,5 triliun. Atau pengurus Bank NTT ke pemegang saham pengendali untuk menutup sebagian dari deviden misalnya senilai Rp 200 iliar.
Saya siap memenuhi undangan PSP untuk berunding soal ini. Jadi PSP bisa mengajukan ke OJK minta relaksasi untuk tegang waktu sekian bulan atau sekian tahun, atau dengan cara menjuial saham Seri B. Waktu saya dulu James Riyadi pernah ingin menyertakan modalnya ke Bank NTT lebih dari Rp 1 trilin. Jadi yang terpenting melalui keputusan RUPS sehingga langkah-langkah bisa dicapai. Usia Bank NTT sudah lebih dari 60 tahun, jadi malu kita orang NTT terlebih para pengurus dan penjasa atau yang pernah pimpin Bank NTT menutup mata. Jalan terbuka lebar yang terpenting mau berkomunikasi dengan baik,” saran Daniel Tagu Dedo.
Nama Daniel Tagu Dedo tidak asing lagi bagi masyarakat NTT. Selain mantan Dirut Bank NTT, namanya sudah membumi di seantero NTT. Ketika mendaftarkan diri sebagai bakal calon (balon) Gubernur NTT beberapa tahun silam. Selama ini Daniel Tagu Dedo bergelut di perbankan. Tampuk pimpinan tertinggi sebagai Direktur Utama (Dirut) Bank NTT yang membawa bank milik pemerintah Provinsi NTT itu terkenal di kancah keuangan dan perbankan Indonesia. Jadi reputasi seorang Daniel Tagu Dedo dalam menyelesaikan “kemelut kecil” yang sedang melanda Bank NTT dengan masalah hanya uang Rp 641 miliar adalah hal kecil.
Bahkan Amos Corputy, yang juga mantan Dirut Bank NTT dan berjasa menyelamatkan Bank NTT tahun 1998 bersama Almarhum Gubernur NTT Piet A. Tallo, Almarhum Ovi Wilahuky serta anggoara DPRD NTT dari PDIP Yani Mboek menegaskan, ”Saya yang berjuang sejak dari awal membangun Bank NTT tidak sudi status bank ini turun statusnya menjadi Bank Perkreditan Rayat atau BPR. Kita dan sejumlah tokoh yang disebutkan diatas sudah berjuang dengan keringat dan airmata, dan ketika bank ini sudah maju, punya gedung lima lantai yang saya bangun walau dicaci maki dan dikritik anggota dewan, saya tidak surut niat sampai akhir jadi dan gedungnya berdiri tegak, membanggakan rakyat NTT. Kehadiran Bank NTT saat ini sudah sejajar dengan BPD lain di Indonesia. Masa statusnya diturunkan. Pasti ada jalan, Tuhan pasti kabulkan doa rakyat NTT,” jelas Amos Corputy kepada expontt.com Sabtu 20 April 2024.
Mewujudkan niat dan ketulusan hatinya menyelamatkan Bank NTT, Amos Corputy minggu depan berencana bertamu ke Penjabat Gubernur NTT untuk memohon ijin saya menemui sejumlah rekan sesama banker BPD yang tergabung dalam KUB.
Katanya, ”Ada beberapa yang pernah terlibat dalam MoU dan tinggal perjanjian kerjasama tetatpi sudah lewat waktu. Dengan momen ini, saya ingin membangun komuniasi lagi dan pasti bisa. Yang terpenting Bapak Penjabat Gubernur NTT merestui saya siap laksanakan. Langkah pertama tentu KUB dan sejumlah investor. Ya cara dengan menjual saham Seri B kepada masyarakat juga efektif, tetapi lama. Satu-satunya cara yang cepat ialah KUB seperti Bank DKI”.
Seperti sudah diwartakan, mantan Dirut Bank NTT Amos Corputy kepada expontt.com Selasa 16 April 2024 menyatakan, ”Saya siap jiwa dan raga untuk menyelamatkan Bank NTT agar tidak turun stastus menjadi Bank Perkreditan Rakyat atau BPR jika tidak memenuhi modal inti Rp 3 Triliun pada Desember 2024. Saya sebagai pemegang sahan Seri B punya hak untuk ikut berjuang hingga tetes darah saya terakhir demi menyelamatkan Bank NTT. Dalam perjuangan menyelematkan Bank NTT saya cukup koordinasi dengan para pemegang saham pengendali dan pemegang saham Seri A yaitu para bupati dan walikota.
Sekali lagi, saya nyatakan siap memfasilitasi baik dengan KUB atau bank lain dan atau pihak investor. Perjuangan ini tidak butul keterlibatan direksi atau komisaris. Bank milik rakyat NTT tidak bersih karena ulang para pengurus mulai dari komisaris dan direksi. Itu sebabnya pada bulan April ini, saya ingin konsultasi atau diskusi ringan dengan Bapak Penjabat Gubernur NTT sehingga persoalan yang kusut di Ban NTT ulag para pengurus yang tidak becus bisa segera pulih dan masyarakat NTT bisa percaya lagi kepada Bank NTT.”
Bahkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), sangat menyangkan jika hanya karena tidak mampu memenuhi ketentuan Modal Inti Minum (MIM) sebesar Rp3 triliun, Bank NTT harus terkena sanksi dan turun kelas menjadi Bank Perkreditan Rakyat (BPR).
Karena faktanya, seperti diwartakan Victorynews.id, Bank NTT adalah salah satu unit Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang kiprahnya selama ini mampu memberikan kontribusi positif dalam pembangunan, pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat NTT.
Untuk itu, OJK NTT dengan segala upaya akan memberikan dukungan optimal kepada pemegang saham, jajaran Direksi, komisaris, serta para pemangku kepentingan (stakeholders) agar Bank NTT tetap eksis dan tetap menjadi bank kebanggaan seluruh rakyat NTT. ♦ wjr